Realitas Pelangi Era Milenial

Realitas Pelangi Era Milenial
Oleh : Auliya, Forum Komunitas Sahabat Pena

Serang (14/05/2019) SatuBanten.com – Dunia hiburan sudah menjadi sebuah pilar penting dalam roda kehidupan di era 4.0 ini. Hal tersebut wajar saja mengingat karya seni merupakan wadah terbaik untuk mencurahkan segala aspirasi. Ini ditunjukkan dengan betapa majunya Korea Selatan karena memiliki puluhan grup idola yang mendunia, Amerika Serikat yang memiliki puluhan penyanyi bersuara emas, Hollywood yang meluncurkan banyak film-film menakjubkan dan Jepang yang khas dengan jutaan episode karakter dua dimensi. Kesuksesan dan gemerlap dunia hiburan dewasa ini tak dapat dipungkiri sangat berpengaruh pada pola hidup dan pola pikir generasi milenial. Dengan majunya teknologi dan peradaban, dunia hiburan tak lagi diperuntukan bagi seniman terkenal saja.

Banyak masyarakat biasa yang bisa mencurahkan aspirasi mereka melalui sebuah karya seni dan mengunggahnya di media sosial. Jaringan tanpa batas yang diciptakan oleh globalisasi mempermudah masyarakat mendapatkan ‘kesuksesan’ mereka. Sebut saja youtuber sukses, selebgram dan webtooners yang sudah mengoleksi jutaan pembaca.
Sekilas hal tersebut tampak bernilai positif. Dunia hiburan bisa menyenangkan semua pihak dan memajukan suatu negara. Dunia gemerlap ini juga bisa menjadi wadah untuk generasi milenial berekspresi. Namun, jika dikritisi justru di sanalah letak kekeliruannya. Budaya sekuler dan liberal berhasil membuat sebuah paradigma bahwa semua orang ‘bebas’ berekspresi tanpa memberikan aturan dan batas yang harus diindahkan.

Berawal dari sana, kreatifitas tanpa batas terus membanjiri konten-konten hiburan di jejaring sosial. Ditambah lagi, banyaknya paham-paham baru yang bersifat ‘bebas’ dari luar dengan mudahnya menerobos masuk dan meracuni pola pikir generasi kita. Maka dimulailah kerusakan generasi itu. Salah satu paham yang diyakini sebagai buah busuk dari arus globalisasi ini adalah Islam Radikal yang kemudian mengkambinghitamkan banyak ormas keagamaan yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya. Karena terlalu fokus pada buah busuk yang ditunjukkan penguasa, kita lupa bahwa masih banyak buah busuk yang berhasil masuk ke negeri tercinta dan menyebar kebusukannya kepada buah-buah ranum nan segar yang lain. Kita ambil contoh, LGBT.

Kaum minoritas ini kini tengah disorot media. Banyak pihak yang mendukung dan melindungi keberadaan mereka dengan dalih kemanusiaan dan hak asasi. Padahal, sudah jelas bahwa mereka menyalahi Kodrat yang diberikan Tuhan pada mereka. Perilaku menyimpang yang dianggap wajar ini jelas adalah sebuah dosa dan seharusnya tidak didukung oleh sebuah negara yang menggunakan Ketuhanan sebagai landasan pertamanya. Bagaimanapun, kaum minoritas ini juga ingin unjuk diri. Melalui dunia hiburan, mereka mulai melahirkan karya-karya yang menyelipkan pesan-pesan LGBT kepada penikmatnya. Bukan hanya sekarang, bahkan sebelum kita memasuki era 4.0 saja itu sudah terjadi. Hanya saja, setelah era milenial mereka bergerak semakin gencar.

Berawal dari banyaknya film luar bertema LGBT yang bisa diakses oleh generasi kita, hingga justru generasi kita sendiri yang menelurkan karya tersebut. Sebut saja film yang kini tengah menjadi bahan perbincangan netizen di media sosial, Kucumbu Tubuh Indahku. Film berjudul vulgar tersebut mulai tayang pada 18 April lalu dan mendapatkan banyak respon dari masyarakat. Banyak mendukung, banyak pula yang mengecam. Pada trailer yang dirilis sebelumnya, banyak netizen yang menyuarakan pendapatnya untuk film garapan Garin Nugraha tersebut. “Film ini gak membawa manfaat sama sekali! Merusak citra masyarakat beragama aja!” Komentar salah seorang netizen.”Seharusnya pemerintah tidak melegalkan film sampah seperti ini.” Tambah yang lain.

Tak hanya itu, banyak pula komentar pro yang dilayangkan netizen di kolom komentar trailer film bertemakan penari lengger tersebut.”Karya anak bangsa patut diacungi jempol karena berhasil menunjukkan realitas kaum minor.” , “Jangan hiraukan mereka yang mengecam, kami di sini mendukungmu!” Dan komentar membangun lainnya. Film ini sendiri menceritakan seorang penari lengger yang mengharuskannya memiliki sisi feminin sekaligus maskulin. Banyak media yang mengutip adegan yang menunjukkan hubungan sesama jenis, juga tingkah laku tokoh utama yang tidak normal. Hal ini membuat masyarakat risau.

Oleh karenanya, petisi untuk menghentikan penayangan ini pun dibuat dan berdasarkan data terakhir, sudah ditandatangani oleh sekitar 53ribuan orang. Secara kehidupan sosial, LGBT merupakan perilaku menyimpang, tidak normal dan merupakan sebuah aib yang harus disembunyikan. Namun, semakin berkembangnya zaman, masyarakat modern mulai mengubah paradigma mereka dan bersikap menerima terhadap para pelaku LGBT tersebut. Meski begitu, tetap saja secara adat dan sosial budaya perilaku tersebut menyimpang dan menyalahi norma yang ada.

Secara psikologi, kaum minoritas bukan hanya LGBT saja melainkan LGBTQ+++. Artinya, masih banyak golongan lain yang harus diperhatikan. Bukan hanya kaum marginal yang menyimpang ini saja. Lagipula, jika kita peduli seharusnya kelainan mereka bukan didukung oleh kita melainkan disembuhkan supaya mereka dapat menjalani kehidupan yang normal. Secara spiritual, perilaku menyimpang ini jelas sebuah penyalahan pada kodrat manusia itu sendiri. Manusia diciptakan berpasangan untuk melestarikan kehidupan. Tanpa ikatan lawan jenis, kehidupan tidak akan bisa berlanjut. Dengan adanya LGBT, kelestarian manusia ini jelas terancam.

Pengecaman terhadap kaum marginal ini tidak hanya dilakukan oleh Islam saja. Bahkan kita bible pun mengecam para penyuka sesama jenis.”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan karena itu adalah suatu perbuatan yang keji.” (Imamat 18:22) Kutipan dalam kitab nasrani tersebut mendukung firman Allah ta’ala dalam Al-Araf ayat 81 yang artinya, ” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”Telah jelas bahwa Tuhan mengecam pada praktik LGBT ini. Sebagai sebuah negara yang berlandaskan pada Ketuhanan yang Maha Esa, sudah seharusnya Indonesia menolak akan segala hal terkait dengan golongan minoritas ini.

Hukumannya sudah jelas, dalam Al-Kitab apalagi Al-Qur’an bahwa para pelaku LGBT harus dimusnahkan, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pemusnahan bisa dilakukan dengan menyembuhkan apa yang menyimpang dari perilaku mereka tersebut. Memberikan kajian dan pemahaman kepada mereka juga meluruskan pandangan generasi milenial akan kaum pelangi tersebut. Kehidupan akan menjadi damai dan manusia akan terus berkembang biak untuk memajukan peradaban. Akan ada saatnya nanti, ketika kasus seperti ini ditangani dengan sigap. Ketika pemerintah peduli pada generasi muda dan memberikan mereka pemahaman yang cukup sehingga informasi yang sifatnya toxic dan menerobos masuk dari orang asing akan dicerna dan dikritisi terlebih dahulu.

Indonesia dalam sistem ini tidak akan kehilangan wajahnya lagi karena mengabaikan landasan Ketuhanan yang sudah lebih dari 70 tahun dipijak. Adalah Khilafah. Sebuah sistem yang akan membawa kehidupan lebih baik dan lebih sehat, juga melindungi kualitas pola pikir dan pola sikap generasi mudanya. Sehingga tidak akan ada lagi perilaku dan paham menyimpang yang meracuni pemikiran anak bangsa. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...