Tradisi Qunutan di 15 Hari Puasa

Serang (04/06/2018), Satubanten.com – Memasuki hari ke-15 Ramadhan banyak warga Serang yang disibukkan untuk membuat ketupat beserta lauk pauknya. Hal tersebut berkaitan dengan salah satu tradisi turun temurun dari leluhur, yang biasa disebut qunutan atau “ngupat”.

Biasanya jatuh pada pertengahan puasa, yaitu 15 atau 16 nya, pada Selasa Malam kemarin hampir diseluruh desa dan perkampungan di Serang mengadakan riungan di masjid.

Menurut warga Link. Sukajadi Kelapa Dua Kota Serang, Rahmatullah (43) qunutan itu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena telah melewati separuh bulan Ramadhan. “Ngupat ini bentuk rasa syukur kita karena sudah melewati separuh dari bulan suci Ramadhan. Dan biasanya kami akan makan bersama atau ngeriung di masjid,” katanya.

Sebelum acara riuangan, para ibu biasanya membuat ketupat dan masak opor ayam, sambelan kentang, kulit tangkil, telor balado dan menu lainnya untuk dihidangkan di masjid atau mushola dekat rumah.

Sementara dilain tempat, seperti di pasar-pasar yang ada di Serang banyak pedagang musiman yang muncul untuk berjualan ketupat. Seperti Syafuroh (57) salah satu pedagang ketupat di Pasar Taman Sari Kota Serang mengatakan kalau dirinya sudah berjualan ketupat selama hampir 15 tahun. Dan di hari-hari tertentu atau hari besar lainnya, banyak pedagang ketupat juga yang ikut berjualan.

“Ketupatnya bu, ketupatnya neng, buat qunutan nanti malem,” teriaknya menjajakan ketupat dagangan miliknya. Ketupat tersebut adalah hasil buatan tangannya sendiri, tanpa ada pengawet ataupun bahan lainnya.

“Saya bikin sendiri, mulai dari nyari janur, bikin sarung ketupat, ngisi beras sampe masaknya juga sendiri. Soalnya udah lama juga saya jualan, udah punya langganan,” kata Syafuroh kepada Satubanten News.

Dia juga mengakui dipertengahan puasa ini penjualan ketupatnya ramai dan biasanya bisa menghabiskan hingga dua ribu buah ketupat.

“Kalo hari biasa sehari bisa habis sekitar seribu ketupat, nah kalo ada acara kayak gini bisa sehari itu habis sekitar dua ribuan ketupat, mulai dari habis subuh sampe jam 10.00 WIB, biasanya sudah habis,” ujarnya.

Meski di zaman yang serba canggih dan masuk kedalam era globalisasi, masyarakat tetap menghidupkan tradisi yang memang sudah ada sejak zaman kesultanan Demak.

Tradisi qunutan juga tidak hanya ada di Banten saja, namun juga di beberapa daerah lain yang ada di Indonesia, seperti Lampung dan Jawa Barat hingga Gorontalo. (SBS/029)

You might also like
Comments
Loading...