Urgensi Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan Untuk Lindungi Kualitas Bonus Demografi Indonesia

Oleh : Isah FitrianiMahasiswa S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan

 

Sungguh tak dapat disanggah, perintah tak dapat dibantah, dan langkah tak dapat dicegah, derasnya arus penyebaran penyakit semakin menjamur ke segala arah. Berbagai virus dan
bakteri bisa dengan mudah menyelinap masuk ke dalam tubuh manusia.

Perlahan-lahan, dunia akan dipadati dengan kasus kematian secara massal. Terlebih lagi, tuntutan pengobatan tercepat terbilang sulit untuk dikembangkan. Meskipun banyak penelitian yang telah dilakukan, hal itu belum tentu bisa menjamin kesembuhan seseorang dari penyakit secara total. Padahal, kesehatan menjadi salah satu aset terbesar yang diperlukan untuk bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Tak bisa  dipungkiri, bahwa kesehatan menjadi tolak ukur kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia. Akan tetapi, peran vital dari kesehatan itu sendiri belum mampu difahami dengan baik oleh sebagian masyarakat.

Hal ini dibuktikan dengan semakin maraknya tingkat kematian individu akibat berbagai macam penyakit seperti stroke, jantung koroner, gagal ginjal, kanker, diabetes mellitus, liver, tuberculosis dan HIV/AIDS. Jika angka kematian penduduk semakin tinggi setiap tahun, Indonesia terutama akan kehilangan banyak sumber daya manusia, khususnya penduduk usia produktif yang akan menjadi bonus demografi pada tahun 2030 mendatang.

Hal ini sungguh disayangkan apabila Indonesia kehilangan potensi bonus demografi yang sudah didambakan setelah sekian lama. Bayangkan saja, jika dari sekian banyak sumber daya manusia yang ada tidak memiliki derajat kesehatan yang baik, bagaimana Indonesia bisa bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN nantinya? Sedangkan, pada masa itulah setiap Negara berlomba-lomba untuk memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya berkuantitas, tetapi juga berkualitas.

Sebagai bagian dari misi pengembangan MEA, tenaga kesehatan masyarakat turut ikut serta dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini ditunjang dengan fokus perhatian yang melekat pada tenaga kesehatan masyarakat, yakni preventif dan promotif kesehatan.

Preventif adalah upaya pencegahan penyakit yang dilakukan sebagai pengontrol risiko seseorang untuk terkena penyakit dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Beberapa bentuk upaya preventif yang dapat dilakukan yakni melakukan 3M (Mengubur, Menguras, dan Menutup) semua genangan air di sekitar rumah untuk mengantisipasi risiko demam berdarah. Selain itu mengkonsumsi makanan bergizi dan menghindari konsumsi junk food juga diperlukan.

Upaya preventif lainnya yakni dengan mencuci tangan sebelum makan, memperbanyak konsumsi air putih dan berolahraga secara rutin minimal 30 menit setiap hari. Menghindari rokok, alkohol, kafein dan beristirahat yang cukup juga termasuk upaya preventif. Upaya Preventif selanjutnya yakni rutin memeriksakan diri ke dokter untuk cek kesehatan, membersihkan diri dengan mandi 2 kali sehari dan membersihkan lingkungan sekitar.

Berbeda dengan preventif, upaya promotif lebih cenderung kepada upaya mempromosikan kesehatan guna memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, baik kesehatan diri sendiri maupun kesehatan lingkungan. Bentuk upaya promosi kesehatan biasanya berupa sosialisasi atau penyuluhan, seminar kesehatan, talk show, dan poster publikasi.

Dalam melakukan promosi kesehatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu usia audiens, bobot topik bahasan yang diangkat, keefektivan media promosi, dan bahasa dalam penyajian materi. Anak-anak usia sekolah dasar akan lebih mudah menyerap materi tentang menggosok gigi yang baik dan benar daripada materi tentang cara memilih skin care yang tepat.

Bahasa yang sederhana serta penyajian materi yang menyenangkan juga diperlukan agar pesan yang dibawakan bisa tersampaikan dan dicerna dengan baik oleh anak-anak. Begitupun pada remaja dan lansia, bahasan yang diangkat haruslah sesuai dengan kondisi mereka.

Dengan adanya penggalakan upaya preventif dan promotif ini, pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan, terutama generasi muda, akan semakin baik. Sehingga pada usia yang matang dan produktif, generasi muda yang akan menjadi mayoritas penduduk Indonesia kedepan akan dalam kondisi prima menghadapi persaingan global. Bonus Demografi, dengan demikian akan menjadi memberikan dampak yang baik dan tidak malah menjadi Bencana Demografi. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...