Kekerasan Seksual Pada Laki-Laki Jadi Hal Sepele di Indonesia Akibat Toxic Masculinity

90

Satubanten.com- Pada April 2021 lalu, Indonesia tengah dihebohkan dengan kasus perkosaan yang dilakukan oleh seorang perempuan berusia 28 tahun terhadap seorang laki-laki usia 16 tahun di Probolinggo, Jawa Timur. Korban mengaku bahwa ia dicekoki minuman keras terlebih dahulu oleh pelaku sebelum akhirnya diperkosa.

Di tahun yang sama, masyarakat kembali dihebohkan oleh kasus kekerasan seksual yang dialami seorang laki-laki pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Kekerasan seksual tersebut rupanya dilakukan oleh rekan kerjanya yang juga sesama laki-laki. Terdapat delapan orang pelaku yang dipecat karena kasus tersebut. Sementara itu, korban sampai saat ini masih menjalani proses penyembuhan dari depresi akut akibat kekerasan seksual tersebut.

Meski banyak data yang membuktikan bahwa perempuan dan anak memang rentan menjadi korban kekerasan seksual, namun bukan berarti laki-laki tak bisa menjadi korban kekerasan seksual juga.

Rasanya kalau mendengar bahwa laki-laki dapat menjadi korban kekerasan seksual itu seperti tabu dan tak mungkin, karena adanya budaya maskulinitas beracun (toxic masculinity) yang dilahirkan oleh masyarakat patriarki.

Budaya patriarki membangun konstruksi bahwa laki-laki merupakan sosok yang kuat, dominan, serta memiliki posisi tawar (bargaining position), dan kuasa (power) yang lebih atas perempuan, sehingga seperti mustahil laki-laki dapat mengalami kekerasan seksual.

Untuk laki-laki, mencari tempat perlindungan dan rasa aman di ruang publik menjadi jauh lebih sulit dibandingkan perempuan.

Maka dari itu, sudah semestinya upaya pencegahan dan penghapusan kekerasan seksual bukan hanya menjadi kepentingan perempuan saja, tapi juga lintas gender dan orientasi seksual. (**)

Comments are closed.