Realita Kehidupan Masa Kini, Dunia Tak Lagi Bersahabat

Oleh: Muhamad Fadli, Presiden Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2018

OPINI (09/03/2020) SatuBanten.com – “Pak, besok ada uang untuk kita dan anak-anak makan ?” ucap seorang istri kepada suaminya. “Bu, hari ini kita makan apa ?” pertanyaan anak kepada ibunya. Sebelum suami menjawab pertanyaan sang istri, sang suami terlebih dahulu menatap ke langit menelan ludah dan berujar dalam hati “ Tuhan, jika engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Dimana letak Maha PengasihMu dari usaha yang kulakukan dari pekerjaan serabutan ini, aku menolong mereka tapi tak sepeser pun aku dapatkan apa-apa”. Alih-alih mendapat pertolongan dari Yang Maha Kuasa, sang suami sempat frustasi mengucapkan sumpah serapah pada orang-orang kaya yang ditemuinya. Sang suami menganggap orang-orang kaya tersebut hanya mementingkan dirinya pribadi dan keluarganya.

Menemui sebuah kerasnya kehidupan, secara tidak sadar ada dua keadaan yang membuat manusia membentuk penilaiannya terhadap orang lain. Pertama, seolah orang lain tidak perduli terhadap keadaan dirinya. Kedua, membangun loyalitas terhadap orang-orang yang telah berempati terhadap keadaan diri dan keluarganya karena membantu meringankan beban secara moril atau materil. Namun sebagian besar masalah yang ditemui adalah karena faktor ekonomi. Lihatlah teori marxisme sebagai anti tesa dari kapitalisme karena ketidakadilan terhadap kaum buruh. Dari faktor ekonomi ini, banyak perempuan yang tidak sanggup hidup bersama sang suami dan meminta cerai karena kekurangan ekonomi. Sebaliknya, disaat para laki-laki merasa mapan secara ekonomi banyak dari mereka yang meninggalkan perempuan yang dicintainya dulu.

Saya tidak menjalaskan teori-teori ekonomi, tapi membahas sedikit realita yang terjadi. Saat kita membaca buku  robert kiyosaki misalnya yang berjudul “rich dad poor dad”, hal ini juga dirasakan para orang tua. Mereka berduyun-duyun meminta anaknya untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena menganggap dengan menjadi PNS kehidupan semakin membaik karena penghasilan yang cukup baik untuk kehidupan sehari-hari. Tentu ekspektasi ini tidak semua orang menjadi PNS atau ASN (Aparatur Sipil Negara) karena kuota atau jumlahnya terbatas.

Hidup di Sebuah Negara seperti Indonesia memang tak lepas dari jeratan pembicaraan sebuah kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Tere liye menjabarkan dalam bukunya yang berjudul “Negeri Para Bedebah”, buku ini banyak membahas tentang pusaran kekuasaan dan aparat yang rakus dan tidak berpihak ke rakyat kecil. Berbanding terbalik jika kasus korupsi merajalela di Negeri mayoritas Muslim. Secara ajaran agama, kita harus saling membantu dan menolong kaum-kaum mustadh’afin atau kaum miskin. Artinya, secara prinsipil nilai-nilai agama belum berurat-saraf dalam peri kehidupan bermasyarakat.

Tentulah kesabaran dan rasa syukur menjadi modal kita sebagai manusia. Hidup harus selalu ringan tangan, tanyakanlah kepada kerabat-kerabat terdekat kita barangkali di balik senyumnya ada masalah yang mereka sembunyikan, ada lapar yang mereka tahan dan ada sakit yang harus segera diobati. Jika rasa empati ini hadir di semua kalangan, maka penulis yakin bahwa kesejahteraan akan muncul. Penguasa memikirkan rakyatnya, pengusaha berusaha mensejahterakan pekerjanya dan lain sebagainya. Hanya orang-orang yang gelap mata dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai yang diinginkannya tanpa memperdulikan orang lain. Jika ada manusia seperti ini, kita ingatkan dia dengan tangan atau lisan yang kita miliki. Pembiaran terhadap kesalahan akan menjadi sebuah kebenaran, sedangkan kebenaran yang tidak disampaikan akan dianggap sebuah kesalahan.

Mudah-mudahan dengan ringannya kita dalam berbuat kebaikan, mampu menghantarkan kita pada tempat keabadian surganya Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga kepekaan sosial yang dimiliki mampu menjadi inspirasi bagi orang lain untuk tidak mementingkan dirinya sendiri atau secara realitas diri kita yang memang perlu dibantu. Untuk meringankan beban kita, maka perbanyaklah menolong orang lain. Menolong orang lain itu seperti berbuat baik untuk diri kita sendiri. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...