Sepak Bola Adalah Wajah Kita Semua

Ditulis Oleh :
Nanung Widianto
(Mahasiswa Doktoral Di UGM dan PSIM Fans )

Satubanten.com – Hiruk pikuk lapangan hijau bisa digunakan sebagai cermin untuk melihat seperti orang orang yang ada disekitarnya, melihat kita semua. Seperti halnya Franklin Foer menggambarkan dalam How Soccer Explains The World; bagamaina pecahan Yugoslavia menjadi “Gangster’s Paradise” yang mewakili konflk politik dibelakangnya. Atau bagamaina derby The Old Firm di Glasgow sedang menggambarkan segregasi sosial yang bertumpu pada sektarianisme,ironisnya di salah satu jantung peradaban Eropa yang makmur.

Juga tentang “separatisme,” yang tanggung dan setengah hati di Catalunia yang diwakili oleh Barcelona, lengkap dengan jargon kondangnya; “mas que un club”. Barangkali yang terlewat dari Foer adalah cerita tentang Livorno, klub semenjana di Italia yang konsisten menjadi corong bagi komunisme, atau bagaimana Atletico Bilbao, juga barangkali Persipura dalam level tertentu telah menjadi simbol identitas budaya dan politik bagi Bangsa Basque dan Papua.

Rabu lalu (28/11), dalam acara Talk Show Mata Najwa kita seharusnya tidak perlu terlalu terkejut dengan terungkapnya secara terbuka bagaimana kompetisi Liga 2 diwarnai dengan upaya match fixing (Pengaturan Skor Pertandingan). Bagi penggemar sepakbola, sejak lama ini sudah menjadi rumor bersifat laten, bahwa bila sebuah klub ingin menang,atau ingin naik level, semua ada harganya. Karena ada harganya, berarti bisa dibeli. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja, mewakili klub mana saja, asal punya uang dan, tentu saja, mau.

Mungkin juga karena memang hobby. Apalagi ditahun politik seperti saat ini dimana menunggangi klub sepakbola dan para die hard dengan jumlah besar dibelakangnya dipandang sebagai strategy efektif mendekati voter. Lalu kenapa berita tentang pengaturan skor di Asia Tenggara tidak jauh-jauh dari Indonesia atau Vietnam, meskipun bandarnya dikatakan juga datang dari Malaysia atau Singapore. Tentu ini terkait dengan gambaran wajah masyarakat kita secara lebih luas di luar dunia sepakbola itu sendiri. Terkena tilang karena menyerobot lampu merah, ingin masuk sekolah favorit, ingin menang perkara dipengadilan, ingin juara lomba political idols dll, kita ingin semua bisa diatur, dengan harga tertentu. ***

You might also like
Comments
Loading...