Satu berita mengulas segalanya

Peneliti IPB Temukan Kembali Dua Satwa Langka Setelah Lama Tak Nampak di Kalimantan

41

Samarinda, – Peneliti dari IPB University kembali mencatat kemunculan dua satwa langka yang sebelumnya sempat menghilang selama bertahun-tahun, yaitu kucing merah Kalimantan (Catopuma badia) dan otter civet atau musang air.

Otter civet terakhir kali terpantau pada 2009 di hutan rawa gambut Sebangau dan kembali terekam pada 2023 di Bentang Alam Rungan–Kahayan. Kucing merah Kalimantan, spesies endemik yang tergolong langka secara internasional, terakhir kali terdokumentasi pada 2022 di Kalimantan Tengah.

Dr Dede Aulia Rahman, dosen dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi seperti penggunaan camera trap dan drone berperan besar dalam pendeteksian satwa-satwa ini, yang selama ini sulit terpantau secara langsung.

“Teknologi kamera trap dan drone sangat membantu dalam dokumentasi penelitian,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa perilaku pemalu, morfologi yang tersamarkan, distribusi yang tidak merata, dan rendahnya kepadatan populasi turut menyebabkan spesies langka ini jarang terdeteksi, terlebih ketika kegiatan monitoring masih terbatas.

Dalam kolaborasinya dengan University of British Columbia dan Borneo Orangutan Survival Foundation, tim Dr Dede bahkan menemukan variasi warna yang belum pernah tercatat sebelumnya pada kucing merah Kalimantan, yaitu abu-abu dan hitam, berbeda dari warna merah khas yang dikenal.

Temuan ini telah dipublikasikan di Cat News dan sedang diproses untuk jurnal internasional lainnya. Sebelumnya, kemunculan kembali satwa langka juga tercatat pada kelinci belang Sumatera (Nesolagus netscheri) yang kembali terdeteksi lewat camera trap pada tahun 1972, 1998, dan 2008–2010.

Menurut Dr Dede, pelestarian satwa langka tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah atau peneliti saja, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Ia menekankan bahwa konservasi terbaik adalah menjaga habitat asli satwa dan tumbuhan tersebut agar tidak rusak, diikuti dengan upaya konservasi eks-situ seperti penangkaran, sebagaimana dilakukan terhadap badak Sumatera. (***)

Comments are closed.