Sosialisme Dalam Kantong Plastik

Alunan takbir, tahlil, dan Tahmidz terdengar merdu sejak Minggu 11 Agustus 2019. Meresap mengalahkan simfoni burung camar yang biasa kudengar sambil menikmati segelas teh hangat pagi hari. Suara takbir seakan saling berkomunikasi, mengajak dan menuntunku menuju tempat suara itu terdengar. Aku menuju surau, asal kalimat indah itu berasal. Menikmati setiap langkah mensyukuri setiap tarikan nafas dan menghargai setiap sapaan dan senyuman. Pagi yang ramai tapi tak terlihat tukang sayur langganan ibuku, namun suasananya tak kalah ramai. Ibu dan bapak berjalan bersama ditemani anak anaknya, melangkah dengan senyuman seakan sangat menikmati perjalanannya.

Tepat hari ini diwaktu yang sama, jauh dibelahan bumi lainnya. Tempat dimana Adam dan hawa dipertemukan, tempat dimana Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih ismail. Arafah, tempat yang disucikan oleh umat muslim di dunia, saat ini sedang di padati jutaan umat muslim yang sedang melakukan puncak ibadah haji yaitu wukuf. Di padang pasir yang memiliki lebar kurang lebih 10 KM3 ini juga tempat dimana wahyu terakhir yang diberikan pada Muhammad ketika sedang wukuf yakni Surat Al Maidah. Jutaan umat muslim berkumpul dan berdiam diri disini, memiliki tujuan untuk merefleksikan hikmah yang terjadi dari keikhlasan Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya yang telah lama dinanti kehadirannya adalah Ismail. Refleksi dari keikhlasan hamba pada tuhannya inilah yang menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji yang harus di laksanakan setiap jamaah.

Tidak hanya di Arafah, tidak hanya pada saat Ibrahim ingin menyembelih Ismail.  Namun sekarang di seluruh permukaan bumi, semua umat muslim melantunkan kalimat Takbir, Tahlil, dan Tahmidz yang identik sebagai pekikan kemenangan bagi kaum muslim. Menandakan dan mengingatkan bahwa kami manusia telah menang melawan iblis yang selalu mencoba untuk menyesatkan. Mengancam pada iblis bahwa kami manusia adalah mahluk yang lebih berakal dan beriman pada Allah SWT.

Perayaan hari besar idul Adha tidak hanya tentang pekikan kemengan manusia atas iblis. Lebih dari itu pengorbanan yang dilakukan ibrahim pada putranya ismail mengajarkan pada manusia setelahnya apapun kenikmatan yang Allah SWT berikan pada manusia semuanya adalah titipan. Gunakan dengan bijak, dan korbankan atas nama Allah SWT sang pemilik segalanya. Peristiwa Ibrahim dan Ismail ini telah mengilhami, perintah Allah SWT dalam ibadah kurban idul Adha. Karena setiap harta yang kita punya, bukanlah milik kita pribadi. Namun setiap apa yang Allah SWT berikan pada kita adalah milik sesama manusia maka dari itu berbagilah, karena berbagi adalah tanda jika kita masih percaya akan nikmat yang diberikan Allah SWT.

Pagi menjelang siang tepatnya pukul 9 pagi, tepat dilapangan masjid depan rumahku. Warga desa mulai beriringan berkumpul di tempat yang telah disiapkan sebagai tempat pemotongan hewan kurban. Ada warga yang sibuk dengan menarik dan mendorong hewan kurbannya, seperti kambing dan kerbau. Ada warga yang sibuk dengan alat perkakas penyembelihannya seperti golok, pisau, dan kampak. Adapula warga yang sibuk mempersiapkan peralatan untuk meredam perlawanan hewan kurban yang mungkin mengamuk seperti tambang, dan patok tanah. Dan  adapula anak-anak yang mempersiapkan tempat duduk yang pas untuk menikmati pertunjukan gladiator yang paling manusiawi antara manusia dan hewan yang mulia. Manusiawi ? ya karena penyembelihan ini murni untuk kemanusiaan. Semua warga saat ini melakukan tugasnya masing masing, tanpa perintah tanpa komando, bergerak dengan inisiatif dan keikhlasan.

Satu persatu hewan kurban disembelih sesuai syariat yang diajarkan. Pengurus masjid mulai menimbang daging dengan adil. Mewadahinya dalam kantong plastik putih, dan menaruhnya dengan rapih di samping timbangan. Tangan – tangan yang tak pernah lelah untuk memotong, menimbang, dan meletakkan daging dalam plastik sungguh besar kekutan keikhlasan berbagi. Tawa, canda dan senyum keikhlasan seakan mengalahkan banyaknya tetesan keringat yang membasahi tubuh. Sungguh indah pemandangan siang hari ini, mengalahkan tarian ombak senja di garis pantai.

Siang, pukul 1 terlihat dari kejauhan, ibu-ibu, bapak – bapak, dan anak –anak datang dengan membawa sepotong kertas berstempel tinta biru tua. Ternyata potongan kertas berstempel tinta biru tua itu adalah kupon yang sengaja dibuat panitia kurban agar pembagian daging kurban dapat terbagi secara adil dan merata. Warga mulai menukarkan kupon tersebut dengan sekantong daging hewan kurban. Senyum kegembiraan melengkapi kata terima kasih yang terucap dari setiap mulut mereka. Sungguh kekuatan berbagi mengalahkan kekayaan yang dimiliki keluarga Rosechild di amerika. Sungguh keluarga Rosechild bisa memberikan jutaan ton daging, namun 1 Kg daging kurban yang disedekahkan dengan ikhlas, dan diurus dengan baik mengalahkan segala kekuatan uang yang dimiliki keluarga Rosechild.

Sore hari pukul 4 tepatnya, untuk menyalurkan hobbi mengendarai motor, aku berencana untuk sekedar berkeliling menikmati sore. Dimulai dari rumahku, diiringi suara takbir kemenangan yang digemakan anak anak diriku mulai berjalan dengan motor masuk ke desa-desa, gang-gang sempit, sampai persawahan. Sesekali aku memarkirkan motor di pemukiman warga untuk sekedar mengucapkan selamat hari raya idul adha dan sekedar membuka obrolan ringan. Sudah cukup banyak yang aku ajak bicara sore ini, tanpa sadar takbir kemenangan yang mengiringiku bermain motor sore ini berubah menjadi suara takbir ajakan solat. Yang mengharuskanku mengakhiri obrolan dan bergegas pulang dan melaksanakan sembahyang.

Saat perjalanan pulang dialam kepalaku mulai menari-nari dengan kata kata yang harus kutuliskan.  Pelajaran penting yang sering terlupakan, dan pemahaman yang salah diartikan. Bahwa ibadah kurban bukan hanya sekedar memotong hewan, menguliti, menimbang, membagikan dan selesai. Lebih dari itu pemotongan hewan kurban adalah refleksi keikhlasan dan pengorbanan Ibrahim pada Ismail. Dimana setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas akan memberikan kabaikan, bukan hanya pada diri kita namun juga pada orang lain.

Jika saja setiap hari adalah hari raya idul adha, tentu tidak akan ada peperangan, kelaparan, dan tangisan. Mengapa ? karena satu hari ini diriku banyak belajar sosialisme dari ajaran agama islam. Ketika diriku bermain motor sore hari, di temani kumandang takbir kemenangan dari rumah berkeliling sampai lagi pulang ke rumah. Hidung ini tidak pernah berhenti mencium masakan daging. Baik daging itu dibakar, direndang, atau jenis masakan daging lainnya. Hari ini semua orang sama, sama – sama menikmati daging, sama-sama merasakan kekenyangan oleh daging, sama- sama merasa tenang tidak memikirkan besok harus makan apa. Tidak hanya yang berkurban yang ingin menyumbangkan daging bagi yang tidak mampu. Tapi yang tidak mampupun ingin sekali membagikan kebahagian dan kenikmatan masakan daging mereka pada orang lain. Buktinya, ketika aku mampir ke salah satu rumah penerima daging kurban, beliau tidak segan – segan menawarkan makan kepada saya. Sungguh indah saling berbagi, energi postitfnya bisa menular dan meluas. Sungguh indah idul Adha anda saja setiap hari idul adha, dimana semua orang berlomba untuk berbagi, dimana semua orang sama sama bisa menikmati kenikmatan makanan. Pada hari ini semua orang sama, merasakan kemenangan, keadilan, dan kebahagian itu semua karena islam. Lalu, kurang sosialis apa islam ?

 

Dicky Fanshuri – Aktivis Sosialisme Literalis

You might also like
Comments
Loading...