Warga Cimanggu Mulai Melirik Tanaman Porang

Cimanggu, (22/12/2019) SatuBanten – Tanaman porang atau iles-iles makin dilirik oleh warga Kecamatan Cimanggu Pandeglang. Jumlah pembudidayanya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Di Desa Tangkilsari, Kecamatan Cimanggu, misalnya, lebih dari 100 petani sudah mengembangkan tanaman bernama latin Amorphopallus muelleri Blume ini.

Yoyoh, salah seorang petani porang di Desa Tangkilsari mengatakan bahwa kondisi ini bertolak belakang dengan masa lalu. Dulu, banyak warga yang memandang sebelah mata.

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak warga Tangkilsari menanam porang. Ada yang menjual basah da nada juga yang menjual kering. Biasanya setelah umbi porang kering itu kemudian diolah di pabrik untuk dijadikan tepung. Proses ini sekaligus menghilangkan zat penyebab gatal yang menyertainya.

“Semakin hari, banyak warga yang ikut menanam. Karena hasil penjualannya cukup menjanjikan,” ujar Yoyoh ditemui di kediamannya, Ahad (22/12).

Pria berusia 40 tahun itu menyatakan bahwa harga jual saat ini di tingkat petani bisa 5.000 perkilo basah. “lumayan bagi kami, biasanya kami mengacuhkan tanaman ini, namun beberapa bulan terakhir petani mulai serius menanam dan memeliharanya,” ungkap Yoyoh.

Yoyoh menjelaskan, biasanya da pengepul yang datang membeli ke petani secara langsung. Naik-turunnya harga yang dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, Yoyoh menjelaskan bahwa olahan porang untuk memenuhi pasar Jepang dan Korea serta China. Tepung umbi yang mengandung zat Glucomanan ini dinyatakan sebagai bahan pembuat lem, mi, pembungkus kapsul, penguat kertas, dan sebagainya.

“Dijual ke pengepul di sini dalam kondisi masih basah. Untuk harga porang basah yang berlaku saat ini Rp 5.000 per kilogram dan kering Rp 40 ribu. Nilai jual itu seringkali mengalami fluktuasi lantaran dipengaruhi permintaan pasar luar negeri dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat,” ujar Yoyoh. (Budi/SBS)

You might also like
Comments
Loading...