Huawei dan UNESCO Memperluas Program “Opens Schools” ke Berbagai Negara-Negara

11

PARIS, Satubanten – UNESCO dan Huawei kemarin meluncurkan program Technology-Enabled Open Schools for All System (TeOSS) Fase Kedua di acara UNESCO Digital Futures of Education Seminar. Kedua pihak juga mengumumkan, fase kedua dari program tersebut akan berlangsung pada periode 2024-2027 di Brazil, Thailand, dan Mesir. TeOSS Fase Pertama telah mendatangkan manfaat bagi ribuan tenaga pendidik di Mesir, Ghana, dan Etiopia.

Sejalan dengan UN SDG4, TeOSS membangun sistem pendidikan yang lebih tahan krisis, inklusif, dan siap memenuhi kebutuhan masa depan dengan mengandalkan teknologi untuk menyediakan sarana digital, pelatihan, dan dukungan kebijakan bagi tenaga pendidik dan pelajar.

“Di tengah gelombang transformasi digital yang luar biasa, pendidikan menjadi sektor terdepan. Lewat teknologi, sektor pendidikan tidak hanya ingin memperluas akses, namun juga membuat terobosan dalam hal esensi belajar dan ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang,” ujar Stefania Giannini, Assistant Director-General for Education, UNESCO. “Berkat dukungan sejumlah mitra seperti Huawei, kami menangkap peluang revolusi digital guna merumuskan masa depan pendidikan yang inklusif, setara, dan mengutamakan manusia.”

Sekilas program Open Schools Fase Pertama

TeOSS Fase Pertama berlangsung pada periode 2020-2024 di Mesir, Etiopia, dan Ghana. UNESCO dan Huawei membantu tiga kementerian pendidikan di negara-negara Afrika tersebut dalam merancang, menerapkan, dan mengevaluasi sistem open school lewat tiga proyek uji coba.

Sebagai bagian dari proses tersebut, perwakilan kementerian pendidikan dari tiga negara ini berbagi tentang perkembangan, praktik terbaik, dan pengalaman dalam TeOSS Fase Pertama di acara seminar UNESCO yang digelar kemarin.

“Program ini ingin mengatasi tantangan pendidikan dengan mengintegrasikan platform belajar digital dan bahan belajar digital yang sesuai dengan kurikulum dan kompetensi digital para guru. TeOSS juga ingin mempromosikan model pendidikan terbuka melalui kebijakan pendidikan digital tingkat nasional,” jelas Hegazi Idris, Penasihat Menteri Literasi dan Pendidikan Jangka Panjang, Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Teknis, Mesir.

Di Mesir, TeOSS membantu 950.000 tenaga pendidik K-12 melalui National Distance Learning Centre.
Di Ghana, TeOSS meningkatkan platform pendidikan nasional bagi pelajar dan guru pada tingkat nasional. Di 10 sekolah uji coba, program ini telah mendatangkan manfaat bagi 1.000 guru dan 3.000 pelajar.
Di Etiopia, TeOSS mendatangkan manfaat bagi 12.000 pelajar dan 250 tenaga pendidik di 24 sekolah menengah yang terpilih sebagai lokasi uji coba.
Di acara seminar UNESCO tersebut, para perwakilan asal Brazil, Thailand, dan Mesir membahas isu-isu nasional yang dihadapi sektor pendidikan, serta peran program TeOSS dalam mengatasinya.

“Thailand melansir ‘Digital Thailand’ untuk menyediakan pendidikan digital lewat konektivitas internet, konten, dan kompetensi,” jelas Suthep Kaengsanthia, Permanent Secretary for Education, Kementerian Pendidikan, Thailand.

“Brazil telah menetapkan target konektivitas universal untuk seluruh kepentingan dunia pendidikan pada sekolah dasar negeri pada 2026,” papar Barbara Bacellar Rodrigues de Godoy, Primary Education Project Management Consultant, Kementerian Pendidikan, Brazil.

TeOSS sejalan dengan domain pendidikan dari inisiatif inklusi digital Huawei, TECH4ALL. Lewat inisiatif ini, Huawei memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan kesetaraan dan kualitas pendidikan.

“Huawei berkomitmen menjalin kerja sama dengan UNESCO, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengembangkan solusi teknologi yang mewujudkan dunia digital yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Liu Mingju, Director, TECH4ALL Program Office, Huawei.

Comments are closed.