Ril Contradiction Rilis Video Clip ‘Suara Minoritas’

Serang (09/07/2019), Satubanten.com – Video berdurasi 5 menit 19 detik itu dibuka dengan cuplikan pidato mendiang Munir Said Thalib. Tidak ada sosok gambar ilustrasi memang, hanya hitam. Tapi seperti biasa, suara Munir tajam menikam.

“Mereka berepbut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan.”

Munir Said Thalib

Kesan rebel di video ini dipertegas dengan cuplikan video selanjutnya. Kali ini bukan hanya suara, tapi juga ada sosok disana. Wajahnya biasa saja, tapi kata-katanya mebahana. Bukan karena gelegarnya, bukan karena puitisnya, tapi kata-katanya nyata, menghentak realitas keseharian kita. Ialah Wiji Thukul dengan salah satu sajaknya berjudul Apa Guna.

“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli. Apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu. Di mana-mana, moncong senjata. Berdiri gagah, kong kalikong dengan kaum Cukong.” 

Apa Guna (dibawah selimut kedamaian palsu), Wiji thukul.

Selanjutnya musik menghentak langsung hadir, menghentak menggelegar. Seolah memaksa membangunkan kesadaran. Ril Contradiction seperti hendak menyentak pendengarnya, dengan ingatan-ingatan tentang kasus-kasus pelanggaran HAM yang tak pernah selesai dari mulai Munir, Wiji Thukul, Marsinah, hingga Novel Baswedan.

Lagu dengan judul ‘Suara Minoritas” ini adalah salah satu lagu yang tergabung dalam mini album bertajuk ‘Senjata dan realita’. Lagu dan albumny sendir sudah lebih dulu dirilis beberapa bulan sebelumnya dan tersebar luas melalui berbagai platform musik digital. Kini ‘Suara Minoritas’ mencoba memperkuat kesan dan ruh lagu tersebut melalui Video Klip yang dirilis di kanal Yotube mereka.

Video “Suara Minirotas‘ sendiri digarap oleh seorang sineas muda asal Kota Serang, Mohammad Saddam Rizqi. Sedangkan ide dan ceritanya digarap oleh Arif Rahaman Beky a.k.a Arif Firaun. Arif mengatakan bahwa ide Video ini memang dibuat untuk mengingat kembali kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga kini tidak selesai.

“Video tersebut tentang sebuah sikap menolak lupa pada pelanggaran HAM di Indonesia. Mengangkat dari orang-orang yang menyuarakan kebenaran namun terbuang dan hilang,” kata Arif.

Hal senada juga dikatakan oleh Agung selaku Vokalis Ril Contradiction. Lewat video ini, berharap bahwa sejarah tidak serta-merta hilang begitu saja. Generasi terkini harus tetap tahu bahwa ada jejak-jeka perjuangan yang belum selesai, yang harus terus ada dan diperjuangkan dari generasi ke generasi.

“Video ‘Suara minoritas’ ini dibuat dengan harapan sejarah takkan mati dan generasi selanjutnya harus tetap tahu,” kata Agung.

Melalui latar belakang ini, Arif mencoba menarik semangat perjuangan tokoh pejuang HAM tersebut ke daerah Banten terutama Kota Serang. Angel tertentu bahkan secara nastural muncul sebagai penguat bahwa di Kota Serang sendiri menyimpan masalah-masalah yang tidak selesai dan hingga kini perlu diperjuangkan. Beberapa peninggalan sejarah perjuangan juga menjadi fokus untuk tetap dilestarikan dan menjadi pengobar semangat patriotisme.

Agung mengatakan bahwa lagu ‘Suara Minoritas‘ lahir saat dirinya sedang mengikuti perkuliahan tentang sejarah Orde Baru. Itulah mengapa konflik karena krisi moneter sangat kental dalam lirik “Suara Minoritas’.

 

Bangsa yang terjerat konflik

para pemuda pemudi tertampar emosi

di tanah ini ku ingin berteriak

oh pertiwi disini ku besar bersinar menantang tirani

 

Pada perkuliahan tersebut si dosen secara tidak sengaja mengucapkan frasa kata ‘Suara Minoritas‘. Agung lalu mencari referensi,dan mengajak diskusi teman-temannya. Ideliar mulai lahir, kata demi kata menjadi lirik yang utuh dalam lagu ‘Suara Minoritas’.

 

Kamilah suara minoritas

mereka yang hanya mampu untuk menindas

berparas kebenaran tiada batas

kami menolak untuk bungkam

 

Sebagai penutup liriknya, Ril Contradiction mencoba menegaskan bahwa ‘Suara Minoritas‘ akan tetap ada dan terus bersuara. Untuk kebenaran dan untuk menolak segala bentuk pembungkaman.

 

Disini aku dan sejuta tragedi

terbungkam dalam jeritan emosi

tak pernah berhenti suarakan hati

tuk perihnya negeriku

 

 

(IBC/SBS032/

 

You might also like
Comments
Loading...