Rahasia Kemudahan Al-Qur’an dan Amalan Pra Hafalan

Oleh: Miftahul Khair, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Serang (28/06/2019) SatuBanten. News – Di antara sekian mukjizat yang pernah hadir di bumi, Al-Qur’an ialah kemuliaan tertinggi yang dianugerahkan pada ummat Islam. Ia adalah satu-satunya kitab yang dibaca 17 kali sehari, tanpa bosan. Satu-satunya kitab yang dibaca sekalipun maknanya belum tentu diketahui.

Satu-satunya kitab yang tidak pernah mengalami perubahan kalimat dan ejaan, di setiap zaman. Dan yang paling istimewa, ia begitu mudah dihafal. Ya, begitu mudah. Dari balita hingga usia senja dijamin mampu menghafalkannya.

Kemudahan menghafal Al-Qur’an memang begitu mempesona hingga tidak mampu dibatasi sekat logika. Seorang balita tunanetra mampu menghafalkannya; yang terlahir premature dengan vonis lumpuh otak juga mampu menghafalkannya; bahkan manula tuna aksara begitu mudah menghafalkannya. Sungguh nyata firman Allah ketika menjamin kemudahannya.

Hal yang tidak pernah didapati pada “kitab suci” lainnya. Uniknya, proses kemudahan ini bahkan diurai dalam Al-Qur’an, lengkap dengan pengalaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mencoba menghafalkannya. Petunjuk inilah yang kelak melahirkan para huffazh di muka bumi dalam setiap generasi, dari zaman old hingga zaman now.

Seperti yang telah diurai sebelumnya, Al-Qur’an ialah pedoman hidup yang dijamin mudah dihafal. Kemudahan ini akan cepat diraih bila para penghafal mampu menghadirkan amalan pra hafalan yang disyariatkan Al-Qur’an dan Sunnah berikut hal terpenting yang dimaksud.

1. IKHLAS
Menghafal Al-Qur’an adalah bagian dari ibadah, sedangkan ibadah membutuhkan hadirnya keikhlasan. Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman:
وَمَا أُمِرُوُا إِلاّ لِيَعْبُدُوْا اللّهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ…
Artinya: “dan mereka tidaklah diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas, (demi menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Karena itu, para penghafal Al-Qur’an mestilah meniatkan hafalannya karena Allah semata.

Sifat ikhlas inilah yang bahkan ditekankan Al-Qur’an saat ia pertama diturunkan. Iqra bismirabbikalladzi khalaq, bacalah atas nama Rabbmu yang (telah begitu) mudah mencipta. Demikian isyarat ikhlas terpancar dalam awal firman rabbani.

Jadi, para penghafal al-Qur’an mesti menepikan pelbagai orientasi yang dapat mengikis kadar keikhlasannya, termasuk tujuan menjadi hafizh ataupun hafidzah. Ikhlas inilah yang kelak menghadirkan pertolongan Allah dalam memudahkan proses menghafal.

2. SERIUS
Di antara hal terpenting yang mesti dimiliki ahli Al-Qur’an ialah keseriusan dalam menghafal, sungguh-sungguh. Cermatilah perihal kesungguhan Nabi dalam meraih ayat Al-Qur’an hingga mendaki gunung cahaya, menuju gua Hira. Perhatikanlah kasih Allah yang membalas kesungguhan beliau dengan memudahkan Al-Qur’an terkumpul dalam jiwanya, tidak sekedar lisannya.

لاَتُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ . إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ.
Artinya: “janganlah engkau tergesa menggerakkan lidahmu untuk segera mendapatinya. Sungguh kamilah yang akan menghimpun Al-Qur’an (di dadamu) serta (membuatmu pandai) membacanya maka bila kami telah selesai menanamkan bacaannya, ikutilah bacaan itu.” (QS. Al-Qiyamah : 16-18)

3. SABAR
Sabar mutlak diperlukan untuk setiap penghafal Al-Qur’an. Hafalan yang dijalani dengan kesabaran akan cenderung baik dan tartil. Demikian kiranya kedekatan itu dilukis dalam Al-Qur’an. Kedekatan inilah yang akan melahirkan kekhusyuan dalam bacaan bahkan cenderung meningkatkan iman. Karena itu, Allah memberi kegembiraan khusus pada orang sabar terlebih saat menjalani ujian.

4. YAKIN
Keyakinan termasuk hal penting dalam proses menghafalkan Al-Qur’an. Setiap penghafal mesti yakin bahwa Allah telah menjamin kemudahan dalam proses menghafal kitab mulia ini. Jaminan tersebut bahkan ditegaskan sebanyak empat kali dalam surat Al-Qamar, yaitu pada ayat ke 17, 22, 32, dan 40.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا القُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya: “Sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk diingat (dihafalkan). Maka adakah orang yang mau mengingatnya?”
Saking mudahnya, Al-Qur’an dapat dihafal oleh seluruh kalangan tanpa batas.

Besar, kecil, tua, muda, pintar, standar, bahkan melihat ataupun tidak (buta), semua memiliki peluang yang sama. Sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang menjadi mukjizat terbesar Nabi. Tidak akan didapati karya manusia yang mudah dihafal layaknya Al-Qur’an.

5. MENGHADIRKAN MOTIVASI
Aktifitas Al-Qur’an memiliki keunikan tersendiri. Sangat semangat sedang membara maka sekian ayat seakan sangat mudah untuk dihafalkan dan diingat. Tetapi, di sisi lain hadirnya suasana hati yang tak terduga kadang membuat api semangat ini mulai padam, ayat yang dihafalkan sulit untuk ditangkap dan diingat bahkan hafalan mulai melambat. Rasa pesimis, skeptis, hingga kesibukan yang sulit diatur ialah salah satu dari yang dimaksud.

Di titik ini, para penghafal harus memperbaharui niat kembali dan menghadirkan motivasi-motivasi yang bisa membangkitkan semangat menghafal seperti “untuk apa saya menghafal?” sekaligus menepikan pelbagai situasi yang menyebabkan turunnya semangat menghafal.

Demikian di antara amalan pra hafalan yang diisyaratkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai pedoman oleh para penghafal sehingga kelak bisa mendapatkan rahmat dan syafa’at dari setiap ayat yang dihafalkannya. Allaahumma aamiin. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...