Eksploitasi Tambang Pasir JLS Hancurkan Masa Depan Kota Cilegon

     Cilegon, (25/11/14)SatuBanten- Rusaknya jalur lingkar selatan Cilegon disinyalir sebagai akibat maraknya tambang pasir di kiri-kanan jalan di sepanjang jalur tersebut. Keberadaan aktivitas tambang pasir, di tanah Jarenong Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.

Tanah liat ini tidak terlepas dari kondisi geografis daerah selatan Kota Cilegon yang berbukit-bukit. Sejak jalur lingkar selatan yang menghubungkan Kota Cilegon dan kawasan Anyer itu dibangun, pemerataan bukit dan tak jarang berujung pada penggalian pasir, menjadi hal yang marak dilakukan oleh warga dan perusahaan pertambangan.

Sayangnya, kegiatan eksplorasi alam tersebut dilakukan oleh sebagian besar perusahaan yang tak memiliki ijin. Dari 24 perusahaan penambangan yang terdaftar beroperasi di 3 Kecamatan di sepanjang jalur lingkar selatan Cilegon, hanya tinggal 3 perusahaan yang memiliki legalitas. Kegiatan pertambangan seharusnya berhenti pada malam hari, namun ternyata pertambangan di sekitar JLS berlangsung nyaris 24 jam setiap harinya.

Pengawasan di sektor pertambangan masih sangat lemah, salah satunya terlihat dari belum adanya peraturan daerah yang mewajibkan perusahaan tambang melakukan reklamasi lingkungan. Bekas galian pasir yang curam dan tergenang air di Kecamatan Cibeber ini misalnya, meski tidak lagi digunakan sejak setahun lalu, bekas tambang pasir ini dibiarkan begitu saja. Akibatnya pada pertengahan mei 2013 silam 2 anak tewas akibat terjatuh di bekas galian tersebut.

Tak hanya jalanan rusak dan bekas galian yang bisa menyebabkan korban jiwa, aktivitas tambang pasir dan pengerukan bukit juga berpotensi meningkatnya resiko tanah longsor di daerah sekitar lokasi tambang. Tambang pasir masuk dalam kategori penambangan galian c. Hasil tambang ini sebenarnya diakui tidak terlalu berkontribusi dalam penerimaan pendapatan kota cilegon. Tahun ini saja, Pemkot Cilegon hanya menargetkan penerimaan sebesar 400 juta rupiah.

   Keberadaan tambang penambangan pasir itu dikhawatirkan warga yang tinggal di sekitar tersebut akan berdampak kelongsoran di daerahnya. Sarimah (50) warga Kampung Jarenong mengatakan dirinya takut akan keberadaan tambang pasir yang yang mengeruk habis bukit-bukit dan menyisakan bekas tambang yang dalamnya menakutkan, ” saya takut jika terjadi longsong karena kampung kami disisakan  tanah yang tidak berbentuk”, katanya.(BSB/005)

You might also like
Comments
Loading...