Tangerang, Satubanten – Demi menyelesaikan kasus stunting yang berada di wilayahnya, Pemkot Tangerang melakukan koordinasi dan kerjasama dengan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bisa menyelesaikan kasus Stunting, bukan sekadar penurunan angka kasus tapi penyelesaian.
Melihat dari data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Pemerintah Kota Tangerang berhasil menekan angka stunting yang awalnya 15,3 persen pada 2021 menjadi 11,8 persen pada tahun 2022, turun 3,5 persen. dan angka tersebut menjadi angka teserdah kasus Stunting di Provinsi Banten.
Intervensi ini diperkuat dengan pernyataan Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah yang menugaskan seluruh OPD mengambil peran sesuai dengan tupoksinya, sehingga target ini benar dapat tercapai sehingga Kota Tangerang bisa terbebas dari kasus stunting
“Walaupun Kota Tangerang termasuk terendah masalah stunting se-Provinsi Banten, tapi dengan berbagai program dan ikhtiar yang dilakukan, Pemkot Tangerang tetap targetkan permasalahan stunting di Kota Tangerang bisa selesai secara optimal,” tegas Arief
Kepala DP3AP2KB, Jatmiko menuturkan, DP3AP2KP di 2022 dalam penanganan stunting membentuk 754 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang tersebar di 13 kecamatan. Terdiri dari Kader PKK, Tenaga Kesehatan dan Kader KB, yang bertugas mendampingi keluarga berisiko stunting, dengan sasaran calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, bayi dua tahun (baduta) dan bayi lima tahun (balita).
Disamping itu, DP3AP2KB juga memiliki program Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL). Ada juga program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) yang juga dikuatkan beserta akses pelayanan keluarga berencana.
Ia menjelaskan bahwa DP3AP2KB fokus akan pada pencegahan ataupun pola asuh yang nantinya akan berpengaruh pada perbaikan asupan gizi yang bisa membuat angka stunting berkurang.