Filosofi Kepemimpinan, Keteladanan, dan Ruh I’dad Seorang Guru
Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd. (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Pandeglang-Banten)
Opini- Ada peristiwa-peristiwa sederhana yang terjadi hanya beberapa menit, tetapi meninggalkan pelajaran yang bertahan sepanjang kehidupan.
Peristiwa itu tidak selalu berupa ceramah panjang, pidato besar, atau keputusan penting. Kadang, sebuah tindakan diam justru lebih kuat daripada seribu kata.
Salah satu peristiwa yang hingga kini masih membekas dalam ingatan saya terjadi sekitar tahun 1985, ketika saya sedang mengajar di Pondok Pesantren Daar el-Qolam.
Saat itu, saya mengajar pelajaran Nahwu dengan materi tentang:
«الإعراب المحلي»
Kami masih berada dalam suasana pesantren yang sederhana. Ruang kelas ketika itu adalah kelas darurat yang dindingnya terbuat dari papan. Fasilitas pendidikan tentu belum seperti sekarang. Tidak ada ruang kelas modern, tidak ada teknologi digital, tidak ada layar presentasi, bahkan berbagai sarana pembelajaran masih sangat terbatas.
Namun, di tengah keterbatasan itulah sesungguhnya terdapat sebuah kekayaan pendidikan yang luar biasa: kesungguhan dalam mengajar dan kepedulian langsung seorang kiai terhadap proses pendidikan.
Tiba-tiba, ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief datang.
Beliau tidak masuk ke dalam kelas.
Beliau berdiri di teras.
Beliau memperhatikan.
Beliau mendengarkan bagaimana saya menjelaskan materi kepada para santri.
Saya terus mengajar.
Pak Kiai tetap berdiri di sana.
Kurang lebih selama dua puluh menit beliau memperhatikan proses pembelajaran. Setelah itu, beliau pergi.
Tidak ada teguran.
Tidak ada komentar panjang.
Tidak ada evaluasi terbuka.
Beliau hanya datang, melihat, mendengarkan, lalu pergi.
Namun bagi saya, peristiwa itu bukan sekadar kunjungan seorang pimpinan ke kelas.
Peristiwa itu adalah sebuah pelajaran besar tentang kepemimpinan pendidikan.
*Kiai yang Tidak Berhenti Menjadi Guru*
Dalam banyak lembaga pendidikan, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin jauh pula ia dari ruang kelas.
Seorang pemimpin sibuk dengan rapat.
Sibuk dengan administrasi.
Sibuk dengan pembangunan.
Sibuk dengan tamu.
Sibuk dengan berbagai persoalan organisasi.
Pada akhirnya, ruang kelas sering kali hanya menjadi urusan para guru.
Tetapi seorang pemimpin pendidikan sejati tidak boleh sepenuhnya kehilangan hubungan dengan ruang kelas.
Karena di ruang kelaslah sesungguhnya jantung sebuah lembaga pendidikan berdetak.
Gedung yang megah tidak menjamin kualitas pendidikan.
Program yang banyak tidak selalu menjamin keberhasilan pendidikan.
Administrasi yang rapi pun belum tentu melahirkan generasi yang berkualitas.
Pada akhirnya, pendidikan sangat banyak ditentukan oleh apa yang terjadi antara guru dan murid di dalam kelas.
Ketika seorang kiai masih bersedia berdiri di teras kelas dan memperhatikan bagaimana seorang guru mengajar, sesungguhnya beliau sedang menunjukkan sebuah prinsip besar:
*«Seorang pemimpin pendidikan tidak boleh terlalu jauh dari medan pendidikan.»*
Kantor adalah tempat mengelola.
Tetapi kelas adalah tempat membentuk.
Seorang kiai mungkin memiliki banyak tanggung jawab sebagai pimpinan.
Namun, ketika ia masih memiliki perhatian terhadap bagaimana seorang guru menjelaskan pelajaran kepada santri, berarti ia memahami bahwa masa depan pesantren sedang dibentuk pada saat itu.
*Kepemimpinan yang Hadir, Bukan Hanya Mengawasi*
Ada perbedaan besar antara mengawasi dan hadir.
Mengawasi terkadang menciptakan rasa takut.
Hadir dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Pak Kiai datang ke kelas bukan semata-mata untuk mencari kesalahan.
Beliau hadir untuk memastikan bahwa proses pendidikan berjalan.
Tindakan beliau mengandung pesan tanpa kata:
*«“Apa yang kalian lakukan di dalam kelas itu penting.”»*
Bagi seorang guru, mengetahui bahwa kiainya memperhatikan proses pengajaran merupakan sebuah dorongan yang sangat kuat.
Seorang guru menjadi sadar bahwa mengajar bukan pekerjaan rutin yang boleh dilakukan sekadarnya.
Mengajar adalah amanah.
Mengajar adalah perjuangan.
Mengajar adalah proses membentuk manusia.
Karena itu, tindakan sederhana Pak Kiai berdiri di teras kelas selama dua puluh menit memiliki kekuatan pendidikan yang sangat besar.
Beliau sedang mendidik guru.
Tanpa rapat.
Tanpa surat edaran.
Tanpa instruksi.
Beliau mendidik melalui kehadiran.
*Ruh I’dad: Tidak Boleh Masuk Kelas Tanpa Persiapan*
Peristiwa tersebut juga memberikan pengaruh besar terhadap budaya i’dad atau persiapan mengajar.
Para ustadz dan ustadzah di Daar el-Qolam memahami bahwa mengajar tidak boleh dilakukan dengan spontanitas semata.
Seorang guru harus datang ke kelas dengan persiapan.
Ia harus memahami:
– apa yang akan diajarkan;
– bagaimana menjelaskannya;
– contoh apa yang akan digunakan;
– kesulitan apa yang mungkin dihadapi santri;
– dan bagaimana memastikan santri benar-benar memahami materi.
Inilah yang disebut i’dad.
I’dad bukan sekadar membuat catatan pelajaran.
I’dad adalah bentuk penghormatan guru terhadap ilmu dan muridnya.
Seorang guru yang mempersiapkan diri sesungguhnya sedang berkata:
*«“Santri yang akan saya hadapi berhak mendapatkan pengajaran terbaik yang mampu saya berikan.”»*
Karena itu, guru yang memiliki i’dad datang ke kelas bukan hanya membawa buku.
Ia membawa kesiapan pikiran.
Ia membawa kesungguhan.
Ia membawa strategi.
Dan ia membawa tanggung jawab.
Dalam konteks inilah, perhatian langsung seorang kiai terhadap proses pembelajaran menjadi sangat penting.
Karena budaya i’dad tidak cukup hanya dibangun melalui aturan.
Budaya itu tumbuh ketika ada kepedulian terhadap mutu pengajaran.
*Dinding Papan, Tetapi Standar Pendidikan Tidak Boleh Sederhana*
Yang menarik dari peristiwa itu adalah suasana kelas yang masih sangat sederhana.
Kelas darurat.
Dinding papan.
Fasilitas terbatas.
Namun, perhatian terhadap mutu pengajaran sudah sangat tinggi.
Inilah salah satu pelajaran penting dalam sejarah perkembangan banyak lembaga pendidikan.
Sering kali orang menunggu fasilitas sempurna sebelum meningkatkan kualitas.
Menunggu gedung bagus.
Menunggu teknologi.
Menunggu sarana lengkap.
Padahal, kualitas pendidikan tidak selalu dimulai dari kelengkapan fasilitas.
Kualitas pendidikan dimulai dari kesungguhan manusia.
Kelas boleh sederhana.
Dinding boleh dari papan.
Kursi mungkin terbatas.
Tetapi guru tidak boleh memiliki persiapan yang sederhana.
Inilah filosofi besar yang dapat dipetik:
*«Fasilitas boleh terbatas, tetapi cita-cita pendidikan tidak boleh terbatas.»*
Justru banyak lembaga besar lahir dari ruang-ruang sederhana karena para pendirinya memiliki standar perjuangan yang tinggi.
*Ketika Kiai Mengajar Para Guru*
Pada saat itu, secara lahiriah Pak Kiai sedang memperhatikan saya mengajar Nahwu.
Namun sesungguhnya, dalam makna yang lebih dalam, beliau sedang mengajar saya.
Beliau sedang mengajarkan bahwa seorang guru harus selalu siap.
Beliau sedang mengajarkan bahwa mengajar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Beliau sedang mengajarkan bahwa proses pendidikan harus menjadi perhatian pimpinan.
Dan yang paling penting, beliau sedang memberikan teladan bahwa pemimpin pendidikan harus hadir di medan pendidikan.
Kadang-kadang seorang guru dapat lupa bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Bukan hanya oleh pimpinan.
Tetapi juga oleh santri.
Setiap kata guru diperhatikan.
Setiap sikap guru dicontoh.
Setiap kebiasaan guru dapat menjadi budaya.
Karena itu, seorang guru sesungguhnya tidak hanya mengajar materi.
Ia sedang mengajar melalui dirinya.
*Pendidikan Tidak Dibangun dengan Instruksi Saja*
Tindakan Pak Kiai tersebut juga menunjukkan perbedaan antara kepemimpinan yang hanya bersifat administratif dengan kepemimpinan yang bersifat edukatif.
Seorang pimpinan administratif mungkin berkata:
«“Guru harus membuat persiapan.”»
Tetapi seorang pemimpin edukatif menunjukkan bahwa persiapan itu penting melalui keterlibatannya.
Seorang pimpinan administratif mungkin mengirimkan surat.
Tetapi seorang pemimpin pendidikan datang dan melihat sendiri.
Karena itulah, kepemimpinan pendidikan yang kuat harus memiliki tiga unsur:
1. *Vision*
Pemimpin harus mengetahui ke mana lembaga akan dibawa.
2. *System*
Pemimpin harus membangun mekanisme agar pendidikan berjalan secara konsisten.
3. *Presence*
Pemimpin harus tetap hadir pada titik-titik penting kehidupan lembaga.
Tanpa kehadiran, sistem dapat menjadi dingin.
Tanpa sistem, kehadiran hanya menjadi simbol.
Tanpa visi, keduanya kehilangan arah.
Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief, melalui tindakan sederhana tersebut, menunjukkan bahwa pemimpin pendidikan harus tetap memiliki hubungan langsung dengan proses pembelajaran.
*Mengapa Para Guru Menjadi Semangat Ber-I’dad?*
Bagi para ustadz dan ustadzah Daar el-Qolam, perhatian langsung seorang kiai terhadap proses pembelajaran melahirkan sebuah kesadaran.
Kami merasa bahwa pekerjaan mengajar dihargai.
Kami merasa bahwa kelas bukan ruang yang terpisah dari perhatian pimpinan.
Kami merasa bahwa kualitas pengajaran adalah persoalan bersama.
Dari sinilah tumbuh semangat untuk melakukan i’dad.
Sebab, salah satu energi terbesar seorang guru adalah ketika ia merasa bahwa pekerjaannya memiliki arti.
Dan seorang pemimpin yang hadir mampu memberikan makna terhadap pekerjaan para guru.
Pak Kiai tidak perlu setiap hari mengatakan:
«“Ustadz harus serius!”»
Kehadiran beliau di depan kelas sudah menjadi pesan:
*«“Mengajarlah dengan sungguh-sungguh, karena apa yang kalian lakukan menentukan masa depan para santri.”»*
Inilah kekuatan kepemimpinan melalui keteladanan.
*Pelajaran bagi Pesantren Masa Kini*
Peristiwa yang terjadi sekitar empat puluh tahun lalu tersebut terasa semakin relevan pada masa sekarang.
Pesantren saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Teknologi berkembang cepat.
Sistem pendidikan semakin kompetitif.
Harapan masyarakat semakin tinggi.
Dan santri menghadapi perubahan sosial yang jauh lebih kompleks.
Dalam keadaan seperti ini, pimpinan pesantren tidak boleh terlalu jauh dari ruang kelas.
Kiai dan pimpinan pendidikan harus mengetahui:
– bagaimana guru mengajar;
– bagaimana santri belajar;
– apa kesulitan yang dihadapi guru;
– bagaimana suasana kehidupan santri;
– dan apakah nilai-nilai pesantren benar-benar hidup dalam keseharian.
Sebab, jika seorang pemimpin hanya mengenal lembaganya melalui laporan, maka ia hanya mengenal angka.
Tetapi jika ia hadir di tengah kehidupan pendidikan, maka ia akan mengenal realitas.
Laporan dapat mengatakan bahwa pembelajaran berjalan.
Tetapi kehadiran dapat menunjukkan bagaimana pembelajaran sesungguhnya berlangsung.
*Kiai yang Hadir Akan Melahirkan Guru yang Siap*
Pada akhirnya, peristiwa sederhana tersebut melahirkan sebuah rumusan pendidikan yang sangat kuat:
*«Kiai yang hadir akan melahirkan guru yang siap.*
*Guru yang siap akan melahirkan santri yang berkualitas.*
*Dan santri yang berkualitas akan menentukan masa depan peradaban.»*
Mungkin Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief tidak menyadari bahwa dua puluh menit berdiri di teras kelas tersebut akan menjadi sebuah kenangan pendidikan yang terus hidup puluhan tahun kemudian.
Tetapi justru di situlah kekuatan seorang pendidik.
Kadang ia tidak meninggalkan teori.
Ia meninggalkan pengalaman.
Kadang ia tidak meninggalkan buku.
Ia meninggalkan keteladanan.
Dan keteladanan sering kali jauh lebih lama hidup dibandingkan kata-kata.
*Penutup* :
*Dua Puluh Menit yang Menjadi Pelajaran Seumur Hidup*
Peristiwa itu mungkin hanya berlangsung sekitar dua puluh menit.
Pak Kiai datang.
Berdiri di teras kelas.
Memperhatikan.
Kemudian pergi.
Tetapi bagi saya, peristiwa itu menjadi sebuah pelajaran yang jauh lebih panjang daripada dua puluh menit.
Saya belajar bahwa:
«Kelas adalah jantung pendidikan.»
Saya belajar bahwa:
«Mengajar harus dilakukan dengan persiapan.»
Saya belajar bahwa:
«Fasilitas boleh sederhana, tetapi kesungguhan tidak boleh sederhana.»
Saya belajar bahwa:
*«Pemimpin yang besar tidak menjauh dari medan pendidikan.»*
Dan saya belajar bahwa:
«Keteladanan sering kali lebih kuat daripada instruksi.»
Kelas berdinding papan itu mungkin kini telah berubah.
Bangunan pesantren mungkin telah berkembang.
Generasi telah berganti.
Teknologi telah berubah.
Namun nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut tetap relevan:
«Pendidikan yang besar tidak dimulai dari ruang kelas yang mewah, tetapi dari guru yang siap dan pemimpin yang peduli.»
Dan mungkin, itulah salah satu rahasia mengapa sebuah pesantren dapat bertahan dan berkembang:
karena seorang kiai tidak hanya memimpin dari kejauhan, tetapi hadir untuk memastikan bahwa ilmu benar-benar hidup di dalam kelas.
*«Dua puluh menit perhatian seorang kiai, dapat melahirkan puluhan tahun kesungguhan seorang guru.»*