Tetsu Nakamura, Dokter asal Jepang yang Meninggal Ditembak di Afganistan

Satu Banten – Dokter asal Jepang bernama dr. Tetsu Nakamura datang ke Afghanistan pada 1980-an untuk membantu merawat pasien kusta dan kamp-kamp pengungsi Pakistan selama pendudukan Soviet di Afghanistan.

Penyergapan itu terjadi seminggu setelah serangan granat menargetkan kendaraan PBB di Kabul. Serangan menambah kekhawatiran bagi mereka yang melakukan pekerjaan kemanusiaan di negara dengan perang paling lama di dunia.

Dokter Tetsu Nakamura, merupakan kepala Layanan Medis Perdamaian Jepang, terlibat dalam pembangunan kembali irigasi dan pertanian Afghanistan yang bekerja untuk kemanusiaan di bagian timur negara itu.

Jasadnya meninggalkan Afghanistan sebagai “Kaka Murad” atau Paman Murad, yang dipuja oleh jutaan orang Afghnistan, yang merasa berutang budi pada kerja kemanusiaannya selama tiga dasawarsa di negara yang dikoyak perang saudara tersebut.

Dilansir VOA, Rabu 4 Desember 2019, saat sedang dalam perjalanan mobil yang ditumpangi bersama lima anggota organisasi bantuannya, yakni Peace Japan Medical Services (PMS), diserang oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, di Jalalabad, Ibu Kota Provinsi Nangarhar timur.

Menurut pejabat setempat, Nakamura dan stafnya ditembak dan dibunuh. Nakamura sekarat karena lukanya dalam perjalanan ke Bagram Airfield, sebuah pangkalan militer AS di Afghanistan utara.

Pria berusia 73 tahun itu telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk bekerja di Afghanistan. Sebagai dokter, dia berusaha menyelamatkan nyawa. Kadang-kadang juga dia menjadi tukang batu yang membangun saluran air untuk orang-orang yang terkena dampak kekeringan.

Pada Oktober, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menganugerahkan Nakamura kewarganegaraan kehormatan Afghanistan. Kemudian, awal tahun ini penduduk Provinsi Nangarhar berkampanye di media sosial agar Nakamura menjadi Wali Kota Kota Jalalabad.

Kabar kematian Nakamura sempat mengejutkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Pasalnya semasa hidup, Nakamura adalah orang yang selalu membantu sesama.

“Saya terkejut bahwa dia tewas dengan cara ini. Dia mempertaruhkan nyawanya di lingkungan berbahaya untuk melakukan berbagai pekerjaan, dan rakyat Afghanistan sangat berterima kasih kepadanya,” ujar Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers di Tokyo.

Misi PBB di Afghanistan mengatakan lebih banyak warga sipil yang tewas atau luka-luka dalam tiga bulan terakhir ini dibanding masa yang sama sepuluh tahun terakhir ini.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Kamis (17/10) diketahui bahwa 1.174 warga sipil tewas dan 3.139 lainnya luka-luka pada kuartal ketiga tahun ini, atau naik 42 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dalam kuartal sebelumnya, 785 warga sipil tewas dan 1.254 lainnya luka-luka. Angka-angka terbaru itu menunjukkan bahwa lebih dari delapan ribu orang tewas dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Misi Bantuan PBB di Afghanistan mengatakan sebagian besar tewas akibat tindakan kelompok gerilyawan anti-pemerintah.

Laporan itu mengatakan perempuan dan anak-anak yang tewas terhitung lebih dari 41 persen dari jumlah korban tewas, di mana 631 anak tewas dan 1.830 lainnya luka-luka.

Nakamura memimpin organisasi nonpemerintah Peshawar-kai, yang berbasis di Kota Fukuoka, Jepang barat. Ia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk membantu warga Afganistan.

Afganistan timur merupakan basis dari ekstremis anti pemerintah Taliban berada di sini, dan cabang kelompok militan IS juga aktif di sini. Taliban mengeluarkan pernyataan membantah terlibat dalam serangan tersebut. Kelompok itu mengatakan tidak pernah menargetkan organisasi non-pemerintah Jepang yang mendukung pemulihan ekonomi di negara tersebut.
(Heri/SBS)

Comments
Loading...