.
Penulis:
Siti Nabila Meilani
Mahasiswa ProgramStudi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Serang (UNPAMSERANG)
Opini- Mahasiswa sering dipandang sebagai kelompok yang masih berada dalam masa transisi. Sebagian masih bergantung pada uang saku orang tua, sebagian lainnya mulai mencari penghasilan tambahan melalui kerja paruh waktu, bisnis kecil, freelance, atau kegiatan produktif lainnya. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, muncul kesadaran baru di kalangan mahasiswa bahwa masa depan finansial tidak bisa hanya ditunggu setelah lulus, tetapi perlu mulai dibangun sejak masih di bangku kuliah.
Kesadaran ini penting karena mahasiswa merupakan kelompok besar dalam masyarakat. Laman PDDikti menampilkan publikasi terbaruStatistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025, dan statistik yang tersedia mencatat sekitar 9.967.487 mahasiswa,303.067 dosen,4.416 perguruan tinggi, serta33.741 programstudi. Angka ini menunjukkan bahwa mahasiswa bukan hanya bagian dari dunia akademik, tetapi juga kelompok muda yang memiliki potensi besar dalam membentuk budaya literasi keuangan dan investasi di Indonesia.
Salah satu cara yang mulai banyak dilirik mahasiswa adalah investasi. Bagi
mahasiswa, investasi bukan sekadar membeli saham, reksa dana, emas, atau aset digital. Lebih dari itu, investasi adalah proses belajar mengelola uang, memahami risiko, dan membangun kebiasaan finansial yang sehat. Dari kebiasaan kecil seperti mencatat pengeluaran, menyisihkan uang bulanan, hingga mengenal instrumen
investasi, mahasiswa sebenarnya sedang membangun fondasi menuju kemandirian finansial.
Konsepfinancial freedomatau kebebasan finansial sering kali terdengar jauh dari
kehidupan mahasiswa. Banyak yang menganggap financial freedom hanya bisa dicapai oleh orang yang sudah bekerja, memiliki gaji besar, atau menjalankan bisnis sukses. Padahal, kebebasan finansial tidak selalu dimulai dari uang dalam jumlah besar. Ia dimulai dari pola pikir yang benar: mampu membedakan kebutuhan dan
keinginan, berani menunda kesenangan sesaat, memiliki tujuan keuangan, serta
disiplin mengelola pengeluaran.
Minat anak muda terhadap investasi juga terlihat dari data pasar modal. Statistik KSEI per akhir Maret 2026 mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 24.744.221 SID, investor reksa dana23.497.884 SID, serta investor saham dan surat berharga lainnya9.363.852 SID. Data yang sama menunjukkan bahwa investor individu berusia30 tahun ke bawahmenjadi kelompok terbesar dengan porsi54,71 persen. Walaupun kelompok ini tidak seluruhnya mahasiswa, angka tersebut menunjukkan kuatnya peran generasi muda dalam pertumbuhan investor pasar modal Indonesia.
Fenomena ini tentu patut diapresiasi. Mahasiswa yang mulai mengenal investasi sejak dini memiliki peluang untuk lebih cepat memahami bagaimana uang dapat bertumbuh seiring waktu. Mereka belajar bahwa uang tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan masa depan, seperti dana pendidikan lanjutan, modal usaha, pembelian aset, atau persiapanehidupan setelah lulus kuliah.
Namun, semangat mahasiswa untuk berinvestasi juga harus disertai kehati-hatian. Di era media sosial, banyak konten finansial yang menampilkan keuntungan besar, gaya hidup mewah, atau ajakan membeli instrumen tertentu tanpa penjelasan risiko yang memadai. Hal ini dapat membuat mahasiswa mudah terjebak dalam keputusan investasi yang didorong oleh FOMO, bukan oleh pemahaman.
Padahal, investasi bukan jalan pintas menuju kaya. Investasi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, disiplin, dan kesabaran. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap instrumen investasi memiliki karakter masing-masing. Reksa dana mungkin lebih sederhana untuk pemula, saham membutuhkan analisis yang lebih mendalam, emas sering dipilih untuk menjaga nilai, sementara aset digital memiliki fluktuasi harga yang tinggi. Tanpa pemahaman, investasi bisa
berubah menjadi spekulasi.
Data literasi keuangan memperkuat alasan mengapa mahasiswa harus belajar sebelum berinvestasi. Hasil SNLIK 2025 yang dirilis OJK dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional berada di angka66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai80,51 persen. Ini berarti akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah semakin luas, tetapi pemahaman terhadap produk dan risiko keuangan masih perlu terus ditingkatkan.
Pada kelompok usia muda, tantangan ini juga terlihat jelas. Data SNLIK 2025
menunjukkan kelompok usia18–25 tahunmemiliki indeks literasi keuangan73,22 persen, sementara kelompok usia26–35 tahunberada di angka74 persen. Data ini memperlihatkan bahwa generasi muda sudah cukup aktif secara finansial, tetapi
tetap membutuhkan penguatan literasi agar tidak hanya mampu menggunakan
layanan keuangan, melainkan juga memahami keputusan finansial yang mereka ambil.
Karena itu, sebelum mengejar financial freedom, mahasiswa perlu membangun
literasi keuangan terlebih dahulu. Literasi keuangan menjadi bekal utama agar mahasiswa tidak hanya tahu cara membeli produk investasi, tetapi juga memahami alasan di balik keputusan tersebut. Mahasiswa perlu belajar membuat anggaran, memiliki dana darurat, menghindari utang konsumtif, menentukan tujuan investasi, dan mengenali profil risiko diri sendiri.
Kampus memiliki peran penting dalam membangun kesadaran finansial
mahasiswa. Melalui seminar, organisasi mahasiswa, komunitas investasi, Galeri
Investasi Bursa Efek Indonesia, hingga diskusi keuangan, kampus dapat menjadi ruang belajar yang membantu mahasiswa memahami dunia keuangan secara lebih sehat. BEI menjelaskan bahwa Galeri Investasi BEI merupakan sarana untuk memperkenalkan pasar modal sejak dini kepada dunia akademisi, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga praktik. BEI juga mencatat terdapat413 Komunitas Pasar Modal
Indonesiayang tersebar di berbagai wilayah.
Selain Galeri Investasi BEI, kehadiran komunitas belajar sepertiInversityjuga dapat menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami investasi secara lebih dekat. Inversity merupakan komunitas investasi dari singkatan investment university. Inversity dapat diposisikan sebagai komunitas yang membantu mahasiswa belajar investasi secara bertahap, mulai dari mengenal dasar-dasar keuangan, memahami instrumen investasi, berdiskusi tentang risiko, hingga membangun pola pikir investor yang rasional. Dalam komunitas seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar dari teori, tetapi juga dari pengalaman, diskusi, dan kebiasaan saling mengingatkan agar tidak asal mengikuti tren.
Komunitas investasi penting karena mahasiswa sering kali membutuhkan
lingkungan yang mendukung. Belajar sendiri melalui internet memang mudah, tetapi tidak semua informasi di internet benar, lengkap, atau sesuai kebutuhan pemula. Dengan adanya ruang belajar seperti Inversity, mahasiswa bisa bertanya, berdiskusi, dan memahami bahwa investasi bukan sekadar mengejar cuan, tetapi juga proses
membangun kedewasaan dalam mengambil keputusan finansial.
Investasi bagi mahasiswa bukan semata-mata tentang berapa besar keuntungan
yang diperoleh. Investasi adalah latihan membangun tanggung jawab. Dari
investasi, mahasiswa belajar mengambil keputusan, menerima risiko,
mengendalikan emosi, berpikir jangka panjang, dan memahami bahwa kebebasan finansial tidak dibangun dalam semalam.
Mahasiswa tetap boleh menikmati masa mudanya. Nongkrong, mengikuti
organisasi, membeli barang yang disukai, atau menikmati hiburan bukanlah hal yang salah. Namun, semua itu perlu diimbangi dengan kesadaran mengelola uang. Kesenangan hari ini tidak seharusnya mengorbankan masa depan. Justru mahasiswa yang mampu menyeimbangkan gaya hidup dan perencanaan keuangan akan lebih siap menghadapi kehidupan setelah lulus.
Financial freedom bukan tujuan yang datang tiba-tiba. Ia dibangun melalui
kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Mahasiswa yang mulai belajar
mengelola uang sejak dini sedang menanam fondasi penting untuk masa depan. Dengan literasi keuangan yang cukup, komunitas belajar seperti Inversity, serta dukungan edukasi dari kampus dan pasar modal, mahasiswa dapat menjadikan investasi sebagai jalan untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang.
Investasi terbaik bagi mahasiswa bukan hanya saham, reksa dana, atau emas, tetapi pengetahuan. Sebab dari pengetahuan lahir keputusan yang bijak. Dari keputusan yang bijak
tumbuh kemandirian. Dan dari kemandirian itulah financial freedommulai dibangun.