Satu berita mengulas segalanya

BRIN – WIMA Jalin Kerja Sama Pengembangan Baterai Logam Tanah Jarang

Jakarta, SatuBanten – Paska penandatangan Nota Kesepahaman atau MoU berupa pengikatan secara formal kerja sama yang meliputi, penelitian, pengembangan, pemanfaatan hasil invensi dan inovasi di bidang energi baru terbarukan antara BRIN dengan PT. Wika Industri Manufacture (WIMA), di Gedung BJ Habibie Jakarta, pada Selasa (21/03), R. Hendrian selaku Plt. Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan harapannya.

MoU yang ditandatangani langsung oleh R. Hendrian dari BRIN, dan Muhammad Samyarto, selaku Direktur Produksi PT. WIMA tersebut memberikan harapan baru.

“Penandantanganan MoU ini, untuk mensinergikan sumber daya dan kompetensi yang dimiliki oleh kedua pihak. Guna mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing, untuk berkontribusi dalam pencapaian kolaborasi kerja sama,” ujar Hendrian.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan bahwa kedepan akan terus diperluas jangkauannya.

“Ruang lingkup MoU juga terkait pemanfaatan hasil riset dan inovasi di bidang kendaraan listrik ramah lingkungan, pada pemerintah pusat dan daerah yang disepakati. Tentunya juga, pemanfaatan bersama fasilitas sarana dan prasarana,” tuturnya. 

Sementara itu, Edi Himawan selaku Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi pada Kedeputian Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN mengatakan, sebelum terbentuknya BRIN, PT. WIMA telah melakukan kerja sama, seperti riset Fast Charging, dan re-engineering suspension shock up short bersama BPPT. 

“Secara riil, kerja sama telah dilaksanakan di Satuan Kerja dan Organisasi Riset BRIN. Pada September 2022, telah dilakukan penandatangan Letter of Intention (LoI). Kerja sama tersebut berupa pemanfaatan logam tanah jarang untuk baterai, dengan Pusat Risat Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN,” ucapnya.

Sementara itu, Syamyanto sebagai Direktur Produksi PT. WIMA memaparkan, kendaraan listrik berpeluang berkembang pesat di Indonesia.

“Penjualan, pemanfaatan, hingga pengembangan teknologi jenis kendaraan ini, diprediksi akan meningkat di masa depan. Pihak industri, tetap semangat. Apalagi didorong oleh Inpres 2022, tentang kebijakan penggunaan kendaraan listrik instansi pemerintah,” ujarnya.

Lebih jauh dia menerangkan, bahwa MoU ini merupakan bentuk hadirnya teknologi bagi negeri.

“Kami membuat GESIT motor listrik buatan Indonesia pada 2015, yang ditopang oleh para periset Kemenristek saat itu, sekarang berlanjut dengan BRIN. Khususnya pengujian baterai. Data komposisi baterai yang dikerjakan  BRIN inilah, yang menjadi dasar pengembangan motor Gesit,” kenangnya. 

Kerja sama riset hasil pengembangan baterai dari Logam Tanah Jarang (LTJ) saat ini, diharapkan mampu berkompetisi. Menandingi dominasi baterai lithium, yang sudah didominasi negara maju. Semoga riset ini berhasil, karena Indonesia memiliki sumber alam LTJ untuk mendukung industri elekronik.  

Maksud dari penandatanganan MoU ini, sebagai pedoman bagi kedua pihak. Dalam melaksanakan kegiatan riset dan pemanfaatan hasil riset, di bidang teknologi energi baru terbarukan. Manufaktur kendaraan berbasis baterai, dan ekosistem perangkat pendukungnya. (SBS/Mhs)