Oleh : KH. Dr. Anang Azhari Alie, (Pimpinan Ponpes Al-Mizan Banten)
Opini- Perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kesempatan untuk memperluas wawasan, memperkaya pengalaman, dan menemukan makna kehidupan.
Perjalanan ke Kairo, Mesir, bukan semata-mata perjalanan wisata untuk menikmati keindahan kota, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, atau mengabadikan momen di berbagai destinasi menarik. Lebih dari itu, perjalanan ini merupakan kesempatan untuk belajar, memahami peradaban, mempererat silaturahmi, dan menikmati berbagai pengalaman yang memberikan kesan mendalam.
Mesir adalah negeri yang memiliki sejarah panjang dan kedudukan istimewa dalam perjalanan peradaban manusia. Di tanah ini, jejak peradaban Mesir Kuno berdiri berdampingan dengan kehidupan masyarakat modern, tradisi Islam, serta dinamika pendidikan yang telah berkembang selama berabad-abad.
Setiap sudutnya seolah menyimpan cerita tentang masa lalu, sementara kehidupan kotanya memperlihatkan bagaimana sejarah terus berdialog dengan masa kini.
*Menyelami Keagungan Peradaban Mesir Kuno*
Kunjungan ke Mesir memberikan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung peninggalan peradaban kuno yang selama ini mungkin hanya dikenal melalui buku sejarah, foto, atau tayangan dokumenter.
Piramida Giza, Sphinx, kuil-kuil kuno, serta berbagai peninggalan arkeologis lainnya menjadi bukti nyata kemampuan manusia pada masa lampau dalam membangun peradaban yang mengagumkan.
Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya menunjukkan kecanggihan arsitektur dan pengetahuan teknik, tetapi juga mencerminkan sistem sosial, keyakinan, kekuasaan, serta cara pandang masyarakat Mesir Kuno terhadap kehidupan dan kematian.
Melihat peninggalan itu secara langsung menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar membaca sejarah. Kita diajak merenungkan betapa panjang perjalanan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kebudayaan.
Namun, kemegahan peradaban masa lalu sekaligus menyampaikan pelajaran penting: sebesar apa pun kekuasaan manusia dan setinggi apa pun pencapaian sebuah peradaban, semuanya berada dalam perjalanan waktu. Generasi datang dan pergi, kerajaan tumbuh dan runtuh, sedangkan sejarah meninggalkan pelajaran bagi mereka yang bersedia mengambil hikmah.
Bagi seorang Muslim, pengalaman ini juga mengingatkan kita untuk memandang sejarah dengan kesadaran spiritual. Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan perjalanan umat-umat terdahulu dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi.
Allah Swt. berfirman:
وَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.” (QS. Al-An’am: 11).
Dengan demikian, perjalanan sejarah bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga sarana untuk memperdalam kesadaran tentang kebesaran Allah, keterbatasan manusia, dan pentingnya membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan.
*Memahami Mesir Masa Kini*
Mesir bukan hanya tentang piramida, mumi, dan peninggalan para firaun. Mesir juga merupakan negeri yang hidup, bergerak, dan terus berkembang menghadapi tantangan zaman.
Kairo sebagai ibu kota memperlihatkan perpaduan antara bangunan bersejarah, masjid-masjid tua, pasar tradisional, kawasan modern, pusat perdagangan, serta aktivitas masyarakat yang berlangsung hampir tanpa henti. Di kota ini, warisan masa lalu tidak terpisah dari kehidupan masa kini.
Menyusuri jalan-jalan Kairo memberikan kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakatnya, mengenal kebiasaan lokal, menyaksikan keragaman budaya, serta melihat bagaimana tradisi dan modernitas berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sini kita belajar bahwa memahami suatu bangsa tidak cukup hanya melalui buku atau berita. Kita perlu hadir, melihat, mendengar, berinteraksi, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakatnya.
Perjalanan semacam ini memperluas cakrawala berpikir dan menumbuhkan sikap terbuka terhadap perbedaan. Kita semakin menyadari bahwa setiap bangsa memiliki sejarah, pengalaman, dan karakter yang membentuk identitasnya masing-masing.
*Bersilaturahmi dengan Alumni Al-Mizan di Al-Azhar Kairo*
Di antara agenda yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah pertemuan dengan para alumni Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten yang sedang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Pertemuan tersebut tentu memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar melepas rindu. Ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat berjumpa dengan para alumni yang dahulu pernah menjadi bagian dari kehidupan pesantren, menjalani pendidikan, belajar tentang kedisiplinan, memperkuat adab, serta menanamkan cita-cita untuk menjadi insan yang bermanfaat.
Kini, mereka berada jauh dari tanah air, menempuh perjalanan intelektual di salah satu pusat keilmuan Islam yang memiliki sejarah panjang. Mereka datang untuk memperdalam ilmu agama, mempelajari khazanah keislaman, dan mempersiapkan diri agar kelak mampu memberikan kontribusi kepada umat, bangsa, dan masyarakat.
Bagi keluarga besar Al-Mizan, keberadaan para alumni di Al-Azhar merupakan kebanggaan sekaligus amanah.
Pendidikan di pesantren tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pondok. Justru, kehidupan di luar pesantren menjadi medan pembuktian atas nilai-nilai yang telah dipelajari.
Ilmu harus terus dikembangkan, adab harus tetap dijaga, ibadah harus diperkuat, dan cita-cita pengabdian harus senantiasa dipelihara.
Dalam pertemuan seperti ini, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya agar para alumni berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi juga agar mereka mampu menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar:
الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.”
Alumni yang membanggakan bukan hanya mereka yang berhasil meraih gelar akademik, melainkan mereka yang mampu menghadirkan manfaat melalui ilmu, keteladanan, dan pengabdian.
Silaturahmi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ikatan antara pesantren dan alumninya tidak dibatasi oleh jarak geografis. Walaupun terpisah oleh negara dan benua, hubungan batin, nilai pendidikan, dan semangat perjuangan tetap harus terjaga.
Al-Mizan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan mereka, sebagaimana para alumni merupakan bagian penting dari masa depan Al-Mizan.
*Belajar dari Sejarah dan Tradisi Keilmuan Al-Azhar*
Berada di Kairo juga memberikan kesempatan untuk memahami lebih dekat tradisi keilmuan Islam yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad.
Al-Azhar bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi. Ia merupakan salah satu pusat penting kajian Islam yang dikenal luas karena tradisi keilmuannya, kajian Al-Qur’an, hadis, fikih, bahasa Arab, dan berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya.
Dari tradisi ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga kesinambungan ilmu, menghormati para ulama, mengembangkan pemikiran, serta membangun hubungan antara khazanah klasik dan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Bagi dunia pesantren, pengalaman tersebut memiliki relevansi tersendiri. Pesantren dan perguruan tinggi Islam sama-sama memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Ilmu harus melahirkan kebijaksanaan. Pengetahuan harus memperkuat akhlak. Dan pendidikan harus mempersiapkan manusia agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip moral dan spiritual.
Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat dibawa pulang dari Kairo untuk terus memperkaya wawasan pendidikan dan pengembangan pesantren.
*Shopping: Menikmati Sisi Lain Perjalanan*
Tentu saja, perjalanan ke Mesir tidak harus selalu diisi dengan agenda sejarah, pendidikan, dan pertemuan formal. Ada pula waktu untuk menikmati suasana kota, mengunjungi pusat perbelanjaan, mencari cendera mata, dan berbelanja berbagai barang khas Mesir.
Shopping menjadi bagian yang menyenangkan dari perjalanan karena memberikan kesempatan untuk mengenal produk lokal, kerajinan tangan, parfum, rempah-rempah, pakaian, serta berbagai cendera mata yang mencerminkan karakter budaya setempat.
Mengunjungi pasar tradisional seperti Khan el-Khalili, misalnya, dapat memberikan pengalaman tersendiri. Di sana, suasana perdagangan, ragam barang, arsitektur bersejarah, dan interaksi antara pedagang dengan pengunjung menjadi bagian dari daya tarik Kairo.
Berbelanja bukan sekadar membeli barang. Jika dilakukan dengan cermat, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal kebiasaan masyarakat, memahami dinamika ekonomi lokal, serta membawa pulang kenangan yang menghubungkan kita dengan tempat yang dikunjungi.
Tentu saja, belanja perlu dilakukan secara bijaksana. Pilih barang yang benar-benar dibutuhkan atau memiliki nilai kenangan, sesuaikan dengan anggaran, dan jangan lupa menikmati pengalaman perjalanan itu sendiri.
Sebab, tidak semua kenangan berharga harus dibawa dalam koper. Sebagian justru tersimpan dalam pikiran, perasaan, dan cerita yang kelak dibagikan kepada keluarga serta sahabat.
*Perjalanan sebagai Sarana Muhasabah*
Pada akhirnya, perjalanan ke Kairo menghadirkan berbagai dimensi pengalaman yang saling melengkapi: sejarah, kebudayaan, pendidikan, persahabatan, dan rekreasi.
Kita belajar dari peninggalan peradaban Mesir Kuno. Kita memahami kehidupan masyarakat Mesir masa kini. Kita mempererat hubungan dengan para alumni Al-Mizan yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar. Kita menyaksikan kekayaan tradisi keilmuan Islam.
Dan kita menikmati sisi menyenangkan perjalanan melalui kunjungan ke berbagai tempat dan kegiatan shopping.
Semua itu mengajarkan bahwa perjalanan yang baik bukan hanya perjalanan yang menyenangkan, tetapi juga perjalanan yang memberikan tambahan wawasan dan meninggalkan kesan bermakna.
Ada perjalanan yang memperkaya pengalaman. Ada perjalanan yang memperluas pengetahuan. Ada perjalanan yang mempertemukan kembali hati-hati yang berjauhan. Dan ada pula perjalanan yang membuat seseorang lebih memahami dirinya sendiri.
Ketika melihat kebesaran peradaban masa lampau, kita belajar tentang waktu dan sejarah. Ketika bertemu para pencari ilmu, kita diingatkan tentang pentingnya pendidikan dan perjuangan. Ketika menikmati keindahan suatu negeri, kita belajar mensyukuri nikmat Allah yang telah memberikan kesempatan untuk menjelajahi bumi-Nya.
Perjalanan pun menjadi bentuk muhasabah: sudah sejauh mana ilmu kita berkembang, sudah seberapa besar manfaat yang kita berikan, dan sudah seberapa kuat komitmen kita untuk terus belajar sepanjang kehidupan?
*Penutup: Membawa Pulang Lebih dari Sekadar Kenangan*
Kairo akan selalu memiliki daya tarik tersendiri. Ia menyimpan kemegahan masa lalu, dinamika kehidupan masa kini, kekayaan tradisi keilmuan Islam, dan keramahan pengalaman yang membuat perjalanan terasa istimewa.
Namun, nilai terbesar dari sebuah perjalanan tidak hanya terletak pada banyaknya tempat yang dikunjungi atau barang yang dibawa pulang. Nilainya terletak pada pelajaran yang diperoleh, hubungan yang semakin erat, wawasan yang semakin luas, dan rasa syukur yang semakin mendalam.
Semoga perjalanan ke Kairo, Mesir, menjadi pengalaman yang penuh berkah: perjalanan untuk belajar dari sejarah, memahami peradaban, memperkuat silaturahmi dengan keluarga besar Al-Mizan, menyerap inspirasi dari tradisi keilmuan Al-Azhar, serta menikmati keindahan perjalanan dengan penuh rasa syukur.
Sebab, perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang hanya membuat kita mengenal dunia lebih luas, melainkan perjalanan yang menjadikan kita pulang dengan pikiran lebih terbuka, hati lebih lapang, ilmu lebih kaya, dan semangat pengabdian yang semakin kuat.
والله أعلم بالصواب.
Semoga setiap langkah menjadi ilmu, setiap pertemuan menjadi berkah, dan setiap perjalanan menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
AAA, Ahad 11 Okt. 2026.