Sakit Hati Sering Dibilang Perempuan Murahan, SS Nekat Bunuh Temannya Sendiri

Serang (13/4/2019) Satubanten.com – Warga Cibadak,Labek berinisial SS (16) , yang kesehariannya berprofesi sebagai pengamen ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan temannya sendiri AZ alias Nia Ramadani (20).

Hal ini diungkapkan tersangka Kepada petugas kepolisian, ia mengakui perbuatannya dikarenakan sakit hati karena sering dikatai oleh korban dengan kata-kata “Dasar Jablay Murahan”.

“Terlihat seperti kecelakaan, tetapi berkat ketelitian penyidik bisa kami ungkap,” ujar Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto S.I.K, M.H. dalam kegiatan press coneference di Mapolres Lebak, Jum’at (12/4)

Sebelumnya, Korban ditemukan warga mengambang di bawah sebuah jembatan Sungai Ciujung, Cijoro, Kabupaten Lebak, Banten, pada Rabu (10/4).

Dilansir Bidhumas Polda Banten, Kronologis berawal dari niat jahat pelaku, Nia dengan polosnya mengiyakan ajakan SS untuk mandi disungai Ciujung. Sesaat sebelum tewasnya korban, pelaku berada di dalam air berusaha menarik korban yang sedang di atas sebuah rakit dengan menggunakan kedua tangannya dan berusaha menenggelamkannya.

“Usai menarik korban diatas rakit dan menenggelamkan korban, pelaku kemudian naik ke atas rakit sambil memastikan korban tidak muncul ke permukaan. Setelah itu, pelaku berpura-pura panik dan meminta pertolongan kepada teman lainnya yang saat itu sedang bermain air dibawah jembatan,” terangnya.

Dari hasil keterangan penyidik, pelaku sebelumnya sudah mengetahui bahwa korban tidak bisa berenang. Kepada penyidik, pelaku mengaku merasa sakit hati karena korban sering sering mengolok-oloknya dengan kata-kata yang tidak mengenakan hatinya.

“Pelaku merasa sakit hati karena sering disebut wanita murahan. Pelaku sebelumnya sudah merencakan, mencari sebuah cara untuk membunuh korban,” ungkap Indra Arianto.

Sementara itu Kabidhumas Polda Banten menambahkan, ditubuh korban tidak terdapat tanda-tanda telah dilakukan kekerasan. Karena pembunuhan ini sebelumnya sudah direncanakan, pelaku dapat dijerat pasal berlapis, yakni 340 atau 338 atau 351 ayat (3) KUHPidana.

“Hasil autopsi tidak ditemukan tanda-tanda atau luka yang diakibtkan dari kekerasan. Pelaku dijerat dengan pasal berlapis, ancaman hukumannya maksimal seumur hidup,” ujar Kabidhumas Polda Banten AKBP Edy Sumardi.

Untuk diketahui, jenazah korban sudah dikebumikan oleh pihak keluarga di daerah Boyolali, Jawa Tengah. Pelaku ditangkap hanya berselang beberapa jam saja usai ditemukannya mayat korban di Sungai Ciujung. (SBS/Bidhumas)

You might also like
Comments
Loading...