Satubanten.com- Kegiatan Reboisasi Pulosari Lestari kembali menegaskan komitmen nyata dalam upaya pemulihan lingkungan melalui pendekatan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Program ini merupakan bagian dari Green Safety Initiative, yang berfokus pada penanaman pohon kayu keras endemik lokal Indonesia sebagai langkah strategis dalam mengembalikan keseimbangan ekosistem hutan.
Di tengah meningkatnya laju deforestasi, persoalan yang muncul tidak hanya sebatas hilangnya tutupan hutan, tetapi juga berkurangnya keanekaragaman hayati akibat praktik monokultur yang tidak terkendali. Kondisi ini berdampak pada melemahnya fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan.
Menjawab tantangan tersebut, pendekatan yang digunakan dalam program ini tidak lagi berorientasi pada jumlah pohon yang ditanam, melainkan pada keberagaman spesies yang sesuai dengan karakteristik ekologis kawasan Gunung Pulosari.
Konsep biodiversity-based reforestation menjadi landasan utama dalam upaya mengembalikan fungsi hutan sebagai habitat alami, sumber resapan air, serta sistem penyangga lingkungan.
Tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, kegiatan ini juga menempatkan edukasi sebagai pilar utama. Peserta yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa dibekali pemahaman mengenai pentingnya konservasi berbasis ekosistem, sehingga kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda simbolik, melainkan gerakan pembelajaran yang berdampak jangka panjang.
Green Safety Initiative sendiri merupakan program kerja sekaligus gagasan strategis dari Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia (AOPGI) Regional Banten yang mengintegrasikan berbagai aspek penting, meliputi pendidikan, rekreasi, prestasi, konservasi, dan eksplorasi. Melalui pendekatan ini, aktivitas pendakian dan kegiatan outdoor diarahkan menjadi media pembinaan karakter sekaligus sarana kampanye lingkungan hidup.
Empat aspek kurikulum AOPGI dijadikan sebagai fondasi dalam menjalankan program ini, yang dikemas melalui pendekatan berbasis hobi. Dengan demikian, proses edukasi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif melalui pengalaman langsung di lapangan.
Rangkaian kegiatan edukatif diawali dengan Coaching Clinic Keselamatan Pendakian yang mencakup materi etika pendakian serta manajemen risiko. Program ini telah berjalan sejak Januari 2026 dan dilaksanakan secara berkelanjutan dari sekolah ke sekolah.
Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk menekan angka kecelakaan dalam aktivitas pendakian dan outdoor, sekaligus meminimalisir dampak kerusakan lingkungan yang kerap terjadi akibat kurangnya pemahaman.
Program ini merupakan inisiatif AOPGI Banten yang mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pattiro Banten sebagai mitra strategis dalam penguatan gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Puncak kegiatan reboisasi yang dilaksanakan pada Minggu, 19 April 2026, diikuti oleh 1.160 peserta dari berbagai komunitas di Provinsi Banten. Keterlibatan lintas komunitas ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif terhadap pentingnya pelestarian lingkungan terus tumbuh di tengah masyarakat.
Koordinator Umum kegiatan, Daden Hilmansah, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga berperan aktif dalam menjaganya agar tercipta keseimbangan yang berkelanjutan.
Dukungan juga disampaikan oleh Kapolsek Pulosari Polres Pandeglang IPTU Yoffy Trinova, S.Pd., M.M., yang mewakili Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Polda Banten. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian mendukung penuh kegiatan konservasi yang diinisiasi oleh masyarakat, karena sejalan dengan kebijakan nasional serta menjadi perhatian pimpinan di tingkat daerah, disampaikan juga terkait harkamtibmas agar disetiap kegiatan yang melibatkan masyarakat yang cukup banyak agar kita saling menjaga selain menjaga lingkungan juga menjaga kondusifitas.
Sementara itu, penggagas program, Deni Ahmad Fanani, melalui sambungan telepon, menyampaikan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai kepedulian lingkungan dapat tertanam dalam diri peserta. Ia berharap kegiatan ini mampu melahirkan generasi penggerak yang akan melanjutkan estafet perjuangan pelestarian alam.
H. Jumroni, selaku pendukung sekaligus penyelenggara kegiatan, juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia mengungkapkan kebanggaannya dapat terlibat dalam gerakan yang dinilainya sebagai langkah progresif dalam membangun kesadaran lingkungan di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mencakup pembekalan teknis, pembagian zona tanam, serta sistem pemantauan pasca kegiatan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses reboisasi berjalan efektif dan memberikan dampak jangka panjang bagi ekosistem.
Lebih dari sekadar kegiatan lingkungan, Reboisasi Pulosari Lestari menjadi wadah kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam membangun gerakan bersama untuk menjaga alam. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi gerakan konservasi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, program ini menitikberatkan pada pembentukan kesadaran dan karakter generasi muda. Dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak dini, diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang tidak hanya cakap secara pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian alam untuk masa depan.(**)
Comments are closed.