Puluhan Tahun, Siswa Nekat Sebrangi Sungai Tanpa Jembatan

Cikedal (9/11), SatuBanten News – Puluhan siswa SD di Kampung Padahayu Kecamatan Cikedal Pandeglang harus menyeberangi sungai jika pergi ke sekolah karena tak ada jembatan. Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun.

Mereka berangkat dan pulang sekolah dengan menyebrangi Sungai Cipunten Agung yang berada di kaki lereng Gunung Pulosari. Untuk menyebranginya, siswa harus melepas sepatunya. Sedangkan baju seragam disingsing agar tidak basah. Tak hanya itu, mereka mempertaruhkan nyawa melawan arus sungai selebar 45 meter ini. Karenanya, sebagian siswa dibantu dan digendong orangtuanya.

Salah satu guru yang mengajar di SDN Padahayu, Sukenda mengatakan, jika air sungai besar, para siswa banyak yang memilih libur. Mereka takut menyeberangi sungai.

“Para siswa dan warga lewat sungai ini untuk ke sekolah dan berkebun, tak ada jembatan. Kalau hujan dan air sungai besar, libur ke sekolah,” ujarnya Jumat (9/11/2018).

Viny, salah seorang mahasiswa Untirta yang pernah melakukan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di desa tersebut mengatakan bahwa dirinya sering melihat para siswa harus menyebrang sungai ke sekolah. Dia pun terkadang harus menyeberang jika ada kegiatan saat KKM.

“Banyak orangtua menggendong anaknya untuk menyeberang. Kalau tinggi air sungai sepaha, mereka jalan terus. Kalau di atas itu, mereka gak berangkat,” tukasnya.

Sungai ini membelah Kampung Cingenge dan Kampung Padahayu yang padat penduduk. Saat ini warga berharap pemerintah menaruh perhatian akan sulitnya akses bagi pendidikan. (PDG/SBS)

You might also like
Comments
Loading...