Tak Perlu Mengangkat Senjata untuk Menjadi Pahlawan, Cukup Berjuang Menurunkan Biaya UKT, Maka Merekalah Pahlawan Bagi Orang Tuanya

Ditulis oleh : 

Rafli Maulana, Kementerian Kajian Strategi dan Deputi Aksi BEM KBM Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Serang (15/11/2018) SatuBanten – 4 hari yang lalu Peringatan Hari Pahlawan dapat dijadikan sebagai cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan masa depan dengan terus bekerja dan bekerja dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera sebagai cita-cita perjuangan bangsa yang termuat dalam sila kelima Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga sebagai momentum dalam rangka menumbuh-kembangkan nilai-nilai persatuan, kepahlawanan, keperintisan, kepemimpinan dan kesetiakawanan sosial.

Tepatnya pada tanggal 10 November 1945 diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari di mana para pejuang Indonesia mempertahankan kedaulatan negara yang dicoba dirampas kembali kemerdekaannya oleh Belanda yang membonceng sekutu di kota Surabaya. Dalam pertempuran yang menewaskan banyak pejuang itu, Bung Karno pernah menyebutnya sebagai sebuah peristiwa heroik dengan semangat macan.

Memang mempertahankan kemerdekaan amat berat, kita tahu bahwa hal itu adalah sebuah perjuangan yang dihiasi oleh darah dan air mata. Amat terasalah perjuangan itu ketika pertama-tama berada dalam situasi kemerdekaan. Memang benar tidak semudah merebutnya. Kini situasi sudah jauh berubah. Tak ada lagi penjajahan, sebab seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sudah menjadi negara berdaulat dan kemerdekaaan sudah menjadi sebuah hal universal bagi seluruh negara di manapun itu.

Masalah yang kita hadapi adalah bagaimana mengisi dan mempertahankan kemerdekaaan. Semangat 10 November adalah kekuatan untuk hal itu. Kita tahu bahwa persoalan yang kita hadapi sekarang ini adalah persoalan yang berat. Penjajah memang tak lagi datang, tetapi bahwa model lain dari penjajahan itu sudah menjadi persoalan kita sejak lama.

Saya menuliskan sebuah tulisan ini bentuk kekaguman saya untuk para pahlawan milenial mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sejak 2017 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa membuka Penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang pada saat itu diprakarsai oleh Presiden Mahasiswa UNTIRTA bernama Refki Abdilah. Dan penurunan UKT Itu berlanjut hingga jaman Kepemimpinan Presiden Mahasiswanya Muhammad Fadli.

Jika dahulu para pahlawan harus berjuang melawan penjajah dengan cara mengangkat senjata. Namun berbeda dengan sekarang, bagi saya Mahasiswa yang berjuang untuk menurunkan UKT nya adalah Mahasiswa yang telah menjadi Sosok Pahlawan nyata bagi Orang Tua nya. Dan saya amat sangat bangga kepada mereka semua. Semangat kepahlawanan telah hadir dan tumbuh kedalam sanubari para mahasiswa UNTIRTA terkhusus bagi mereka yang sedang berjuang mengurus Berkas Penurunan UKT nya.

Harapan saya di hari Pahlawan ini. Semoga apa yang sedang di perjuangkan oleh para mahasiswa UNTIRTA dalam menurunkan UKT nya, bisa turun dan ketika sudah turun, maka secara tidak langsung dapat meringankan beban kuliah orang tua nya. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...