Syeikh Nurfarid Haqiqi: Pemuda Asal Binong Maja, Jadi Imam Masjid di Qatar

Bekerja di luar negeri, apalagi bekerja di salah satu negara superkaya seperti Qatar tidak pernah terbayangkan sebelumnya

Pekerjaan sebagai Imam Masjid di Timur Tengah adalah impian banyak santri di Indonesia. Namun perjuangan menuju kearah sana membutuhkan perjuangan dan pengorbanan serta kesungguhan. Tidak banyak warga Indonesia yang bisa tembus menjadi Imam di masjid-masjid Timur Tengah, namun demikian tinta sejarah seolah akan terus berulang. Banten pernah memiliki Syeikh Nawawi asal Tanara yang menjadi Imam di Makkah. Kini, Nawawi muda mulai bertebaran di Jazirah Arabia, walaupun bukan di Makkah, namun mereka kini banyak dijumpai di tanah Arab lainnya.

Satu Banten mewawancarai salah seorang Imam Masjid di Qatar asal Binong, Maja Kabupaten Lebak yang telah berkiprah sejak tahun 2007.

Nama panggilannya Kiki lahir pada tanggal 26 Mei 1985 di Desa Binong Kecamatan Maja Kabupaten Lebak. Masa kecilnya dilalui di kampung halaman, layaknya usia sebaya yang sering ke sawah dan kebun untuk membantu orang tua. Sekolah dasarnya diselesaikan di SDN Binong 7 (saat ini SDN Binong 2) pada tahun 1997, namun setamat SD, selama setahun paska lulus beliau fokus belajar mengaji Qur’an dan kitab kuning pada ayahnya di rumah beserta pendalaman pelajaran syariat dan ilmu agama.

Barulah pada 1998 beliau melanjutkan sekolah ke MTs Mathlaul Anwar hingga lulus pada tahun 2001 dan lanjut ke SMA Islam Pembangunan yang masih dalam satu yayasan dengan MTs hingga lulus pada 2004. Semua diselesaikannya di kampung tercinta, Maja Lebak – Banten.

Keinginan untuk lanjut kuliah selalu ada bergelora dalam dada, namun dirinya sadar bahwa keadaan ekonomi orang tuanya tidak memungkinkan karena ia masih memiliki lima adiknya yang membutuhkan biaya pendidikan.

Tak mau putus dalam menuntut ilmu, Kiki muda saat itu bertekad tetap melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tahfidz Salafiyah Darul Hufadz yang terletak di Desa Parung Lebak Kecamatan Cikulur pimpinan KH. Alawi selama setahun. Dilema kembali muncul karena untuk memenuhi keseharian sebagai santri dirinya tidak bisa menunggu kiriman uang atau beras dari orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai petani tradisional di kampung.

Dengan berat hati akhirnya beliau pamit pada sang kyai untuk pulang ke rumah. Sebagai anak lelaki di rumah, ia memikul tanggung jawab. Namun keinginan untuk belajar terus menggebu dan akhirnya ia mencari pondok pesantren yang tidak memungut biaya. Kebetulan dan atas seizin Allah saat itu paman beliau baru merintis pondok pesantren dan ia adalah santri pertama yang mondok sekaligus membantu merintis pesantren, mulai dari urusan membersihkan kobong, memasak hingga menjadi supir sang kyai yang kerap diundang mengisi khutbah dan pengajian keliling kampung.

Kuliah dan lulus sebagai sarjana mengantongi sebuah ijazah adalah cita-cita yang belum kesampaian hingga saat ini. Bagi anak kampung, menyandang status mahasiswa dan memakai toga adalah sebuah kebanggan ditengah masyarakat

Momen yang paling berkesan adalah setiap kali diadakannya Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) setiap tahun. Dirinya merasa senang menjadi bagian dari kontingen yang ikut serta dalam MTQ. Sebab jika MTQ tiba, maka santri yang ikut akan bergabung dan jumlah besar dan saat itu adalah masa ‘perbaikan’ gizi.

Sebagai santri kobong, makanan ayam goreng dan rendang adalah impian yang selalu didamba jika bersantap bersama dan itu bisa didapat jika ada momen MTQ. Kiki bercerita, jika di pesantren kobong, makanan sehari-hari mereka lebih banyak dengan garam dan ikan asin serta sesekali telur.

Kota Doha saat musim dingin dengan kabut yang kadang muncul. (foto:SBS)

Selama lebih dari dua tahun, Kiki muda menjadi santri di pondok pesantren milik pamannya KH. Mukhtar Fatawi di Serang. Selama jadi santri, setiap hari dirinya harus menyetor hafalan ayat-ayat Al Qur’an. Berat memang dirasa karena menjadi santri serba bisa dirinya harus siap 24 jam membantu sang Kyai membesarkan pondok saat itu yang baru berdiri.

Awal September 2007, sang paman yang juga pimpinan pondok memanggilnya dan menyodorkan sebuah SMS yang berisi tawaran mengikuti tes menjadi imam masjid dari salah satu negara di Timur Tengah.

Antara bimbang dan galau, saat itu Kiki sadar bahwa dirinya hanya mengantongi ijazah SMA dan MTs dari kampung dan itupun bukan sekolah favorit. Ia tidak juga memiliki ijazah dari pondok pesantren ‘kobong’. Seumur-umur dirinya belum pernah mengikuti interview dan serangkaian tes. Namun petuah dan dorongan sang guru menjadi lecutan bahwa jika Allah sudah berkehendak, jadi maka jadilah.

Dengan bekal tekad dan doa orang tua, Kiki menuju Jakarta untuk mengikuti tes di salah satu hotel berbintang. Saat itu yang datang menjadi peserta yang dilakukan oleh Awqaf (Kementrian Agama Qatar) yang sedang mencari sosok imam masjid yang akan disebar di negara petro dollar tersebut.

Saat tes berlangsung, dirinya sempat ciut setelah mengetahui bahwa yang ikut tes ada 700 orang dan datang dari berbagai penjuru tanah air. Dirinya sadar, bahwa kalau bukan dorongan dan orang tua mungkin saat itu dirinya ingin pulang saja. Saat itu, setiap peserta dites berbahasa Arab serta hafalan Al Qur’an secara random dan harus mampu menjawab soalan tanya jawab seputar aqidah dan akhlaq.

Alhamdulillah, saat dirinya disebut sebagai salah satu peserta yang lulus beserta 23 kawan lainnya dari seluruh Indonesia, ia hanya bisa meneteskan air mata haru dan tak percaya. Terbayang wajah ayah dan ibu serta para kyai yang selama ini membimbingnya.

Hari itu juga, ia harus menandatangani kontrak kerja dan mengurus administrasi serta persiapan membuat passport, visa dan dokumen lainnya. Inilah momen pertama kali ia harus bersiap pisah ribuan kilometer dari kampung dan orang tua serta momen pertama kali naik pesawat terbang.

Tak pernah terbayang jika harus bekerja dan mengabdi menjadi Imam Masjid dengan segala fasilitas penuh dari negara

Di negeri baru yang masih serba asing, ia diterima dan diangkat sebagai pegawai dibawah naungan Kementrian Agama Qatar. Hal yang tak terbayang sebelumnya. Padahal dulu, cita-cita kecilnya hanya ingin menjadi guru dan mengajar mengaji. Tapi kini status sebagai Imam Masjid dan harus mulai familiar dengan panggilan syeikh sebagai penghormatan bagi para imam di Timur Tengah.

Hari-hari pertama sebagai imam masjid, harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Cuaca yang ekstrem dan makanan khas gurun pasir sudah harus dikondisikan untuk penyesuaian. Bayangan dirinya bahwa Qatar adalah kota gurun tidak keliru namun melihat Qatar dengan kemegahan kota dan perkembangan ekonominya membuat ia takjub bahwa ia harus memulai hidup dari menghidupi masjid di negara ini.

Saat ini Ustad Kiki diamanahi sebagai Imam Masjid Hayya bin Kholaf yang terletak di kota Al Rayyan salah satu kota di Qatar. Sehari-hari ia harus berbagi tugas dengan salah satu rekan lainnya dari Al Jazair yang juga bertugas sebagai Imam Masjid. Dalam setiap masjid di Qatar, selalu ada dua Imam yang bertugas secara bergantian dibantu muadzin dan marbot sebagai petugas kebersihan.

Ustad Kiki (ketiga dari kiri) saat bersama para imam masjid asal Indonesia di Qatar. (foto:SBS)

Masjid Hayya bin Kholaf menjadi salah satu pusat kegiatan keislaman di tengah kota yang melayani kegiatan keagamaan dan pendidikan Al Qur’an bagi warga sekitar. Setiap sholat lima waktu tugas sang Imam menjadi pemimpin sholat dan mendengar keluhan warga yang ingin berkonsultasi seputar keagamaan.

Semua masjid di Qatar berada dibawah naungan Kementrian Agama dan semua keperluan mulai dari perlengkapan dan arahan keagamaan selalu dikontrol oleh negara. Tugas Imam Masjid di Qatar bukan sekedar buka pintu dan gelar karpet, namun juga harus paham ilmu agama dan harus siap jika ada jamaah yang bertanya dan berkonsultasi.

Wajar jika pemerintah Qatar memberikan perhatian dan fasilitas yang memadai bagi para imam. Saat bercerita masalah gaji, Ustad Kiki sedikit tersipu dan mengatakan bahwa insha Allah lebih dari cukup bagi ukuran masyarakat Indonesia. Setiap bulan tidak kurang penghasilan 17 juta rupiah didapatnya dan bisa mencapai 20 juta jika mengajar tahfidz.

Dalam musin pandemic Covid-19 saat ini, semua masjid di Qatar tidak menyelenggarakan sholat berjamaah dengan warga. Namun setiap adzan yang berkumandang ditambahkan kata-kata ‘Shollu fii buyutikum / Shollu fii rihaalikum (Sholatlah kalian dirumah masing-masing).

Saat ini, Ustad Kiki tinggal di Qatar bersama isteri tercinta yang dinikahi pada 2011 dan datang menyusul ikut ke Qatar pada 2013. Keluarga kecil ini dianugerahi tiga orang anak dan tinggal di rumah yang disediakan oleh pemerintah. Ia ingat saat akan menikah dulu. Dirinya dikrimkan foto calon isteri oleh orang tuanya dari kampung.

Alhamdulillah proses khitbah dan pernikahan bisa dilalui secara bertahap karena saat itu dirinya masih berada di Qatar. Hingga tiba saat cuti tiba, akhirnya ia pulang ke Indonesia dan menikah secara sederhana bersama wanita yang juga berasal dari Lebak, Banten.

Suasana Doha dari kejauhan. (foto:SBS)

Saat ini, tugasnya imam masjid juga mengharuskannya sebagai ‘duta bangsa’ karena dirinya juga harus membawa nama baik bangsa dan negara. Tak jarang, dirinya bersama rekan imam se-Nusantara di Qatar kerap diundang ke kedutaan dan acara seremonial lainnya di KBRI.

Jabatan pensiun seorang Imam masjid di Qatar adalah 60 tahun atau selagi masih betah dan hanya dengan cara memperbaharui RP (Resident Permit) setiap tiga tahun sekali. Saat ini setiap imam masjid dapat jatah cuti tahunan 40 hari setiap tahunnya dan itu bisa dipakai untuk liburan pulang ke Indonesia.

Perjalanan dan pengalaman panjang Ustad Kiki asal Lebak Banten berkiprah sebagai Imam Masjid di Qatar merupakan anugerah yang tidak bisa beliau lupakan. Masa pahit dan getir saat pesantren serta harus memupus harapan kuliah tidaklah mengehentikannya dalam menuntut ilmu dan hasil itu kini berbuah manis dalam balutan ridho Illahi.

Ustad Kiki yang kelak setelah pensiun dari Imam masjid di Qatar akan bercita-cita berencana membuka pesantren tahfidz di Banten…. Aamiin (***)

You might also like
Comments
Loading...