Krakatau Steel Gandeng UIN Banten dan PUWNTEN Gelar FGD Sejarah Banten dan Demak

79

Serang, SatuBanten – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten bekerjasama dengan Krajatau Steel (KS) dan Paguyuban Warga Banten (Puwnten) mengulas hubungan sejarah Banten dan Demak pada abad 16-17 di Aula Rektorat UIN, Senin 30 Oktober 2023.

Sejarawan UIN Banten, Mufti Ali pada kegiatan Focused Group Discussion (FGD) tersebut membuka tabir “Hubungan Sejarah Banten dan Demak pada Abad 16-17”.

Mufti Ali menjelaskan, dalam mengulas bahasan topik tersebut tidak hanya mempelajari sejarah an sich maupun kesadaran publik semata, melainkan juga terdapat pesan pelajaran moral.

“Kita tidak hanya mempelajari sejarah saja, tapi banyak pelajaran moral yang dapat kita ambil dari sini. Misalnya sikap-sikap seperti kita harus kembalikan kejayaan perdagangan pada abad itu,” ujar Mufti Ali, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor I UIN SMH Banten.

Sementara itu, Purwono Widodo selaku Direktur Utama PT Krakatau Steel mengungkap pesan historis dari ulasan sejarah hubungan Banten dan Demak pada abad itu.

Menurut Purwono, pada masa itu, adanya pernikahan putri Sultan Trenggono (Nyi Ageng Ratu Kirana) dari Demak dengan Maulana Hassanuddin dari Banten menjadikan hubungan kekeluargaan Kesultanan Demak dan Kesultanan Banten bertambah erat.

“Banten dan Demak menyatu sebagai keluarga besar yang turun temurun hingga sekarang,” kata Purwono.

Antropolog UIN Banten, MA.Tihami menambahkan bahwa hubungan Demak-Banten telah terhubung sejak abad ke-16.

Kemudian diketahui orang-orang (pasukan) Demak bermigrasi dan menetap di Banten. Mereka tidak kembali ke Demak dan semakin menunjukkan perkawinan (fusi) dua kebudayaan tersebut.

“Boleh jadi perkawinan antara orang Demak dengan orang Banten memberikan keturunan yang membentuk “etnik” baru, orang Banten,” ujar Tihami.

Menurut Tihami, inilah yang dimaksud migrasi orang Demak. Baik secara fisik maupun kebudayaan.

“Secara fisik terjadi pelarutan yang memunculkan “etnik” baru, dan secara kebudayaan mengakibatkan terjadinya fusi kebudayaan, menjadi kebudayaan baru di Banten,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Banten, Prof Wawan Wahyuddin mengatakan, acara ini dilaksanakan atas kerja bareng beragam pihak.

“Kita menyambut baik kegiatan ini karena akan menjadi jembatan untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan industri. Karena ke depan kita siapkan Fakultas Adab dan Humaniora, serta teknologi,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Ir Agus Nizar Vidiansyah selaku Ketua PUWNTEN mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu cara menjalin beragam stake holder demi kemajuan Banten dan Indonesia yang berpijak pada akar sejarah bangsa.

“Kegiatan seperti ini perlu terus ditumbuhkan agar kampus bisa menjadi rujukan sejarah dengan dasar akademis sebagai rujukan masyarakat dan kalangan industri bisa berpartisipasi dalam kolaborasi bersama,” pungkasnya.

Kegiatan itu juga dihadiri Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Usep Abdul Matin, Arkeolog Universitas Tirtayasa (Untirta) Banten Moh Ali Fadillah, dan sejumlah peserta dari berbagai kalangan. (*)

Comments are closed.