Tito Ingin Terus Berdampingan dengan Qur’an

28

Satubanten.com- Sahutan adzan Dzuhur menggema di antara perbukitan di Kampung Rukem, Purworejo. Tampak seorang remaja laki-laki keluar dari rumahnya, lengkap dengan peci, koko putih, dan sarung kotak-kotaknya.

Santri yang 2016 silam masih duduk di bangku 2 Sekolah Dasar, kini ia telah tumbuh besar dan duduk di bangku 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs). Ialah Tito Fitriansyah, ia tumbuh dewasa berbekal Al-Qur’an.

Santri remaja yang kerap disapa Tito ini tinggal di rumah yang berada di samping Mushola Miftahul Huda. Mushola tersebut menjadi saksi dirinya dalam menghabiskan waktu dengan Al-Qur’an dan belajar Islam.

Sejak usia 4 tahun, Tito sudah mulai aktif mengaji di Mushola Miftahul Huda. Setiap sore Tito menghabiskan waktunya untuk mengaji, mulai dari belajar iqro hingga kini Tito sudah bisa membaca Al-Qur’an.

“Ini baru sampai juz 15 mbak, masih kurang separo semoga bisa segera khatam,” tutur Tito menerangkan.

Rasa malas dan keinginan untuk tidak mengaji kadang timbul di benak Tito, tetapi karena ia selalu kembali bersemangat ketika diingatkan orang tua. “Dulu pas SD pernah sampai dimarahi bapak karena gak ngaji,” ucap Tito sambil senyum malu-malu.

Orang tua Tito ingin anak bungsunya ini paham ilmu agama, setelah lulus SD pun Tito melanjutkan sekolah di MTs. Besar harapan Tito menjadi lebih paham agama dan terjaga dengan Al-Qur’an. “Kalau di sekolah setiap pagi hafalan surah pilihan mbak, ini lagi hafalan Al-Waqi’ah,” sambung Tito menjelaskan. Setelah lulus dari MTs, Tito ingin melanjutkan sekolah di MA dengan harap bisa menghafal Al-Qur’an dan memperdalam ilmu agamanya.

Sore itu Tito celingukan mencari teman ngajinya. Sejak Ramadhan 1443 H lalu aktivitas mengaji terpaksa dihentikan. Mushola Miftahul Huda tengah melakukan renovasi dan pembangunan. Walaupun TPA sementara diliburkan, ia tetap membaca Al-Qur’an lembar demi lembar setiap harinya.

Saat ini ia tengah merampungkan juz 15 dan menjaga hafalan juz 30 miliknya. “Sekarang itu udah lupa-lupa mbak juz 30-nya karena lama banget gak ngaji,” keluh Tito.  Kegiatan sore yang harusnya mengaji kini Tito mengisinya dengan bermain voli bersama remaja seusianya. Ia rindu kembali mengaji dan menghafal Al-Qur’an lagi.

Tito lahir di tengah keluarga sederhana. Ayah dan ibu Tito bekerja dari pagi hingga sore. Ayahnya seorang buruh bangunan dan ibunya bekerja di pengepul rempah-rempah di desa seberang. Besar harapan orangtua agar Tito kelak sukses dan paham agama. Usia remaja Tito selalu diisi dengan hal-hal positif terutama belajar ilmu agama.

Tito tergabung dalam Remaja Masjid di Kampung Rukem. Ia juga tergabung di grup hadroh Kampung Rukem. “Kalau saya pegang terbang mbak biasanya, tapi baru tampil di acara desa gini,” ungkap Tito menjelaskan.

Hadiah alat tulis dan meja belajar dari PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta dan Beramaljariyah.org yang telah diterima ingin segera ia pakai untuk sekolah dan mengaji. Menunggu agar TPA segera dimulai. Kini kegiatan Tito berubah karena mushola yang masih terus renovasi dan pembangunan. Rindu Tito untuk segera bisa berkumpul mengaji dan latihan hadroh bersama. Besar harapan Tito di Bulan Ramadhan tahun ini bisa mengaji bersama lagi dan pembangunan dapat segera selesai.  (Sbs)

Comments are closed.