Wanita Lebih Beresiko Berpenyakit Jantung

Health, (22/11/14) SatuBanten-  Stigma masyarakat tentang penyakit jantung hanya menyerang kaum pria harus dikoreksi karena wanita juga berisiko menderita penyakit nomor satu yang menyebabkan banyak kematian di seluruh dunia ini.

Namun banyak yang kurang menyadarinya karena penyakit ini tidak memberi sinyal awal dan susah untuk dilacak. Sebenarnya risiko mendapatkan penyakit ini sama saja di antara pria dan wanita.

Kaum wanita tidak terkecuali dapat tertimpa penyakit jantung tapi hanya lambat dibandingkan pria, terutama wanita yang sedang mengalami tingkat stress yang cukup tinggi berpeluang lebih cepat didatangi penyakit ini.

Biasanya mereka mengalami penurunan aliran darah ke jantung yang dikenal sebagai iskemia miokard yang dapat merusak otot jantung dan mengurangi kemampuannya untuk memompa darah secara efisien.

Lebih banyak perempuan terkena stres, menunjukkan tanda-tanda awal pembentukan bekuan darah, sebuah proses yang dikenal sebagai peningkatan agregasi platelet. Gumpalan darah ini dapat memblokir arteri dan menyebabkan serangan jantung.

Stres juga dapat meningkatkan tingkat tubuh dari hormon stres. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan denyut jantung yang akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh.

Sebagai studi saat ini ditemukan, stres juga dapat mengubah cara membentuk bekuan darah, yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan serangan jantung.

“Dokter harus mempertimbangkan fakta bahwa perempuan yang terkena serangan jantung biasanya mengalami stres lebih besar daripada pria,” kata Dr. Zainab Samad, seperti dilansir laman Daily Mail, Selasa (18/11).

“Studi ini menunjukkan bahwa stres mental berbeda pengaruhnya terhadap kesehatan n jantung pria dan wanita,” katanya lagi.

“Kita perlu mengenali perbedaan ini ketika mengevaluasi dan mengobati pasien untuk penyakit kardiovaskular,” jelas Dr. Samad.

“Pada titik ini, studi lebih lanjut diperlukan untuk menguji hubungan perbedaan jenis kelamin dalam respon jantung terhadap stres mental,” pungkasnya.

Studi ini dipublikasikan dalam Journal of American College of Cardiology. (SBS/005)

You might also like
Comments
Loading...