Satu berita mengulas segalanya

Ngomong Inggris Dikit Dibilang Sok! Kita Butuh English Zone, Bukan English Shame

Penulis : Mahasiswa Kelas 02SAKM003*

Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang

Opini – Di era globalisasi ini, bahasa Inggris sudah kayak nasi goreng—ada di mana-mana dan cocok untuk segala situasi. Mau cari kerja? Butuh. Nonton film? Pakai. Scroll TikTok bule? Apalagi. Tapi anehnya, meskipun bahasa Inggris sudah diajarkan sejak SD, bahkan TK, masih banyak orang Indonesia yang langsung grogi begitu disuruh ngomong, apalagi kalau ada yang dengar. Bukan karena nggak ngerti, tapi karena takut—takut salah, takut diketawain, atau yang paling umum: takut dibilang “alay” dan “sok bule”.

Anehnya lagi, banyak siswa yang bisa dapat nilai 90 di ujian grammar, tapi langsung keringet dingin waktu harus ngomong “my name is” di depan kelas. Bahasa Inggris di sekolah sering kali hidup di buku dan mati di mulut. Ia diperlakukan seperti rumus matematika, bukan alat komunikasi. Dan ketika seseorang mulai memberanikan diri pakai bahasa Inggris, respon orang sekitarnya justru bikin ciut: “Ih, sok banget sih”, “Pamer, ya?”, atau versi yang lebih halus, “Lagi latihan jadi bule, nih?”

Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah lingkungan yang kurang suportif. Pembelajaran bahasa Inggris di banyak sekolah masih kaku. Fokusnya masih pada teori: tenses, struktur kalimat, dan terjemahan paragraf. Jarang ada ruang untuk ngobrol santai atau latihan ngomong. Padahal, kemampuan bahasa itu tumbuh dari kebiasaan, bukan hafalan. Mirip kayak main gitar: kalau cuma baca buku chord doang, ya nggak akan bisa main lagu.

Belum lagi faktor sosial. Ketika siswa mau praktek ngomong, malah dapat label negatif. Bukan motivasi yang datang, tapi tatapan sinis dan bisik-bisik dari teman sebaya. Stigma ini bikin siswa menahan diri. Banyak yang sebenarnya semangat belajar, tapi akhirnya memilih diam supaya aman secara sosial. Di sisi lain, fasilitas pendukung juga minim. Jarang ada English Club yang aktif, apalagi program pertukaran atau pelatihan intensif. Guru pun kadang ikut terjebak dalam sistem yang fokus ke ujian ketimbang kemampuan hidup.

Menurut saya, belajar bahasa Inggris harus diperlakukan kayak belajar berenang: kalau cuma baca teori tapi nggak pernah nyebur ke kolam, ya tenggelam juga. Pembiasaan adalah kuncinya. Coba kita tengok negara seperti Filipina, yang menjadikan bahasa Inggris bagian dari keseharian. Di rumah, sekolah, bahkan di jalan, bahasa Inggris hadir bukan sebagai “pelajaran”, tapi sebagai sarana komunikasi. Di sana, siswa terbiasa dan akhirnya nyaman.

Kita di Indonesia perlu berani membuat perubahan, sekecil apapun. Misalnya, membiasakan ngobrol dengan teman sekelas pakai bahasa Inggris—nggak perlu sempurna, yang penting berani. Teknologi juga bisa bantu. Sekarang ada banyak aplikasi belajar seperti Duolingo, Grammarly, sampai nonton YouTube dengan subtitle aktif. Tapi tetap, secanggih apapun aplikasinya, kalau nggak pernah praktik langsung, kemampuan bicara akan stagnan. Belajar itu soal keberanian, bukan cuma soal skor TOEFL.

Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, semua pihak perlu terlibat. Sekolah bisa mulai dengan program English Day yang dijalankan konsisten, bukan sekadar formalitas setahun sekali. Buat aktivitas menarik: debat, drama mini, atau ngobrol bebas saat istirahat. Guru pun perlu diberikan pelatihan agar lebih kreatif dalam mengajar—supaya kelas bahasa Inggris bukan jadi kelas ngantuk.

Orang tua juga punya peran penting. Mereka bisa menanamkan sikap positif terhadap belajar bahasa asing sejak kecil. Nggak harus pasangin anak kursus mahal, cukup dengan menyediakan tontonan, bacaan, atau ngobrol santai pakai bahasa Inggris di rumah. Bahkan ngajak anak nyanyi lagu-lagu Taylor Swift pun bisa jadi awal yang bagus.

Pemerintah bisa mendukung lewat kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada pengembangan keterampilan komunikasi, bukan sekadar hafalan teori. Program pertukaran pelajar, pelatihan guru, atau akses gratis ke aplikasi belajar juga bisa jadi langkah nyata. Dan generasi muda, mari kita jadi pelopor perubahan. Jangan takut dibilang lebay atau “sok Inggris”. Lebih baik sok pintar daripada nyaman dalam diam.

Karena pada akhirnya, bahasa Inggris bukan soal jadi bule atau tidak, tapi soal membuka lebih banyak pintu di masa depan.

 

*) Nama Anggota :

  1. Dinia Salamah
  2. Naufal Zidanul Wafiq
  3. Nova Apriani
  4. Vita Savitri