Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Melakukan Kegiatan “Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga Asli Baduy Untuk Pencegahan Stunting (2)”

130

Satubanten.com– Stunting merupakan kondisi tubuh pendek atau sangat pendek yang dilihat dari tinggi badan berdasarkan usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO karena kekurangan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang yang terjadi dalam 1000 HPK. Kondisi ini dapat menyebabkan hambatan perkembangan kognitif dan motorik hingga gangguan metabolisme.

Selain itu kondisi stunting juga memberikan dampak secara ekonomi menyebabkan kerugian setiap tahunnya sebesar 2-3% GDP. Berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,5% pada tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022. Untuk tahun 2024, Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan kondisi stunting menjadi sebesar 14%. Oleh sebab itu, diperlukan upaya-upaya dari segala pihak untuk mewujudkan target penurunan kondisi stunting tersebut di Indonesia.

Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) 2023 yang diketuai oleh Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si. melaksanakan kegiatan pengabdian dan pemberdayaan Masyarakat di Suku Baduy, di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten pada hari Sabtu (16/12/2023).

Pada kesempatan ini, kegiatan dihadiri oleh tim pengabdi yang terdiri dari Prof. Dr. apt. Retnosari Andrajati, M.Si; Ratika Rahmasari, M.Pharm.Sc., Apt., Ph.D., dan apt. Roshamur Cahyan Forestrania, M.Sc., Ph.D., beserta civitas akademika FFUI lainnya termasuk mahasiswa S2 hingga S3. Kegiatan yang dilakukan berupa penanaman hanjeli bersama dengan masyarakat suku Baduy yang dipandu oleh Dr. Fiky Yulianto Wicaksono, S.P., M.P. selaku dosen Agroteknologi Unpad. Kegiatan pengabdian masyarakat dihadiri oleh kurang lebih 40 warga, dengan antusias.

Tujuan kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat suku Baduy untuk menjaga ketahanan pangan mandiri sehingga kedepannya hasil panen yang diperoleh dapat digunakan untuk menghasilkan olahan pangan sehat sebagai upaya penanggulangan stunting.

Hanjeli merupakan salah satu serealia yang berpotensi menjadi bahan pangan alternatif, karena dapat tumbuh subur dengan cepat pada dataran tinggi atau dataran rendah di wilayah iklim tropis dengan curah hujan melimpah, dapat bertahan hidup pada tanah yang kurang subur hingga tanah kering, dan toleran terhadap suhu dingin, tanah asam, ataupun basa. Hanjeli berasal dari ordo Glumifora dan famili Poaceae, yang dikenal dengan sebutan jali atau jali-jali di Indonesia. Hanjeli sering ditemukan tumbuh liar di daerah payau, rawa, sepanjang sungai, daerah lahan basah, dan saluran air di pinggir jalan.

Biji Hanjeli

Potensi dari pemanfaatan pangan hanjeli yaitu sebagai campuran beras atau digunakan sendiri sebagai nasi hanjeli, sebagai campuran makanan serealia lain, seperti campuran havermut (oatmeal), bubur hanjeli peneman kolak dengan rasa manis seperti bubur kacang hijau, susu hanjeli, mie hanjeli, dan lain sebagainya. Hanjeli mengandung protein, lemak, kalsium, dan vitamin B1 yang lebih tinggi dibandingkan tanaman serealia lain. Selain sebagai sumber makanan pokok, hanjeli juga dapat digunakan sebagai obat. Hanjeli juga dipercaya dapat mengobati penyakit ginjal, hati, paru-paru, radang usus buntu, melancarkan buang air besar, rematik, dan diabetes.

 

Berdasarkan penuturan Pak Arif Kirdiyat selaku pengurus Yayasan Spirit Membangun Ukhuwah Islamiyah (YASMUI) yang menjembatani perwakilan suku Baduy dengan pihak eksternal seperti tim Pengmas FFUI. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Pak Arif, suku baduy terdiri atas beberapa kelompok, yaitu luar baduy, baduy luar, dan baduy dalam.

Wilayah Baduy terbagi menjadi 9 wilayah, dan masing-masing wilayah terdiri dari 30 hingga 40 kartu keluarga. Pak Arif menyatakan bahwa pemimpin adat (Pu’un) suku Baduy telah mengizinkan penggunaan lahan kosong guna dikelola masyarakat untuk penanaman hanjeli. Area tanah yang disiapkan untuk penanaman hanjeli seluas lebih kurang 1000 m2.

Namun dalam proses penanaman dan perawatan hanjeli harus menggunakan komponen organik, seperti pupuk kandang dan tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia, seperti pestisida. Sebelumnya tanah yang akan digunakan sebagai area tanam hanjeli dipersiapkan terlebih dahulu dengan menaburkan pupuk organik oleh masyarakat. Kemudian tanah yang telah digemburkan akan dilubangi dengan kedalaman sekitar 5 cm. Untuk selanjutnya masyarakat suku baduy bersama dengan tim pengabdian melakukan penanaman biji hanjeli. Sebanyak 3 sampai 5 biji hanjeli, dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat. Setelah itu dilakukan penyiraman dengan air pada area yang telah ditanami biji hanjeli.

Kegiatan berjalan dengan baik dan masyarakat terlihat antusias pada saat penanaman biji hanjeli. Kegiatan yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan pangan suku Baduy, sehingga dapat menekan prevalensi anak penderita stunting di Indonesia. Pemenuhan nutrisi anak dari pangan sehat merupakan tahap penting, untuk menjamin kesehatan generasi unggul bangsa. (Sbs)

Comments are closed.