Warga Padahayu, Tak Pupus Harapan Meski Pemerintah Tak Kunjung Bangun Jembatan

KUPAS TUNTAS

09 November 2018

Lama tak mempunyai jembatan, warga Kampung Cingenge dan Kampung Padahayu sempat berharap pada pemerintah. Namun hingga kini harapan tersebut belum juga terpenuhi. Tak pupus harapan meski tanpa jembatan, warga tetap bertahan.

Cikedal (9/11/2018), Satubanten.com – Warga Kampung Cingenge dan Kampung Padahayu, Kecamatan Cikedal sudah bertahun-tahun hidup tanpa jembatan, padahal keberadaan jembatan tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas warga. Setelah mendapatkan informasi dari salah seorang Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Untirta, tim Relawan Kampung dan Satubanten News berkunjung ke lokasi tersebut dan mendapatai bahwa warga telah tiga kali dikecewakan oleh pemerintah terkait pembangunan jembatan.

Sebelum warga menyerah dengan tidak adanya jembatan, sebetulnya warga pernah membuat jembatan swadaya dengan menggunakan bambu, namun jembatan tersebut hanya bertahan selama setahun. Derasnya air sungai saat musim pengghujan membuat jembatan bambu tersebut tidak sanggup bertahan.

“Dulu mah pernah ada kita buat sama masyarakat jembatan dari bambu itu. Tapi ya cuma bentar, abis itu rusak lagi. Cuma bertahan nggak sampai setahun, Pak. Kemarin waktu ada anak Mahasiswa KKN (KKM,red), kita pengen buat lagi. Tapi ya mereka juga keterbatasan waktu, cuma satu bulan kan,” tutur Safrudin, ketua Rukun Warga (RW) 05 Kampung Padahayu.

Baca Juga : Puluhan Tahun, Siswa Nekat Sebrangi Sungai Tanpa Jembatan

Membuat jembatan alternatif dari Bambu adalah pilihan terakhir yang mampu dilakukan oleh warga. Pasalnya sebelumnya telah ada survei dari 3 lembaga pemerintah untuk melakukan pembangunan jembatan di tempat tersebut. Namun setelah selesai survei, tidak ada kabar lebih lanjut dari pemerintah. Akhirnya masyarakat harus menyerah dengan membuat jembatan swadaya.

“Waktu tahun 2004 pernah dilihat, Pak. Dari provinsi katanya, abis itu ternyata lama nggak ada kabar. Pernah sekali juga dari pemerintah Kabupaten, tapi ya begitu lagi. Terus satu lagi itu saya lupa dari pemerintah bagian apa, pokoknya pernah sampai tiga kali itu. Kalau saya amah yang penting ada, soalnya buat anak-anak berangkat sekolah itu Pak, buat pendidikan, kasian,” sambungnya.

Menurut Bahrudin, Kepala Urusan (Kaur) Desa Cingenge, keberadaan jembatan selain untuk lalu lintas pendidikan anak sekolah tapi juga sangat penting untuk lalu lintas warga yang hendak ke Pasar Babad. Mayoritas penduduk baik Desa Cingenge, dan Desa Padahayu memang sebagai produsen Emping. Warga ke Pasar Babad setiap pagi khususnya di hari Senin dan Jum’at untuk menjual hasil produksi emping mereka ke pengepul.

Baca Juga : Keripik Ceplis Melinjo Khas Banten

“Setiap hari biasanya warga rata-rata habis lima kilo Melinjo pak. Pengepulnya itu ya di Pasar Babad itu. Jadi mereka selalu bawa hasil Emping dari Cingenge ke Padahayu ini. Kalo ada jembatan mah deket, ini karena nggak ada jembatan mereka harus muter ngelewati lima desa. Yang harusnya cuma 10 sampai 15 menit ini muter bisa sampe 20 sampe 30 menit,” kata Bahrudin.

Selain kegiatan ekonomi warga dari Cingenge ke Padahayu, warga dari Padahayu juga harus hilir mudik untuk bisa mengakses kantor kelurahan dan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas yang letaknya ada di Desa Cingenge. Karena jauhnya akses tanpa jembatan, dan tidak punya biaya cukup, masyarakat banyak yang menyerah untuk menyeberangi sungai di waktu-waktu air sungai nampak aman. Jika hujan mulai datang dan arus sungai mulai tidak dapat diajak bekerja sama, pupus sudah harapan masyarakat. Karenanya tidak heran saat tim Relawan Kampung dan Satubanten News datang bersama tim survei PT. Chandra Asri Petrochemical, harapan dan semangat masyarakat kembali terlihat.

 

Ditulis oleh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang Emping Melinjo.

You might also like
Comments
Loading...