Satu berita mengulas segalanya

Kopi Dadaman dan Optimisme Membangun Potensi Kopi Lokal Kabupaten Serang

 

Penulis : Fajar Murodi
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Semester 7

Opini- Kopi bukan sekadar minuman yang dinikmati untuk mengawali hari, tetapi juga dapatmenjadi sumber penghidupan dan peluang kewirausahaan bagi masyarakat.

Hal tersebut terlihat dari perjalanan usaha Kopi Dadaman yang dikembangkan oleh Pak Salim di Desa Citaman, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang.

Dari sebuah usaha yang pada awalnya dilakukan dengan penuh keraguan dan keterbatasan, Kopi Dadaman mampu berkembang hingga produknya dikenal di luar daerah bahkan memiliki pasar sampai ke Prancis. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal sebenarnya dapat memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikelola dengan tekad, inovasi, dan keberanian untuk terus mencoba.

Perjalanan Pak Salim dalam mengembangkan Kopi Dadaman dimulai pada 2019 ketika ia membentuk kelompok tani dan memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Pada awalnya, proses pengelolaan kopi masih dilakukan secara sederhana dan
manual. Namun, keadaan tersebut mulai berubah setelah adanya pelatihan dan dukungan fasilitas dari pemerintah, Kementerian, Bank Indonesia, serta berbagai pihak lainnya.

Bantuan berupa mesin grinding, roasting, dan mesin pres menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan kemampuan produksi. Pada 2021, Kopi Dadaman mulai melakukan produksi secara lebih serius.

Perjalanan tersebut kemudian mendapatkan momentum ketika Pak Salim mengikuti festival kopi di
Tangerang pada 2022 dan berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi tester cup yang diikuti sekitar 50 petani kopi se-Banten.

Hal yang menarik dari perjalanan tersebut adalah bagaimana optimisme menjadi modal penting dalam mempertahankan usaha. Pak Salim mengakui bahwa menjalankan usaha kopi tidak selalu mudah. Persaingan dengan berbagai produk kopi lainnya, keterbatasan kemasan, ketersediaan bahan baku, hingga persoalan pemasaran menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Namun, menurutnya, seorang
pelaku usaha tidak seharusnya terus membandingkan produknya dengan produk orang lain. Yang lebih penting adalah melihat perkembangan usaha dari waktu ke waktu dan terus meningkatkan pengetahuan.

Dalam dunia kopi, menurutnya, ilmu tidak memiliki batas karena selalu ada hal baru yang dapat dipelajari, mulai dari proses pengolahan, cita rasa, hingga strategi pemasaran.

Kekuatan lain Kopi Dadaman terletak pada proses pengelolaannya. Kopi yang
dihasilkan tidak langsung dijual setelah dipanen, tetapi melalui berbagai tahapan
pengolahan. Kopi dapat diproses dengan metode natural, washed/pulled washed, maupun semi washed, yang masing-masing membutuhkan waktu dan menghasilkan karakter rasa yang berbeda. Pada metode natural, kopi dapat dijemur selama sekitar 30–35 hari, sedangkan proses washed dapat berlangsung sekitar tujuh hari apabila kondisi cuaca mendukung.

Biji kopi yang belum melalui proses roasting dikenal sebagai green bean. Bahkan, limbah atau ampas kopi juga masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk maupun produk olahan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
kewirausahaan tidak hanya berbicara tentang menjual produk, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai dari setiap bagian proses produksi.

Identitas Kopi Dadaman juga menjadi bagian penting dalam membangun usaha. Nama Dadaman berasal dari Desa Citaman dan memiliki makna yang dekat dengan masyarakat. Slogan “Nikmati kopinya, pelihara pohonnya” menggambarkan pesan bahwa menikmati kopi seharusnya berjalan beriringan dengan menjaga keberlangsungan tanaman kopi.

Logo Kopi Dadaman juga telah memperoleh sertifikat paten. Dalam
membangun identitas tersebut, terdapat dukungan dari perguruan tinggi, termasuk mahasiswa yang melakukan penelitian maupun kegiatan KKM. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM lokal tidak harus dilakukan seorang diri, tetapi dapat melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.

Dari sisi pemasaran, Kopi Dadaman memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memperkenalkan produknya, sementara pemesanan banyak dilakukan melalui WhatsApp.

Menariknya, salah satu awal mula Kopi Dadaman dikenal hingga ke Prancis juga berasal dari pertemuan melalui media sosial. Ini membuktikan bahwa digitalisasi dapat membuka pasar yang jauh lebih luas bagi produk lokal.

Di sisi lain, masih terdapat pekerjaan rumah dalam pengelolaan media sosial karena pemasaran digital belum sepenuhnya maksimal. Bagi pelaku UMKM, kemampuan memanfaatkan media sosial secara konsisten menjadi semakin penting karena kualitas produk saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan kemampuan memperkenalkan produk kepada konsumen.

Kopi Dadaman juga telah membangun sejumlah kerja sama dengan berbagai pihak, seperti kafe, komunitas, dan perguruan tinggi. Bahkan, terdapat permintaan dari luar negeri terhadap kopi Banten. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kopi dari Kabupaten Serang memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh.

Namun, peluang tersebut juga
menghadirkan tantangan karena kopi hanya dapat dipanen sekitar satu kali dalam setahun dan membutuhkan waktu yang panjang sejak berbunga hingga siap dipanen.

Keterbatasan stok menjadi persoalan ketika permintaan meningkat. Karena itu, pengembangan lahan, pembibitan, peningkatan kapasitas petani, dan pengelolaan stok menjadi hal penting agar peluang pasar tidak justru menjadi masalah bagi keberlanjutan usaha.

Menurut saya, pengalaman Kopi Dadaman memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan kewirausahaan tidak selalu dimulai dari modal yang besar. Usaha dapat tumbuh dari keberanian untuk memulai, kemauan belajar, kemampuan melihat peluang, serta konsistensi dalam mengembangkan produk.

Dukungan pemerintah dan perguruan tinggi memang penting, tetapi keberlanjutan usaha pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk mengelolanya secara mandiri dan terus berinovasi.

Kopi Dadaman juga menunjukkan bahwa Kabupaten Serang memiliki potensi produk lokal yang layak untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Dari Ciomas, kopi tersebut dapat menjangkau berbagai daerah bahkan pasar internasional. Ke
depan, pengembangan kawasan kopi di Ciomas yang direncanakan hingga 2030 dapat menjadi peluang besar apabila didukung dengan peningkatan kualitas produksi, regenerasi petani, penguatan branding, pemasaran digital, serta kesinambungan bahan baku.

Pada akhirnya, secangkir kopi yang kita nikmati bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan panjang di baliknya. Ada petani, pengusaha, proses produksi,teknologi, kolaborasi, dan perjuangan untuk mempertahankan usaha.

Kisah Pak Salim dan Kopi Dadaman menjadi bukti bahwa dari sebuah desa di Kabupaten Serang, produk lokal mampu melangkah lebih jauh. Kopi lokal tidak seharusnya hanya menjadi komoditas, tetapi harus mampu menjadi identitas dan kekuatan ekonomi masyarakat daerah.(Sbs)