Menkes : Teknologi Informasi Berperan Penting Dalam Bidang Kesehatan

21

Jakarta, SatuBanten – Sektor kesehatan diprediksi berkontribusi besar bagi industri telekomunikasi dalam waktu 5 – 10 tahun ke depan. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan sektor itu terhadap infrastruktur telekomunikasi. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam acara Industri Summit 2023 di Jakarta, Selasa (31/10/2023).

“Pemeriksaan dan diagnosis dengan digitalisasi akan terbuka semua. Semua itu butuh bandwidth. Butuh infrastruktur telekomunikasi. Jadi, kalau selama ini kesehatan dilihat tidak berkontribusi terhadap perusahaan telekomunikasi, 5-10 tahun ke depan akan sangat berbeda,” ungkap Budi.

Dia menjelaskan pemerintah berencana meningkatkan kualitas perangkat diagnostik dan terapestik. Termasuk, perangkat robotik untuk kegiatan operasi. Hal ini dinilai mampu berkontribusi terhadap penanganan kanker yang menjadi penyebab kematian terbesar nomor 3 di seluruh dunia. Ke depan, alat-alat yang terpasang tersambung dengan teknologi telekomunikasi di seluruh 34 provinsi di Tanah Air.

“[Masalahnya] tidak semua dokter bedah tersedia di 514 kabupaten/kota,” kata Budi.

Selain itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah melakukan pembahasan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Google Map, dan Whatsapp untuk memastikan konektivitas internet di fasilitas kesehatan Tanah Air. Berdasarkan pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dirinya mengajukan permintaan konektivitas internet untuk 25.000 posyandu dengan biaya murah.

“Untuk kesehatan masyarakat, jangan di-charge Rp6 juta sebulan. Starlink nge-charge US$50 sebulan atau sekitar Rp750.000. Di Rwanda hanya Rp300.000 per bulan. ‘I need your help’,” kata Budi.

Budi menyebut biaya wajar konektivitas internet pusat-pusat kesehatan masyarakat di Indonesia adalah Rp500.000 dengan kapasitas 10 Mbps untuk 10.000 puskesmas serta 300.000 posyandu yang mempekerjakan 3 juta petugas berperangkat ponsel pintar. Kemenkes sendiri, sambungnya, akan merevitalisasi serta mendigitalisasi seluruh puskesmas dan posyandu di Tanah Air. Targetnya, sebanyak 10.000 puskesmas dan 300.000 posyandu di Indonesia sudah terstandardisasi pada akhir tahun ini.

Bulan depan, Budi menargetkan skrining data timbangan bayi, gula darah, dan hipertensi sudah masuk ke dalam sistem. Terkait dengan penyebaran data di lingkungan fasilitas kesehatan, Kemenkes disebut akan bekerja sama dengan aplikasi Whatsapp yang diharapkan dapat memberikan layanan perpesanan secara cuma-cuma. Selain itu, pemerintah sudah melakukan pembicaraan dengan Google Map yang bertujuan menyediakan petunjuk lokasi terkait dengan layanan kesehatan.

“Jadi, Google Map tidak hanya memperlihatkan restoran atau hotel, tetapi juga pemeriksaan hipertensi di mana? Darah tinggi di mana? Sehingga demikian intervensi pemerintah lebih bagus,” katanya.

Dari segi bisnis, Budi mengatakan upaya ini berpeluang profit karena ada potensi lalu lintas data yang sangat besar mengingat banyaknnya jumlah fasilitas kesehatan (faskes) di Indonesia. Hanya saja, tidak sedikit faskes yang belum mendapatkan layanan internet secara optimal. Sebagai contoh, dari 10.000 puskesmas, terdapat 2.500 unit yang masih bermasalah dari sisi konektivitas internet. (***)

Comments are closed.