Satu berita mengulas segalanya

MBG: Mencegah Stunting, Menyelamatkan Masa Depan Banten

 

Ditulis oleh : Wardah Suhailah
Prodi: Ilmu pemerintahan
Mahasiswa universitas Pamulang

 

Satubanten.com- Banten masih bergulat dengan masalah stunting. Data SSGI 2023 mencatat angka stunting di Banten sebesar 19,8%. Angka ini jauh dari target nasional 14% pada 2024. Stunting bukan hanya soal tubuh pendek. Dampaknya jauh lebih berbahaya: daya pikir menurun, risiko penyakit kronis naik, dan produktivitas turun saat dewasa.

Di sinilah urgensi Program Makanan Bergizi Gratis atau MBG. MBG bukan sekadar bagi-bagi nasi kotak. Ini adalah intervensi gizi terukur di titik paling krusial: usia sekolah. Satu porsi MBG dirancang mengandung 600-800 kalori dengan komposisi protein hewani, sayur, buah, dan karbohidrat kompleks. Jika konsisten, defisit gizi mikro yang selama ini menghambat tumbuh kembang anak bisa ditutup.

Pemerintah menyebut setiap Rp1 untuk gizi anak akan kembali Rp16 dalam bentuk peningkatan produktivitas. Artinya MBG adalah investasi, bukan belanja. Bagi Banten yang punya banyak kantong kemiskinan di Lebak, Pandeglang, dan Serang Utara, MBG bisa jadi penentu apakah generasi berikutnya akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan atau keluar dari sana.

Tantangannya ada pada eksekusi. Dapur MBG harus higienis. Menu harus disusun ahli gizi, bukan asal kenyang. Yang paling penting: libatkan UMKM dan petani lokal Banten. Jangan sampai program untuk anak Banten, bahan bakunya impor dari luar. Jika rantai pasoknya lokal, MBG akan punya 2 dampak sekaligus: anak sehat dan
ekonomi desa naik.

Sudah waktunya kita berhenti berdebat soal anggaran MBG. Mari mulai mengawasi kualitasnya. Karena anak Banten yang sehat hari ini, adalah pekerja, guru, dan pemimpin Banten 20 tahun lagi.