Tak Selamanya Wisuda Itu Dinantikan Mahasiswa

Oleh : Robiatul Adawiyah, S.Pd.

Serang (10/10/2019) SatuBanten. News – Setiap question pasti ada dua pendapat yang bisa dijadikan sebagai jawaban. Mayoritas kalangan mahasiswa pasti memiliki statement seperti ini, “Wisuda adalah momen yang penting dan ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, secara kan yah kuliah selama 4 tahun telah berhasil dilalui.” Apalagi kalo mengingat perjuangan di akhir semester. Yaps, skripsian-lah bimbingan-lah, penelitian-lah, huft pengorbanan yang rasanya perlu ada imbalan. Gak bisa dipungkiri. Yakan?

Wisuda itu, menjelang wisuda ada gladi bersih terlebih dulu, lalu pagi-pagi kita harus bangun sebelum subuh, wajah kita di make me, pakai kebaya tapi ujung-ujungnya ditutup baju toga, pakai high hiils, membacakan ikrar, nyanyi-nyanyi, duduk berjam-jam, dan maju kedepan buat memindahkan tali toga dari kiri kekanan. Udah deh begitu… Tidak jauh-jauh dari pernyataan yang aku tulis diatas. Wisuda memerlukan persiapan yang lumayan ribet dan pasti juga biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kalo yang jauh harus sewa penginapan. “Gpp lah sekali ini”. Enggak salah, aku juga pasti bilang kayak gitu. Karena menurut aku, dari ribet dan resiko yang terjadi ada makna besar dari acara wisuda.

Diantaranya, beberapa orang disekitar kita pasti ikut bahagia, apalagi orang tua yang pastinya menunggu anaknya wisuda dan bahagia pakai baju toga. Selain itu, wisuda memang kebahagiaan duniawi, banyak yang mengucapkan selamat, banyak pujian, banyak yang memberikan bunga, hadiah dan bahagia bisa foto-foto pake baju toga bareng temen, kerabat dan juga sahabat. Momen itu cukup membahagiakan, kita berhak merasakannya, asal jangan lupa dari mana kebahagiaan itu bisa kita rasakan. So, tidak bisa disalahkan juga kan. Kalau ditanya kamu ikut wisuda enggak? Pasti aku jawab ikut, alasannya seperti pernyataan aku diatas.

Tapi, disisi lain aku merasa tersentuh sama beberapa mahasiswa yang lebih memilih tidak ikut momen baik ini. Sebenarnya alasan kenapa ada mahasiswa yang nggk ikut wisuda itu bisa jadi karena ini :
1. Minimnya biaya
2. Menganggap wisuda itu hanya sebagai seremonial aja
3. Tidak terlalu antusias dan ingin ikut
4. Ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan yang dia anggap jauh lebih penting
5. Sakit dirawat
6. Meninggal
7. Males ngurusin embel-embel seperti sewa hotel, make up, kebaya dll
8. Orangtua enggak bisa hadir jadi untuk apa ikut wisuda. Dan masih banyak alasan yang lainnya.

Alasannya mungkin sebagian orang bilang klasik, tapi tidak dengan aku, alasan ini tidak bisa disalahkan juga karena setiap orang punya pilihannya masing-masing. Kenapa aku bela-belain nulis kayak begini, karena menurut aku orang yang tidak suka sama keputusan orang tuh perlu di kasih terapi. Misalnya ya dengan membaca tulisan-tulisan seperti ini. Setidaknya dia sadar setiap keputusan orang lain tidak seenaknya di hujat.

Seperti pernyataan di awal setiap pertanyaan memiliki dua pendapat yang dapat dijadikan jawaban, artinya masing-masing orang pasti ada saja yang memiliki pendapat berbeda, ini bukan masalah, karena setiap pendapat berhak di hargai bukan dihujati. Nah jadi, pandangan aku, dari alasan yang disebutkan diatas kalau beberapa orang memilih tidak ikut wisuda karena ternyata memiliki alasan yang ke 2 /3/7/8 patut di apresiasi. Apalagi kalau keluarga mendukung dan tidak mempermasalahkan. Karena huznudzonnya berarti dia adalah tipe orang yang tidak suka dipublikasi, tidak suka ribet, dan punya prinsip yang kuat. Pun dengan alasan-alasan yang lainnya jelas tidak bisa kita salahkan juga bukan?

Hal yang perlu kita ingat adalah, kelulusan merupakan tonggak besar dalam kehidupan kita dan katanya wisuda hanyalah salah satu cara untuk merayakannnya. Jadi sah-sah saja kalau ada yang tidak ikut wisuda, asal tidak merasa paling baik dalam keputusannya, begitupun yang memutuskan untuk ikut wisuda. So, jangan terburu-buru menjudge orang tanpa cari tau dulu apa alasannya dan tanpa berfikir kenapa bisa mengambil alasan seperti itu. Jangan sekali-kali menuntut orang lain untuk dapat sepemikiran dengan kita, karena setiap orang punya kehidupan dan pendapat masing-masing, kita punya hak dalam memutuskan sesuatu dengan pilihannya sendiri, yang perlu kita lakukan adalah memberikan semangat, mengajak diskusi dan cari solusinya setelah itu apresiasi. Udah selesai.

Hidup jangan dibikin ribet.
“Cause, everything will be fine, if you do not look for problems with the origin of blaming others”. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...