Opini – Bahasa Inggris kini telah menjelma menjadi bahasa internasional yang memainkan peran sentral dalam berbagai aspek kehidupan global. Mulai dari dunia bisnis, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga pendidikan internasional, semuanya menempatkan bahasa ini sebagai alat komunikasi utama. Kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi dianggap sebagai keterampilan tambahan, melainkan sebagai keahlian esensial yang wajib dimiliki oleh individu yang ingin berkompetisi secara global.
Namun demikian di Indonesia, realitasnya masih jauh dari ideal. Banyak pelajar, baik di tingkat sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, masih menghadapi kesulitan dalam menguasai bahasa Inggris. Mata pelajaran ini sering kali hanya dipandang sebagai salah satu kewajiban akademik, bukan sebagai keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran yang kaku dan kurangnya pengalaman langsung dalam penggunaan bahasa membuat proses belajar terasa membosankan dan jauh dari relevansi kehidupan nyata.
Salah satu akar permasalahan terbesar dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia adalah rendahnya minat dan motivasi, baik dari siswa maupun guru. Banyak tenaga pengajar bahasa Inggris yang belum memiliki latar belakang pendidikan yang benar-benar mendalam dalam bidangnya. Akibatnya, metode pengajaran yang digunakan pun terbatas dan kurang inovatif. Siswa menjadi kurang tertarik, apalagi bila mereka tidak merasakan manfaat langsung dari pembelajaran tersebut. Hal ini diperparah dengan minimnya fasilitas pendukung di sekolah, seperti laboratorium bahasa, media audiovisual, akses internet yang stabil, maupun bahan ajar digital yang mutakhir.
Selain itu, pendekatan pengajaran yang dominan masih bersifat teoritis dan tidak kontekstual. Padahal, belajar bahasa Inggris seharusnya berfokus pada praktik aktif, seperti berbicara, mendengar, dan menulis secara langsung dalam situasi nyata. Jika proses belajar tidak menyentuh aspek emosional dan pengalaman pribadi siswa, maka hasil yang diperoleh pun akan dangkal. Di sinilah pentingnya pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi dan empatik dengan memperhatikan kebutuhan, cara belajar, dan latar belakang siswa secara menyeluruh.
Di tengah era globalisasi dan revolusi digital, kemampuan berbahasa Inggris menjadi semakin vital. Pada dunia kerja, pendidikan tinggi, bahkan media sosial dan konten digital pun kini didominasi oleh penggunaan bahasa Inggris. Tidak heran jika mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik akan memiliki lebih banyak peluang dalam kehidupan profesional maupun personal. Sayangnya, menurut berbagai survei, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai.
Untuk mengatasi tantangan ini, perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak. Bukan hanya siswa yang harus berjuang keras untuk belajar, tetapi juga guru yang perlu diberi pelatihan rutin dan akses pada metode pengajaran yang lebih modern. Sekolah dan lembaga pendidikan pun harus menyediakan fasilitas yang memadai, termasuk teknologi dan lingkungan belajar yang mendukung. Pemerintah memiliki peran penting dalam membuat kebijakan yang berpihak pada pengembangan kompetensi bahasa Inggris secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan. Misalnya, penggunaan film, lagu, permainan, dan proyek kolaboratif yang berbasis bahasa Inggris bisa meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu, mengintegrasikan pembelajaran bahasa Inggris ke dalam kegiatan sehari-hari dan lintas mata pelajaran juga bisa membantu siswa lebih akrab dengan bahasa ini.
Jika semua pihak terlibat secara aktif dan konsisten, maka pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia akan mengalami perubahan yang signifikan. Kita bisa berharap munculnya generasi muda yang tidak hanya mampu lulus ujian bahasa Inggris, tetapi juga percaya diri menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan internasional, menulis karya ilmiah, ataupun membangun jejaring global. Kemampuan ini akan menjadi bekal penting bagi mereka untuk berkontribusi dalam dunia yang semakin terhubung secara global. (***)
*) Penulis merupakan Mahasiswa Unpam Fakultas Ekonomi Bisnis Prodi Akuntani S1 :
- ATIKA NABILA PUTRI
- DESY RATNA SARI
- HARI PURNOMO
- NAFITA AULIA SASSABILA