Suwaib Amiruddin Foundation Gandeng UKM Pramuka Untirta Gelar Webinar Nasional

Serang (13/03/2021) SatuBanten.com – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Suwaib Amiruddin Foundation (SAF) bersama UKM Pramuka Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar webinar nasional dengan mengusung tema “Peran Perempuan Cerdas dalam Pembentukan Karakter Penerus Bangsa” melalui Zoom Meeting. 

Webinar ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh peserta dari kalangan siswa, mahasiswa dan masyarakat umum dari seluruh wilayah di Indonesia. Selain itu, webinar ini juga menghadirkan pemateri dari beberapa kalangan yaitu Akademisi Untirta Ika Arinia Indriyany, MA., Founder Yayasan Menuai Masa Depan Lampung Sumatera Sondang A.K Situmorang, S.Par. dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) HJ. Nur’aeni, S.Sos., M.Si., dan penggerak perempuan palu, sulawesi tengah Ayuni Sendi Matrudin, S.Sos.

“Webinar ini merupakan rangkaian menuju kongres Nasional Anak Desa 2021 yang bertujuan untuk menampung aspirasi dan memberikan pemahaman pentingnya sosok perempuan dalam pembentukan karakter bangsa khususnya perempuan di desa agar mereka mau untuk melanjutkan pendidikan dan mampu berkarya,” kata Direktur Eksekutif SAF Moch. Fahmi Abduh, S.AP.

Akademisi Untirta Ika Arinia Indriyany menyampaikan bahwa dalam ruang lingkup akademisi, perlu adanya pengarus utamaan gender untuk melihat permasalahan yang terjadi seputar gender dan bagaimana cara penyelesaiannya.

“Saya juga mendorong Rektor untuk mengeluarkan kebijakan terkait pengarus utamaan gender ini, pengarus utamaan gender ini bisa dimulai dengan tahapan pendidikan, misalnya ada mata kuliah terkait dengan gender kalau di ilmu pemerintahan sendiri kebetulan ada mata kuliah gender dan politik,” ujarnya.

Di mata kuliah gender dan politik itu diajarkan cara melihat permasalahan-permasalahan terkait dengan perempuan, lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah itu termasuk juga melihat fenomena kepemimpinan politik perempuan baik itu di Banten maupun di beberapa daerah yang lain.

Hal senada juga di sampaikan oleh Nuraeni, terkait dengan fenomena kepemimpinan politik perempuan, tidak ada salahnya jika perempuan ikut andil dalam dunia politik dengan catatan disisi lain perempuan juga tidak melupakan kewajibannya sebagai ibu atau istri.

“Karena saya bergelut di bidang politik, tidak ada salahnya kita sebagai perempuan ikut andil dalam dunia politik, jangan takut untuk mengisi lini yang selama ini diisi oleh laki-laki termasuk dunia politik, terjun kedalam politik tidak lantas membuat perempuan meninggalkan kodratnya. Ketika sudah kembali ke rumah, tetap tugasnya adalah melayani suami mengurus rumah dan anak-anak,” ucap Nur’aeni

Dari sudut pandang Sondang A.K Situmorang membahas pentingnya peran pendidikan bagi perempuan yang ia ambil berdasarkan pengalamannya selama 10 tahun bekerja di luar negeri.

“Saya yakin dan percaya kalaupun memang nanti menikah dan punya anak itu akan lebih baik jika kita sebagai ibu punya pendidikan yang bagus, jadi kita tau bagaimana sih caranya mendisiplinkan anak, bagaimana sih caranya support anak, dan bagaimana caranya berkomunikasi dengan anak,” tuturnya.

Karena di Indonesia biasanya selalu menuruti kata ibu, yaitu memang benar kepada seorang ibu tidak boleh membantah atau melawan. “Akan tetapi ketika kita tidak punya pendidikan yang benar dan tepat, sebagai ibu dan orangtua nanti kita tidak bisa memberitahu apa yang baik untuk anak-anak dan juga kita enggak bisa kasih contoh yang baik karena enggak tau dan enggak punya background pendidikan itu,” jelasnya.

Kemudian, Sondang juga menambahkan bahwa perempuan juga harus memiliki skill yang bisa membantu orang-orang disekitar.

“Saya yakin dan percaya bahwa mbak-mbak dan ibu-ibu yang ada disini pasti sudah menyandang pendidikan atau kalaupun tidak punya sesuatu hal yang bisa membantu anak-anak atau membantu orang-orang disekitar karena kita punya skill atau kemampuan,” tambahnya.

Selain pendidikan, Sondang juga menyinggung terkait kondisi perempuan di Indonesia yang masih memprihatinkan dimana masyarakat masih menganggap rendah kaum perempuan (looking down). Berbeda dengan yang ia temui di beberapa negara maju yang pemikiran masyarakatnya sudah lebih berkembang dimana perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkarir dan bercita-cita.

“Setelah tiga tahun saya mengambil D3 di Unila, kemudian saya dapat sebuah kesempatan untuk bekerja di Batam dan itu pertama kalinya saya belajar bersama orang asing karena 50% dari perusahaan itu orang Amerika,” Papar Sondang.

Disana ia banyak belajar bagaimana sistem pekerjaan di Amerika dan ia juga mulai belajar bahwa diluar negeri peran perempuan itu sangat penting, karena di beberapa negara termasuk di Indonesia yang sedikit masih membuat perempuan itu kelas dua seperti di negara Asia sendiri atau Asia bagian Selatan biasanya perempuan itu masih punya sedikit kesempatan untuk berkarir atau menjabat sesuatu karena pasti orang Looking Down atau memandang rendah.

“Nah, tapi kalau dengan orang di negara yang Western Country  dan mungkin mereka lebih berkembang cara berfikirnya, perempuan itu mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki,” pungkasnya. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...