Abstrak
Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk mengendaliakan
dorongan-dorongan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu. Individu yang memiliki kemampuan kontrol diri akan membuat keputusan dan mengambil langkah tindakan yang efektif sehingga menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari yang tidak diinginkan.
Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya pengelolaan keuangan pribadi sejak usia dini. Artikel ini mengangkat tema “Bijak Mengelola Uang: Pentingnya Kontrol Diri dalam Mengatur Keuangan” yang dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada siswa SMPN 171 Jakarta Timur. Materi yang diberikan meliputi pengenalan uang, manajemen keuangan pribadi, konsep kontrol diri dalam keuangan, perbedaan kebutuhan dan
keinginan, strategi pengelolaan keuangan, serta pentingnya menabung dan mencatat arus kas sederhana. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan penyampaian materi, diskusi interaktif, serta pemberian contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mulai memahami pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, mengontrol pengeluaran, serta membiasakan diri untuk menabung. Selain itu, siswa
juga menjadi lebih sadar bahwa pengelolaan keuangan yang baik dapat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan secara lebih bijak dan terencana.
Melalui artikel diharapkan literasi keuangan siswa dapat meningkat sehingga mampu membentuk kebiasaan finansial yang positif sejak dini. Program edukasi keuangan seperti ini dinilai penting untuk terus dikembangkan sebagai upaya membangun generasi muda yang lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi.
Kata Kunci: literasi keuangan, kontrol diri, manajemen keuangan pribadi, siswa, PMKM,Universitas Pamulang,Jakarta Timur
Pendahuluan
Uang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang nggak bisa kita hindari.
Dari hal sekecil jajan di kantin sampai kebutuhan yang lebih besar, semuanya
berkaitan dengan bagaimana kita mengelola keuangan. Tapi sayangnya,
kemampuan mengelola uang itu nggak datang dengan sendirinya perlu dipelajari dan dibiasakan sejak dini. Banyak orang baru sadar pentingnya mengatur keuangan justru ketika sudah mengalami masalah finansial, dan itu tentu lebih susah untuk diperbaiki.
Tantangan ini makin terasa nyata buat generasi Z yang tumbuh di era serba
digital. Setiap hari kita dikelilingi iklan, konten lifestyle di media sosial, notifikasi
promo, dan pengaruh teman yang bisa mendorong kita untuk terus belanja.
Fenomena seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan impulsive buying membuat
banyak remaja sulit membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana
yang hanya ikut-ikutan tren. Tanpa kesadaran finansial yang cukup, uang bisa habis tanpa jejak yang jelas.
Di sinilah kontrol diri memegang peran yang sangat penting. Kemampuan
untuk menahan dorongan belanja yang tidak perlu, menetapkan prioritas, dan tetap konsisten dengan rencana keuangan adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kontrol diri bukan berarti pelit atau tidak boleh menikmati hidup justru sebaliknya, dengan mengontrol pengeluaran, kita jadi punya lebih banyak ruang untuk hal-hal yang
benar-benar bermakna dan bermanfaat.
Artikel ini disusun sebagai upaya untuk membangun kesadaran finansial
sejak usia sekolah. Melalui pemahaman tentang manajemen keuangan pribadi,
strategi menabung, dan pentingnya mencatat arus kas, diharapkan siswa bisa mulai membentuk kebiasaan finansial yang positif. Tujuannya bukan untuk mempersulit, tapi untuk membekali — supaya ke depannya bisa lebih mandiri, lebih terencana, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan soal uang.
Tinjauan Pustaka
Menurut Nuraeni (2015) Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk
mengendaliakan dorongan-dorongan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu. Individu yang memiliki kemampuan kontrol diri akan membuat keputusan dan mengambil langkah tindakan yang efektif sehingga menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari yang tidak diinginkan. Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa kontrol diri merupakan respon yang baru dimulai untuk menggantikan sesuatu, misalnya respon yang berkaitan dengan
mengalihkan perhatian dari sesuatu yang diinginkan, mengubah emosi, menahan dorongan tertentu, dan memperbaiki kinerja. Menurut Naomi, Prima dan Mayasari (2012) indikator dalam kontrol diri meliputi: (1) Keinginan. (2) Emosi. (3) Impuls atau
Dorongan. (4) Mengontrol pengeluaran (5) Membatasi penggunaan keuangan.
Perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang atau jasa secara berlebihan yang tidak didasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan, dorongan emosional, ataupun pengaruh lingkungan. Menurut Schiffman & Kanuk (2010), perilaku konsumtif berkembang akibat tekanan sosial, gaya hidup, dan pengaruh media. Hal ini sangat relevan bagi generasi Z, yaitu kelompok yang lahir dalam era digital dan sangat dekat dengan teknologi serta informasi cepat. Beberapa faktor utama yang memicu perilaku konsumtif generasi Z adalah:
1.Pengaruh Media Sosial
Generasi Z sering terpapar konten tren, gaya hidup, dan rekomendasi produk
dari influencer. Menurut penelitian Deloitte (2021), 64% remaja membeli
produk karena terpengaruh konten media sosial.
2.Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
FOMO mendorong remaja untuk tetap mengikuti tren agar tidak merasa
tertinggal atau tidak diterima oleh kelompoknya.
3.Impulsive Buying
Aplikasi belanja online mempermudah pembelian tanpa proses berpikir
panjang. Banyak remaja membeli barang karena flash sale, promo, atau
notifikasi diskon.
4.Kurangnya kontrol diri
Remaja berada pada tahap perkembangan emosional yang belum stabil sehingga mudah terpengaruh oleh stimulus eksternal seperti iklan atau
ajakan teman.
Kebutuhan dan keinginan merupakan dua konsep dasar dalam literasi
ekonomi dan pengelolaan keuangan pribadi. Menurut Samuelson & Nordhaus
(2012), kebutuhan adalah barang atau jasa yang harus dipenuhi untuk
mempertahankan kehidupan, seperti makanan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal. Sedangkan keinginan (wants) adalah barang atau layanan yang tidak wajib, tetapi memberikan kenyamanan atau kepuasan tambahan.
STRATEGI PENGELOLAAN KEUANGAN PRIBADI
1.Menyusun anggaran : dengan membuat presentase alokasi keuangan 50%
dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari,30% dialokasikan untuk keinginan
,20%. dialokasikan untuk kebutuhan masa depan ( Tabungan)
2. Memiliki dana darurat jika peneluaran lebihbesar
3.Membatasi utang
4.Mengunakan kartu kredit secara bijak
5.Mencatat pengeluaran serta memonitor Riwayat
Melek finansial merupakan faktor penting dalam menentukan perilaku
menabung dan masalah keuangan (Sabri et al., 2008). Anthes (2004) bmendefinisikan melek finansial sebagai kemampuan membaca, menganalisis,
mengelola dan berkomunikasi tentang kondisi keuangan pribadi yang
mempengaruhi materi kesejahteraan. Menurut Chen dan Volpe (1998), Terdapat 4 indikator melek finansial yaitu:
1.Pengetahuan umum tentang keuangan,
2.Simpanan dan pinjaman,
3.Asuransi,
4.Investasi.
Menabung merupakan aktivitas menyisihkan sebagian pendapatan atau uang saku untuk disimpan dan digunakan di masa mendatang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2020) menjelaskan bahwa menabung tidak hanya berfungsi untuk penyimpanan uang, tetapi juga untuk membangun kebiasaan positif yang mendukung perencanaan keuangan jangka panjang. Ada beberapa manfaat menabung bagi remaja:
1.Membangun kemandirian finansial
Remaja dilatih untuk tidak bergantung pada orang tua untuk kebutuhan kecil.
2.Melatih perencanaan dan tujuan finansial
Menabung membantu siswa memahami pentingnya menetapkan target dan
mencapainya dengan konsisten.
3.Mengurangi perilaku impulsif
Ketika remaja memiliki tujuan menabung, mereka lebih mampu
mengendalikan keinginan konsumtif.
Metodologi
Kegiatan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan edukatif.
Metode ini dipilih karena mampu menggambarkan secara langsung proses
pelaksanaan kegiatan serta respon peserta selama kegiatan berlangsung. Subjek dalam kegiatan ini adalah siswa yang berada di SMPN 171 Jakarta Timur dengan rentang hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Pemilihan subjek ini didasarkan pada pentingnya kontol diri dalam mengelola uang saku.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi.
Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung keaktifan, partisipasi,
serta respon siswa selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, dokumentasi digunakan sebagai bukti pelaksanaan kegiatan dalam bentuk foto dan catatan kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa metode, yaitu penyampaian materi, diskusi interaktif, serta kuis dan permainan edukatif. Pendekatan ini digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih santai namun tetap efektif dalam menyampaikan materi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan melihat tingkat partisipasidan respon siswa selama kegiatan berlangsung.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Bijak
Mengelola Uang (Pentingnya Kontrol diri dalam mengatur finansial), dilaksaakan di SMPN 171 Jakarta Timur dengan melibatkan siswa sebagai peserta utama.kegiatan ini berlangsung dalam empat tahapan yaitu : pemaparan materi,praktek pembuatan pencatatan pemasukan dan pengeluaran,diskusi interaktif,serta kuis dan permainan
edukatif.
Salah satu hasil dari temuan dalam kegiatan ini adalah kurangnya
pengetahuan dalam mengatur keuangan dan membedakan antaran kebutuhan
utama dengan keiginan.saat sesi diskusi,sebagian dari siswa cenderung
menyamakan antara kedua konsep tersebut.misalnya,membeli minuman yang kekinian setelah pulang sekolah diangap sebagai kebutuhan karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.setelah pemaparan materi, siswa dibekali ilmu dan pemahaman mereka sejalan dengan konsep Samuelson & Nordhaus (2012) bahwa kebutuhan adalah hal yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kehidupan sedangkan keinginan bersifat tambahan.
Hasil dari observasi menunjukan bahwa beberapa siswa pernah menghabiskan uang saku secara impulsif akibat pengaruh media sosial,tren,dan
ajakan teman. Fenomena FOMO (fear of Missing Out) dan impulsive buying yang
dibahas dalam materi mendapat respon yang baik dan relevan.banyak siswa
mengakui bahwa pernah mengalaminya.
Pada sesi pemaparan strategi pengelolaan keuangan, siswa diperkenalkan dengan metode alokasi sederhana berbasis persentase: 50% untuk kebutuhan harian, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan. Metode ini mendapat respons positif karena mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan pada skala uang saku. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran siswa
terhadap pentingnya kontrol diri dalam mengelola keuangan pribadi. Siswa yang
awalnya tidak memiliki kebiasaan menabung mulai termotivasi untuk menyisihkan sebagian uang saku mereka secara rutin setelah memahami manfaatnya bagi kemandirian finansial jangka panjang.
Melalui kegiatan ini, siswa diberikan pemahaman mengenai kosep uang,pentingnya kontrol diri dalam pengelolaan uang,strategi pengelolaan
keuangan.Dengan adanya kontrol diri, remaja dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga pengeluaran menjadi lebih bijak,serta lebih cermat dalam mengelola uang untuk mencapai tujuan finansial kedepannya.
Secara keseluruhan, kegiatan PKM ini memberikan dampak positif terhadap
pemahaman siswa terkait penting nya kontroldiri dan bijak dalam menggunakan uang. Diharapkan siswa dapat mulai menerapkan pengelolaan keuangan sederhana dalam kehidupan sehari-hari demi masa depan yang lebih baik.
Kesimpulan
Berdasarkan pelaksaan kegiatan edukasi keuangan yang dilaksanakan di SMPN 171 Jakarta Timur, dapat disimpulkan bahwa kontrol diri memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat terutama dilingkungan sekolah khususnya siswa-siswi.remaja saat ini sangat sering
dihadapkan pada berbagai pengaruh teknologi khususnya media sosial,tren,dan promosi yang dapat membuat siswa terpengaruh untuk melakukan perilaku yang konsumtif.oleh karana itu pendidikan dan pemahaman mengenai cara bijak dalam mengelola uang perlu ditanamkan sejak dini agar tidak mudah terpengaruh.
Melalui kegiatan sosialisasi dan diskusi interaktif yang telah dilakukan,siswa
memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan kebutuhan dan keiginan,pentingnya menabung sejak dini,serta cara mengatur uang saku secara teratur dan mempunyai nilai.seselain itu, siswa juga mulai meyadari bahwa dalam pengelolaan uang yang baik tidak hanya akan membantu memenuhi kebutuhan saat ini tetapi juga sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan finansial dimasa
yang akan datang.
Dengan demikian,edukasi ini dapat dikembangkan agar siswa bisa
membangun kebiasaan finansial yang positif,menjadi lebih mandiri dalam
mengambil keputusan keuangan, serta terhindar dari perilku konsumtif yang
berlebihan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan untuk mencapai tujuan finansial kedepannya.
Daftar Pustaka
Putra, A. D., Mansur, M., & Wahono, B. (2023). Pengaruh Literasi Keuangan,
Pendidikan Keuangan di Keluarga dan Kontrol Diri terhadap Manajemen
Keuangan Pribadi Remaja. E-Jurnal Riset Manajemen.
Tumanggor, R., Assyukur, M. I., Adesti, P. A., & Aini, A. N. (2025). Membangun mindset
finansial yang sehat untuk generasi Z. SocServe: Jurnal Pengabdian kepada
Masyarakat, 2(3), 75–82
Tahu, G. P. (2025). Mengelola keuangan pribadi di era digital. Tanah Air Beta.
Amilia, S., Bulan, T. P. L., & Rizal, M. (2018). Analysis of factors affecting student
Bidik Misi savings behavior. Jurnal Manajemen Motivasi, 14(1), 65-72.