Smart Aviation Gelontorkan Dana Rp 400 Miliar Untuk Beli 4 Pesawat

38

SATUBANTEN.COM, Jakarta – PT Smart Cakrawala Aviation (Smart Aviation), perusahaan jasa angkutan udara niaga tidak berjadwal, telah melakukan pembelian 4 unit Caravan c208ex dan 1 (satu) unit Sky Courier c408 dengan kondisi baru dari perusahaan pesawat asal Amerika, Textron Inc.

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat infrastruktur penerbangan di Indonesia dan memberikan dukungan yang optimal terhadap pemerintah dalam mewujudkan pemerataan ekonomi, terutama di wilayah terluar, melalui layanan unggulan Smart Aviation.

Adapun nilai transaksi yang dilakukan secara tunai antara Smart Aviation dengan Textron Inc. ini tercatat mencapai Rp 400 miliar, terdiri dari harga Cessna 208 Caravan sebesar US$3,35 juta (setara Rp 52,437 miliar, kurs 1 US$ = Rp 15.567) per unit dan harga Cessna 408 Sky Courier sebesar US$9,8 juta (setara Rp 153,44 miliar) per unit.

“Smart Aviation memberikan penekanan khusus pada momen tersebut sebagai langkah strategis dalam mendukung perkembangan industri penerbangan di Indonesia lewat Signing MoU dengan Textron Inc. untuk pengadaan sejumlah pesawat. Hal ini kami lakukan sebagai respons terhadap kebutuhan bisnis yang terus berkembang di wilayah operasional Smart Aviation sekaligus menambah armada untuk mengokohkan posisi kami sebagai pelaku utama dalam industri penerbangan niaga di Indonesia,” ungkap Pongky Majaya selaku Founder & CEO Smart Aviation lewat keterangan tertulis yang diterima SatuBanten, Kamis (07/3).

Adapun jenis pesawat ini dipilih karena memiliki teknologi yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan wilayah operasional Smart Aviation, khususnya dalam memenuhi tuntutan di beberapa daerah yang memiliki kontur daerah dengan udara yang bertekanan tinggi seperti pegunungan Papua.

Cessna SkyCourier adalah pesawat turboprop sayap tinggi, berkapasitas ganda, yang menawarkan kombinasi kinerja dan biaya operasional yang lebih rendah untuk operator angkutan udara, komuter, dan misi khusus. Armada ini tersedia dalam dua versi, yaitu kargo dan penumpang.

Cessna SkyCourier versi penumpang mampu menampung hingga 19 orang dengan pintu kru dan penumpang untuk proses naik-turun yang lancar, serta jendela kabin yang besar untuk cahaya alami ke dalam pesawat. Kemudian, konfigurasi yang ada di Cessna SkyCourier menawarkan pengisian bahan bakar satu titik untuk memungkinkan pergantian yang lebih cepat.

Sementara, armada dengan varian kargo dilengkapi dengan pintu besar dan kabin lantai datar yang cukup besar untuk menangani hingga tiga kontainer pengiriman LD3 dengan kemampuan muatan yang mengesankan mencapai 6.000 pound.

Pesawat jenis ini ditenagai oleh dua mesin, yaitu Turboprop Pratt & Whitney PT6A-65SC, baling-baling aluminium empat bilah yang tangguh dan handal sepanjang 110 inci yang dapat memutar penuh dengan langkah mundur dan dirancang untuk meningkatkan kinerja pesawat saat membawa beban besar.

SkyCourier dioperasikan dengan avionik Garmin G1000 NXi dan memiliki kecepatan jelajah maksimum lebih dari 200 knot, dengan jangkauan maksimum 900 mil laut.
Pesawat-pesawat ini nantinya akan menjadi penunjang utama dalam menyediakan layanan angkutan udara yang efisien dan handal di berbagai destinasi di Indonesia. Keputusan ini juga sejalan dengan visi Smart Aviation untuk menjadi pionir dalam mengokohkan ekosistem penerbangan Indonesia.

Adapun investasi tersebut secara resmi ditandai dengan penandatanganan yang dilakukan pada tahun 2024, dengan pesawat baru yang diperkirakan akan tiba pada tahun 2026 mendatang. Oleh karena itu, sambil menunggu kedatangan pesawat baru dari Textron Inc., perusahaan telah berencana akan membeli 3 (tiga) pesawat bekas pada tahun 2024.
Keputusan strategis ini ungkap Pongky juga menunjukkan tekad perusahaan dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan pemerataan ekonomi, terutama di wilayah terluar, melalui layanan unggulannya.

“Kami yakin bahwa langkah-langkah ini akan memperkuat posisi Smart Aviation sebagai pemimpin di Industri penerbangan niaga di Indonesia akan dan akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekosistem penerbangan nasional,” tutup Pongky. (**)

Comments are closed.