Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Ruang Nostalgia Bernafaskan Nilai Luhur Pendidikan, Yang Mulai Terlewatkan

Oleh : Muhamad Rifaldi, S.Pd.

OPINI (05/12/2019) SatuBanten. News – Pendidikan saat ini kembali terdengar gaungnya dengan analogi nilai kehidupan yang di dapatkan di segala tempat, sejalan dengan yang sebenarnya di cita-citakan Ki Hajar Dewantara, bahkan sebutan sekolah saat ini sangat sederhana bagi beliau. Terkadang administrasi yang seharusnya menyempurnakan sistem belajar, menjadikan kekeliruan yang luar biasa. Jika kembali kepada harapan bapak pendidikan, seharusnya sekolah yang di harapkan menjadi “taman belajar” menjadi semakin mudah saat ini. Dalam perjalanan arah bangsa yang baik, sudah menjadi sebuah tuntutan dalam tiap tahunnya mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Indonesia negeri yang memiliki kebudayaan yang beragam menjadikan, perjalanan dalam merebut kemerdekaan menjadi berwarna, sekalipun tak jarang adanya masa kelam yang cukup tragis, dalam masa penjajahan contohnya. Meskipun demikian kejadian tersebut seharusnya menjadi sebuah pelajaran bagi penerus bangsa saat ini, kemudian dirasa museum menjadi sebuah tempat yang interaktif untuk menceritakan sebuah perjalanan perjuangan bangsa, dengan bukti benda-benda bersejarah yang di tampilkan, sampai sebuah naskah ataupun tampilan visual reka adegan yang di kondisikan sedemikan rupa, sesuai pengkondisian suasana ruangan agar menunjang situasi yang di inginkan. Dengan tata ruang, pencahayaan, ditambah sayup-sayup suara yang di keluarkan.
Bahkan beberapa tahun belakangan ini, banyak yang berpendapat bahwa, kurikulum justru menjadi momok bagi beberapa guru, tuntutan kreativitas, inovasi dalam belajar, sampai pengembangan serta pendidikan karakter seakan tertutupi dengan beban administrasi yang harus di selesaikan.

Melihat fenomena tersebut seakan menjadi fatamorgana jika menuju pendidikan yang lebih baik. Jika sekolah dikatakan bukan satu-satunya tempat menuntut ilmu, berbanding terbalik dengan kenyataan hidup yang sesungguhnya, sebuah ijazah yang di bubuhi angka yang tinggi seakan menjadi tujuan utama meninggalkan apa yang disebut dengan ilmu hidup, keterampilan, bahkan karakter anak bangsa itu sendiri. Lantas apakah muatan kurikulum saat ini penyebabnya? Jawabannya adalah tidak, karena mengkambing hitamkan kurikulum terkadang menjadi pembenaran yang baik untuk menutupi kukurangan diri. Meskipun demikian bila di perhatikan secara seksama, museum sendiri memiliki sebuah perkembangan dari waktu ke waktu secara konsepnya, setidaknya tiga fase pembabakan berdasarkan perkembangan perkembangan kajian museologi ini menyebut pada ketiga fase tersebut sebagai meseum tradisonal, museum modern atau eco museum, dan museu postmodern (magetsari, 2011). Dengan demikian kiranya, setiap museum yang ada dapat bergerak dan memaksimalkan keberadaannya demi kemajuan bangsa, pelestarian dan perkembangan yang ada juga harus di iringi dengan angka kunjungan yang meningkat, yang selanjutnya mengoptimakan kunjungan untuk mengedeukasi masyarakat. Bahkan bila di mungkinkan, perlu kiranya dengan di adakan kegiatan dan program yang sasarannya adalah para pemuda dengan segala hal yang juga di persiapkan.

Betul penggalian informasi, keterampilan, pengembangan diri untuk menjalankan kehidupan nyata di masyarakat tidak sekedar di sekolah. Tapi ada bagian yang harus di atur dalam tatanan kehidupan, tidak terkecuali dalam menempuh pendidikan yang mana akhirnya di sesuaikan sedemikian rupa dalam tatanan yang lebih terkonsep. Dengan demikian sebagian besar yang mengatakan kurikulum itu kurang tepat adalah kelompok yang memenjarakan diri dengan menyempitkan istilah sekolah, terlepas dari beberapa kekurangan yang juga harus di benahi tentunya. Satu contohnya adalah degredasi pola pikir, dalam penetuan tujuan study tour yang di adakan beberapa sekolah, identitas kegiatan itu saat ini adalah liburan semata yang membiaskan nilai pembelajaran yang seharusnya di kombinasikan. Sangat di sayangkan jika kegiatan yang berpeluang memiliki pengkondisian suasana yang bermakna serta membekas di diri peserta didik, dibiarkan saja di isi dengan hiburan semata, dengan demikian kesempatan memberikan pengetahuan tak jarang tak bisa di maksimalkan. Kemudian satu hal yang lebih sering dibandingkan study tour adalah dalam kegiatan belajar mengajar yang cukup abstrak, pemberian contoh dalam sebuah kasus dan pengkaitan pengalaman peserta didik untuk masuk dalam alur pembelajaran yang tidak pernah di sentuh oleh peserta didik akhirnya menjadi kendala tersendiri dalam proses pembelajaran. sebuah hal yang juga menjadi perhatian serius demi kemajuan pendidikan saat ini, yaitu sebuah pola pembelajaran yang berorientasi pada teori belajar. Teori belajar ausebel yang berbicara pembelajaran bermakna dan teori belajar gagne tentang pengkondisiian belajar.

Selanjutnya tak lupa juga pada konsep dasar belajar yang menyatakan pada prosesnya, peserta didik khususnya dan anak pada umumnya, akan lebih bisa menerapkan apa yang kita harapkan bila kita mencontohkan. Karena anak akan cenderung meniru tingkah laku yang kita lakukan dibanding sekedar intruksi, hal serupa termasuk dalam teori belajar baruda. Dengan demikian patut kiranya metoda konvensional yang memaksimalkan audio, mulai kita kolaborasikan dengan visual, yang mana menurut penelitian dalam indera penglihatan memiliki potensi 80% penyerapan informasi serta pembelajaran yang selanjunya coba di sisipkan dengan sentuhan objek pembelajaran, sekurang-kurangnya melihat bentuk nyata berupa wujud hal yang dimaksud. Hal demikian kiranya akan menunjang pola pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar khususnya di tingkat kelas rendah, yaitu karakkteristik yang konkrit aktif.
Kemudian bisa kita temui fakta disekitar dengan usia rata-rata 20 tahun baru mengunjungi 2-3 kali kunjungan ke museum, dan didapati pada kunjungan ketiga saat usia remaja, kunjungan disana kurang dapat memaksimalkan diri, tak jarang hanya sebatas untuk berswafoto. Berbeda halnya saat kunjungan pertama pada usia sekolah dasar, meski bekal informasi belum banyak, namun hal demikian yang menjadikan munculnya rasa ingin tahu yang tinggi. Sehingga informasi yang di dapat kemudian dapat diserap dengan optimal dan berkesan serta masuk ke dalam memori jangka panjang. Kemudian saat tulisan ini di mulai, pencarian informasi untuk saat ini di tingkatan sekolah dasar, apakah peserta didik di sebuah desa curugpanjang sudah pernah ke museum? Mayoritas menjawab belum, adapun yang pernah adalah dengan keluarga. Untuk itu penulis berfikiran untuk coba berkoordinasi dengan beberapa pihak yang kemudian mencari jalan agar harapan ide bisa di fasilitasi baik transport ataupun hal lainnya.

Tidak hanya sebatas itu, saat anak melihat peninggalan sejarah atau pun penemuan terbaharukan dalam dunia sejarah dan sains, menjadikan peserta didik bersentuhan langsung dan mengkontruksikan fikirannya. Dengan intensitas yang di sesuaikan kemudian adanya pengakutan kasus dalam sebuah pembelajaran semakin mendekatkan dan memudahkan anak memahami materi dan penyelesaian kasus yang diberikan.
Tentunya dengan beberapa hal diatas yang sudah di paparkan gambaran sebuah peran besar museum yang akhirnya bisa memajukan pendidikan Indonesia, terlebih beberapa museum di Banten sudah memiliki nuansa kekinian yang juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk itu kita harus mengetahui strategi kedepan demi sebuah generasi anak bangsa, apakah setiap kecamatan di Banten memiliki museum saat ini? Jawabannya adalah belum, kemudian dengan setiap kota di Banten apakah sudah memiliki meseum yang dapat di akses? Jawabannya juga adalah belum. Namun setidaknya ada beberapa museum yang dapat kita kunjungi, sebut saja museum Banten di Daerah kasemen, dan Museum Multatuli di Kabupaten Lebak. Point yang ingin saya sampaikan adalah, jika alasan berkunjung ke sebuah museum adalah jarak, saya ingin katakan it’s not a reason, mengapa? Karena untuk berwisata dengan istilah study tour saja, yang tempatnya di luar Provinsi mampu. Kemudian apa lagi? Biaya? Saya kira tak lebih dari Rp. 20.000 secara nasioanal bahkan tak sedikit yang membebaskan biaya masuk untuk masuk kedalam sebuah ruangan yang penuh dengan nostalgia di masanya, benuansa edukasi yang sangat nyaman, bahkan ada beberapa mesuem yang menggratiskan pengunjungnya.

Baiklah dengan banyaknya alasan yang di paparkan sebagian orang, kita tidak bisa juga akhirnya memaksakannya. Kemudian timbulah ide sederhana dengan istilah “jemput bola”, apa maksudnya? Kita sinergikan dengan kepentingan beberapa pihak untuk sebuah tujuan bersama, di satu sisi adanya peningkatan jumlah kunjungan ke museum yang dimaksud dan berbanding lurus dengan tingkat eksistensi museum tersebut dan satu sisi lainya adanya perbaikan sistem pembelajaran yang terintegrasi dan memberikan pengalaman baru yang bermakna dan berharga peserta didik untuk di kaitkan nantinya dengan proses pembelajaran di sekolah. Kemudian hal konkrit seperti apa untuk sebuah ide ini?
Pada beberapa mata pelajaran, pastinya ada kaitan erat untuk bisa melakukan kunjungan satu hal lainnya, setiap periode tertentu kiranya ada program dari meseum yang juga di ingin di ketahui oleh masyrakat. Dari sini sudah bisa tergambarkan apa yang harus di lakukan, sederhananya pola sederhana ini bisa sangat memaksimalkan dua hal yaitu, promosi keberadaan dan pengenalan museum dan peningkatan pembelajaran yang ada. Kunjungan berkala yang dilakukan oleh anak akan menimbulkan kesan tersendiri di benak anak untuk selanjutnya juga dapat mengetahui nilai sejarah yang di temukan di dalam ruangan tersebut.
Terakhir yang ingin sampaikan terkait keberadaan museum di Banten saat ini adalah sebuah harapan untuk bisa di korelasikan secara langsung dalam dunia pendidikan dan perlunya adanya peningkatan fungsi museum yang semakin di perluas, salah satunya dengan adanya fasilitas audio visual yang di sediakan. Akses transportasi yang bisa di permudah dan kemudian coba di munculkan duta-duta di setiap sekolah, menjadikan perpanjangan tangan untuk penyebaran informasi tentang meseum tersebut dengan di satukan dalam wadah organisasi dengan pembinaan yang tepat serta kontroling yang sesuai di iringi dengan kegiatan-kegiatan bernafaskan meseum di dalamnya yang juga ikut di sebarluaskan melalui postingan-postingan serta hastagh media sosial saat ini.

Semoga dengan ide sederhana ini, keberadaan museum bisa menjadikan penunjang pendidikan di Indonesia, tentunya tidak hanya itu masih banyak cita-cita saat berbicara museum khususnya di Banten. Teriring doa akhirnya di akhirinya coretan berdasarkan keresahan hati anak bangsa, Putra Daerah yang berharap pada setiap kesempatannya Indonesia menjadi negeri yang berisikan manusia-manusia yang memiliki kualitas tersendiri di setiap bidangnya melalui pendidikan dan keberadaan tempat bernuansa historycal, education, and saince. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...