Syeikh Asep Ismatullah: Imam Masjid Al Akhyar Sharjah Emirate Asal Banten

Menjadi Imam Masjid di sebuah negara Arab adalah impian banyak anak negeri

Jika kita melihat atau mendengar namanya, pasti ingatan kita langsung kepada Suku Sunda dengan nama Asep yang sangat Sunda banget. Sampai-sampai beberapa orang yang bernama Asep membuat paguyuban Asep Sedunia karena saking banyak dan identiknya nama Asep. Namun Asep yang satu ini adalah salah satu figur yang cukup disegani dan dihormati oleh para jamaahnya di Masjid Al Akhyar Kota Sarjah, Uni Emirat Arab (UAE), beliau biasa dipanggil dengan sebutan Syeikh Asep Ismatullah.

Beruntung SatuBanten.com bisa menghubungi langsung beliau melalui perantara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi yang memberikan nomer kontak beliau.

Ustad Asep kami memanggilnya adalah pemuda kelahiran 31 Juli 1993 asal Kampung Panyandungan Kecamatan Maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Masa kecil beliau dilalui layaknya anak-anak di kampungnya seperti biasa. Sekolah dasar diselesaikan di SDN Binong 02, lanjut MTs dan MA Al Falah Citeras.

Cita-cita awal beliau ingin menjadi penghafal Al Qur’an, selepas lulus Aliyah beliau melanjutkan menjadi santri di Pondok Pesantren Al Falah Nagrek Bandung dibawah bimbingan Al Magfurlah KH Q Syahid Abdullah dan KH Ahmad Farizi Alhafidz sampai 2014.

Keinginan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi masih menjadi impian sejak kecil. Bangku kuliah akhirnya dijajaki dengan mengambil jurusan Tarbiyah di kampus yayasan milik pesantren. Namun, impian tersebut harus dikubur karena terbentur masalah biaya. Ustad Asep hanya bisa kuliah sampai semester 4.

Asep muda saat itu tidak ingin membebani keuangan orang tuanya. Ia memilih mengalah karena masih ada 3 adiknya yang lebih butuh biaya pendidikan. Pulang dari Nagrek, Asep melanjutkan pendidikannya dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Madarijul Ulum Pelamunan, Serang Banten di Bawah Bimbingan KH Abah Umni Lujaini Thahir sampai tahun 2017.
Syeikh Asep saat memimpin sholat berjamaah. (foto:dok. pribadi)
Pertengahan 2017, Asep mendapat kabar dari paman beliau bahwa ada lowongan penerimaan untuk Imam Masjid yang sedang dilaksanakan oleh Kementrian Agama (Awqaf) Uni Emirate Arab. Saat itu beliau agak bimbang awalnya karena tidak memiliki ongkos untuk ke Jakarta. Namun paman beliau memberikan uang untuk ongkos dan akhirnya berangkatlah beliau ke salah satu hotel berbintang di Jakarta sebagai lokasi tes saat itu.

Cita-cita awal ingin menjadi guru dan mengambil jurusan tarbiyah saat kuliah, namun jalan Allah membawanya menjadi Imam di Uni Emirat Arab

Awal mengikuti serangkaian tes, dirinya agak bimbang karena peserta tes saat itu ada sekitar 100 orang dari berbagai penjuru tanah air dan dengan beragam latar pendidikan. Dirinya agak minder karena tidak memiliki gelar pendidikan formal dan hanya mengantongi ijazah penghafal Qur’an. Namun ternyata, kehendak Allah serta nasib baik berpihak pada Asep saat itu.

Ketika Tim Awqaf melakukan tes, semua hafalan yang diambil secara random dapat diselesaikan. Begitupula dengan beberapa pertanyaan tertulis dan pertanyaan lisan seputar aqidah dan akhlak mampu dijawabnya secara tuntas.

Dirinya seolah tak percaya ketika diumumkan lulus dan harus berangkat ke negeri Timur Tengah dengan segala tantangan baru. Saat tiket pesawat dan Visa sudah ditangan, dirinya masih seolah tak percaya…. Inilah rahasia Allah.

Saat tiba di Abu Dhabi pada Agustus 2017, Asep harus mengikuti karantina dan training selama satu bulan di Masjid King Faisal hingga ada seorang Imam dari Masjid Rahmania menjemputnya untuk bertugas sebagai asisten beliau selama beberapa saat. Inilah awal pengalaman kerja untuk menjadi Imam di negeri petro dollar tersebut.

Saat Masjid Al Akhyar baru dibuka pada Ramadhan 2018, Ustad Asep ditugaskan menjadi Imam masjid tersebut hingga saat ini. Di masjid ini, beliau bertugas bersama seorang rekan lainnya yang berasal dari Maroko yang juga menjadi imam masjid secara bergantian. Tugas beliau adalah memimpin sholat dan juga menjadi muadzin. Selain Imam, masjid ini juga memiliki dua orang marbot yang tugasnya membantu pekerjaan imam.

Sebagai informasi, untuk adzan di Uni Emirat Arab pada umumnya dilakukan secara integral dan terpusat di Masjid Utama, sedangkan masjid lainnya tinggal me-relay saja. Namun ada beberapa Masjid yang diistimewakan melakukan adzan sendiri seperti di Masjid Al Akhyar.

Masjid Al Akhyar memiliki kapasitas 10.000 jamaah dengan kapasitas parkir mobil 200 unit terletak di basement. Masjid ini terletak di tengah pusat Kota Sharjah Uni Emirat Arab. Sebagai pusat kota bisnis, Sharjah merupakan salah satu kota yang cukup padat dan sibuk di Timur Tengah.

Pada masa normal, jumlah jamaah masjid ini sekitar 150 – 400 orang setiap sholat fardhu. Namun pada saat taraweh lebih padat lagi. Namun sejak ditetapkannya lockdown di beberapa kota di Emirat, masjid ini hanya boleh dikunjungi oleh Imam dan Marbot saja.

Memasuki tahun ketiga menjadi imam masjid di Timur Tengah adalah tantangan tersendiri. Rasa kangen keluarga adalah persoalan berat yang harus dipikul, apalagi Asep baru saja mendapat momongan dua bulan lalu dari isteri beliau yang sampai saat ini masih tinggal di rumah orang tuanya di Pandeglang.

Proses perjodohannya didapatkan dari paman beliau yang memberikan informasi. Padahal sebelumnya belum pernah bertemu sama sekali. Saat menikah, beliau pulang kampong ke Lebak dan meminang gadis Pandeglang.

Secara malu-malu, Asep memberikan informasi kalau pendapatan pokok sebagai Imam Masjid di Emirat sekitar 16-17 juta rupiah sebulan, namun bisa lebih tinggi sampai 20 jutaan jika menjadi pengajar sekolah tahfidz yang ada di Masjid.

Segala kebutuhan sehari-hari, mulai dari tempat tinggal, asuransi kesehatan hingga cuti tahunan sebanyak 30 hari menjadi hak yang diberikan oleh Pemerintah UAE kepada para Imam Masjid, termasuk yang dari Indonesia.

Lebih menggiurkan lagi adalah family status yang disandang, yaitu para Imam Masjid diperbolehkan membawa keluarga (anak dan isteri) untuk tinggal di Emirat dengan fasilitas apartemen dengan fasilitas lengkap. Asep mendapat satu apartemen dengan 2 kamar tidur, ruang tengah plus dapur dengan 3 kamar mandi.

Lokasi apartemen yang ia tingali hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Setiap sholat lima waktu, ia harus selalu berada di masjid sekitar sepuluh menit sebelum dan sesudah waktu sholat.

Memimpin jamaah sholat adalah sebuah kepercayaan dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dihadapan manusia dan Allah

Asep tidak perlu memikirkan pendidikan anaknya kelak, karena Pemerintah UAE memberikan jaminan pendidikan gratis hingga kuliah. Begitu terharunya Ustad Ustad Asep teringat saat menceritakan bagaimana beliau ingin kuliah namun tidak memiliki biaya.

Harapan Ustad saat ini adalah agar pandemic Covid-19 bisa segera selesai dan ia dapat menjemput isterinya di Pandeglang untuk menemani hari-harinya menjadi seorang imam masjid di tanah Arab.

Pesan Ustad Asep bagi anak muda Banten, belajarlah secara sungguh-sungguh dan raihlah mimpi, walau kadang mimpi kita tak seindah kenyataan, namun percaya bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu. (***)

You might also like
Comments
Loading...