Satubanten.com- Forum Silaturrahim Pondok Pesantren Provinsi Banten (FSPP Banten) bersama sejumlah perguruan tinggi menjajaki pengembangan kurikulum Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berparadigma pesantren pada momentum Hari Santri, 23 Oktober 2026. Diskusi berlangsung pagi hari di ruang rapat Dekanat FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan dilanjutkan sore hari di ruang Rektorat Universitas La Tansa Mashiro (UNILAM). Gagasan ini bertujuan memadukan keunggulan sains dan teknologi dengan iman, adab, karakter, serta kemaslahatan masyarakat.
Penjajakan ini melibatkan Dr. H. Fadlullah dan tim dari FKIP UNTIRTA, Aep Patah, Ph.D dan tim dari FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. H. Hidayatulloh, M.Pd. dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, serta Elang, M.Pd selaku Wakil Dekan I FKIP Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) beserta tim. Turut hadir Rektor UNILAM Dr. KH. Soleh Rosyad, Dr. KH. Ikhwan Hadiyyin dari Pesantren Darel Azhar, dan Dr. KH. Sulaiman Effendi dari Pesantren Manahijussadat. Peserta lainnya ialah KH. Suparman dari Pesantren Dar el Rofa’, KH. Aan Subhan dari PPM El Karim Lebak, KH. Milhayudi dari PP Nasyrul Ulum Cilegon, KH. M. Shodiqin dari Pesantren Nur el Bantani, serta Ustadz Muhit dari Pesantren Al Mubarok, Kota Serang.
Rangkaian silaturahmi dan penjajakan kolaborasi mencakup FKIP UNTIRTA, PPM Darel Azhar, UNILAM, dan PPM Manahijussadat. Pertemuan lintas lembaga ini menjadi ruang bertukar gagasan tentang penguatan pendidikan pesantren di tengah perkembangan sains dan teknologi. Pengembangan kurikulum STEM diharapkan memperluas pengalaman belajar santri tanpa meninggalkan identitas dan tradisi keilmuan Islam.
STEM mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika melalui pembelajaran yang mendorong santri bereksperimen, berpikir kritis, menganalisis data, serta merancang solusi. Dalam paradigma pesantren, penguasaan ilmu tersebut berjalan seiring dengan penguatan iman, adab, akhlak, dan tanggung jawab. Ilmu dan teknologi tidak berhenti pada kecakapan akademik, tetapi diarahkan untuk menghadirkan manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Penerapannya dapat dimulai dari persoalan nyata di lingkungan pesantren, seperti air bersih, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, kesehatan, energi, dan teknologi tepat guna. Santri dapat belajar mengamati masalah, menguji gagasan, melakukan eksperimen, dan mengevaluasi hasil secara sistematis. Dengan pendekatan ini, pesantren berpeluang menjadi ruang tumbuhnya kreativitas, inovasi, dan kemandirian yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Perguruan tinggi dapat mendukung pengembangan kerangka kurikulum, bahan ajar, kompetensi guru, laboratorium pembelajaran, dan penelitian kolaboratif. Pesantren berkontribusi melalui pengalaman pendidikan yang memadukan ilmu, ibadah, keteladanan, kedisiplinan, dan pembentukan karakter. Tahap berikutnya perlu mencakup pemetaan kebutuhan, penyusunan rancangan kurikulum, uji coba pembelajaran, dan evaluasi bersama agar gagasan ini berkembang secara terarah dan terukur.
Penjajakan ini menjadi langkah awal untuk mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan perkembangan sains dan teknologi modern. Kurikulum STEM berparadigma pesantren diharapkan melahirkan santri yang kuat iman dan adabnya, cakap berpikir ilmiah, kreatif berinovasi, serta mandiri memecahkan persoalan. Tujuan akhirnya bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan menggunakan ilmu secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.