Hubungan Antara Dunia Sains Dan Agama

7

Lifestyle- Dalam sejarah peradaban barat konflik antara kalangan intelektual versus agamawan mencapai klimaks ketika Nicolas Copernicus  (1473-1543) mengemukakan hasil riset astronominya.  yaitu matahari sebagai pusat  alam semesta (helio – sentris)

Kemudian, temuan Copernicus itu diperkuat oleh riset Galileo-Galilei (1564-1642) lewat teleskopnya. Temuan tersebut sontak membuat kalangan gereja menjadi berang, karena bertolak-belakang dengan doktrin gereja yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat alam semesta atau dikenal dengan geo-sentris.

Pada awal 1980-an Pakistan di bawah kepemimpinan Ziaul Haq mencanangkan islamisasi disegala bidang, dan diantaranya adalah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam atau islamisasi sains. Para ilmuwan Pakistan kemudian membuat gebrakan bagi terealisasinya agenda besar tersebut.

Diantaranya adalah ide untuk menghadapi krisis energi di dunia Islam dengan jalan mengendalikan jin. Dalam ayat-ayat al-Quran disebutkan jin terbuat dari api. Dengan premis ini pakar energi ada yang menawarkan alternatif yaitu:

menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara kimia, bahwa jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap.

Bila jin ini dapat ditangkap dan dikendalikan maka kita akan mempunyai cadangan energi yang tidak habis-habisnya. Bagaimana semua ini dapat teraplikasi? Tidak ada penjelasan yang konkrit. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang dinilai saintis tidak realistis dan memalukan, ungkap Pervez Hoodboy (1992). Lantas bagaimana sebenarnya hubungan sains dan agama? Paling tidak dalam sejarahnya ada empat mazhab yang diajukan:

1. Konflik, yaitu pandangan yang menganggap sains dan agama adalah dua kutub yang bertentangan dan saling menghancurkan satu dengan lainnya.

2. Independensi, yaitu para pemikir yang berkeyakinan bahwa sains dan agama memiliki kemandirian masing-masing dan terpisah dikarenakan berurusan dengan wilayah yang berbeda. Jika beroperasi pada wilayahnya masing-masing, maka tidak akan terjadi konflik.

3. Dialog, yang berpendapat bahwa sains dan agama adalah mitra dalam melakukan refleksi kritis atas berbagai persoalan dengan tetap menghormati integritas masing-masing. (**)

Comments are closed.