Penulis: Nazwa Syarifatusalma. Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Serang (UNPAM SERANG)
Opini- Dalam beberapa tahun terakhir, investasi menjadi topik yang semakin populer di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Jika dulu investasi sering dianggap sebagai aktivitas yang hanya dilakukan oleh orang-orang berpenghasilan besar, kini
pandangan tersebut mulai berubah. Media sosial dipenuhi berbagai konten tentang saham, reksa dana, aset kripto seperti Bitcoin, hingga tips membangun kekayaan sejak usia muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran finansial masyarakat, khususnya Gen Z dan mahasiswa, mulai mengalami peningkatan.
Meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi tentu merupakan
perkembangan yang positif. Anak muda mulai menyadari bahwa mengelola uang
tidak cukup hanya dengan menabung. Mereka mulai memahami bahwa uang perlu dikembangkan agar dapat membantu mencapai tujuan keuangan di masa depan. Namun, di balik meningkatnya minat tersebut, muncul persoalan lain yang cukup mengkhawatirkan, yaitu budaya investasi karena FOMO ataufear of missing out, yakni rasa takut tertinggal dari tren yang sedang ramai diperbincangkan.
Menurut saya, FOMO menjadi salah satu tantangan terbesar bagi investor pemula
saat ini. Banyak orang mulai berinvestasi bukan karena sudah memahami
instrumen yang dipilih, melainkan karena melihat orang lain memperoleh
keuntungan besar. Mereka membeli saham, kripto, atau aset tertentu hanya karena sedang viral di media sosial. Padahal, keputusan investasi yang baik seharusnya lahir dari pemahaman, analisis, dan kesadaran terhadap risiko, bukan semata-mata karena ikut-ikutan.
Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya budaya FOMO dalam investasi. Konten yang menampilkan keuntungan besar biasanya lebih mudah menarik perhatian dibandingkan konten edukasi tentang risiko kerugian. Tidak sedikit influencer atau kreator konten membahas investasi dengan gaya yang
meyakinkan, sehingga membuat banyak orang merasa harus segera ikut agar tidak tertinggal. Masalahnya, tidak semua konten investasi memberikan gambaran yang utuh. Sering kali yang ditampilkan hanya hasil akhirnya, sementara proses belajar, risiko, kerugian, dan strategi di baliknya tidak dijelaskan secara seimbang.
Kondisi ini dapat membentuk ekspektasi yang keliru di kalangan investor pemula.
Banyak orang akhirnya menganggap investasi sebagai jalan cepat untuk
mendapatkan keuntungan besar. Padahal, investasi bukanlah cara instan untuk menjadi kaya. Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik, potensi keuntungan, dan risiko yang berbeda. Saham, reksa dana, obligasi, maupun aset kripto tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Tanpa pemahaman yang cukup, seseorang
justru dapat mengambil keputusan yang merugikan kondisi keuangannya sendiri.
Budaya FOMO juga membuat banyak investor pemula mudah panik ketika harga aset mengalami penurunan. Mereka membeli saat harga sedang naik karena takut tertinggal tren, lalu menjual ketika harga turun karena takut rugi lebih besar. Pola seperti ini sangat berisiko karena keputusan investasi lebih banyak dikendalikan oleh emosi daripada logika. Akibatnya, investasi yang seharusnya menjadi sarana
membangun masa depan finansial justru berubah menjadi aktivitas spekulatif yang tidak terarah.
Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa literasi investasi masyarakat masih perlu diperkuat. Minat yang tinggi terhadap investasi harus diimbangi dengan pemahaman yang benar. Sebelum mulai berinvestasi, generasi muda perlu memahami hal-hal dasar, seperti tujuan investasi, profil risiko, jangka waktu investasi, legalitas platform, serta cara mengelola keuangan pribadi. Tanpa dasar tersebut, seseorang akan mudah terpengaruh oleh tren sesaat, rekomendasi orang lain, atau janji keuntungan yang terlalu besar.
Generasi muda juga perlu memahami bahwa kondisi keuangan setiap orang
berbeda. Strategi investasi yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Ada orang yang mampu mengambil risiko tinggi karena memiliki dana lebih dan pengetahuan yang cukup. Namun, ada juga orang yang sebaiknya memilih instrumen yang lebih stabil karena masih memiliki kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi, seseorang perlu mengenali kemampuan finansialnya sendiri.
Hal penting lain yang sering dilupakan adalah bahwa investasi sebaiknya dilakukan setelah seseorang memiliki pengelolaan keuangan yang sehat. Anak muda perlu membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan dana darurat. Jika keuangan pribadi belum tertata,
investasi dapat menjadi beban baru. Jangan sampai seseorang memaksakan diri membeli aset investasi, tetapi kebutuhan pokoknya sendiri belum terpenuhi dengan baik.
Dalam konteks ini, edukasi investasi memiliki peran yang sangat penting. Generasi muda perlu belajar dari sumber yang terpercaya, bukan hanya dari potongan video singkat di media sosial. Saat ini sudah banyak komunitas, seminar, kelas edukasi, dan kelompok studi pasar modal yang dapat membantu masyarakat memahami dasar-dasar investasi dengan lebih baik. Melalui ruang belajar seperti ini, seseorang
dapat memahami cara membaca risiko, mengelola keuangan, menentukan tujuan investasi jangka panjang, serta mengambil keputusan secara lebih rasional.
Salah satu contoh wadah positif bagi generasi muda adalahInversity Community, yaitu komunitas edukasi dan diskusi pasar modal yang dapat membantu mahasiswa serta Gen Z belajar investasi secara lebih bijak dan terarah. Keberadaan komunitas seperti ini penting karena proses belajar investasi akan lebih mudah jika
dilakukan bersama lingkungan yang mendukung. Dalam komunitas, anggota dapat berdiskusi, bertukar pengalaman, bertanya kepada mentor, dan membangun pola pikir yang lebih kritis terhadap informasi investasi yang beredar di media sosial.
Belajar melalui komunitas juga dapat membantu investor pemula menghindari keputusan yang terburu-buru. Ketika seseorang memiliki lingkungan yang edukatif,
ia akan lebih mudah membedakan mana informasi yang layak dipertimbangkan
dan mana yang hanya sekadar mengikuti tren. Selain itu, komunitas juga dapat membentuk kebiasaan berpikir jangka panjang. Hal ini penting karena investasi yang sehat bukan hanya tentang mencari keuntungan cepat, tetapi tentang membangun kestabilan finansial secara bertahap.
Menurut saya, generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap investasi. Investasi bukan ajang untuk terlihat keren, bukan pula perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan keuntungan. Investasi adalah bagian dari perencanaan keuangan. Tujuannya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan membantu seseorang mencapai tujuan finansial yang lebih jelas, seperti dana pendidikan, membeli rumah, membangun usaha, menyiapkan dana pensiun, atau mencapai kebebasan finansial di masa depan.
Meningkatnya minat investasi di kalangan generasi muda memang patut
diapresiasi. Namun, minat saja tidak cukup. Diperlukan pengetahuan, kedisiplinan, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan emosi. Jika generasi muda hanya berinvestasi karena FOMO, maka tujuan investasi dapat bergeser menjadi sekadar
ikut arus. Sebaliknya, jika investasi dilakukan dengan pemahaman yang matang, maka investasi dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik.
Fenomena FOMO dalam investasi perlu menjadi perhatian bersama. Media sosial
memang dapat menjadi sumber informasi, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan finansial. Generasi muda harus lebih selektif dalam menerima informasi, lebih berani belajar, dan lebih bijak dalam mengambil langkah. Investasi bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan
siapa yang paling siap memahami risiko, mengelola uang, dan membuat keputusan berdasarkan pengetahuan.
Oleh karena itu, generasi muda sebaiknya tidak hanya menjadi penonton dalam tren
investasi digital, tetapi juga menjadi pelaku yang cerdas dan bertanggung jawab. Jangan berinvestasi hanya karena takut tertinggal. Berinvestasilah karena
memahami tujuan, mengetahui risiko, dan siap menjalani prosesnya. Dengan literasi yang baik, lingkungan belajar yang tepat, serta pola pikir jangka panjang, investasi dapat menjadi jalan bagi generasi muda untuk membangun masa depan finansial yang lebih stabil, mandiri, dan terarah.