PT Krakatau Steel, Dari Masalah PHK Hingga Restrukturisasi

Oleh : Rafli Maulana, Presiden Mahasiswa UNTIRTA 2019

Serang (20/07/2019) SatuBanten. News – Krakatau Steel di bangun oleh presiden pertama Soekarno, dengan bantuan pinjaman Rusia. Krakatau Steel dibangun guna menjadi pondasi awal Indonesia dalam menerapkan sebuah kemajuan bangsa melalui revolusi industri untuk meningkatkan infrastruktur dan peningkatan alutsista. Pada jaman Soeharto kapasitasnya di naikan, namun naasnya keberadaan Krakatau Steel belakangan ini sangat miris, logika sederhana 5 tahun belakangan pemerintahan sedang menggenjot pembangunan infrastruktur, seharusnya Baja dan Semen sangat di perlukan.

Namun sayang salah satu perusahaan BUMN Krakatau Steel justru Merosot dan merugi, sebagai dampak dari proyek masa lalu yang ada marketnya, sebagian besar karena Banjir Impor Baja produk China yang di jual dengan harga anti dumping yang harganya sangat murah lantara China mengalami kelebihan produksi kapasitas industri Baja. Rencana PHK itu diketahui dari Surat Edaran (SE) No 73/Dir.SDM-KS/2019 perihal Restrukturisasi Organisasi Krakatau Steel. Pada surat per tanggal 29 Maret 2019 itu ditunjukan untuk para General Manager (GM) dan manager di lingkungan Krakatau Steel.

Dalam SE tersebut, tercantum sejumlah poin penting. Di antaranya, merestrukturisasi 30% dari total 4.453 karyawan organik Krakatau Steel Induk. Total karyawan yang masih bekerja sebanyak 6.264 karyawan. Ini sesuai Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2018-2022 Krakatau Steel, dimana target produktifitas karyawan Key Performance Indikator (KPI) sebesar USD667 ribu per karyawan, setara dengan 4.352 orang. Maka dengan itu, ada sekitar 1.300 karyawan organik akan mendapatkan restrukturisasi. Restrukturisasi pun akan menjadi tanggung jawab GM masing-masing unit kerja, bekerja sama dengan GM Human Capital Manajement.

Sementara, Senior Corporate Comunication pada Corporate Comunication (Corcom) Krakatau Steel Vicky Muhamad Rosyad mengatakan, semangat dari restrukturisasi ini untuk mendorong kebangkitan perusahaan Baja plat merah tersebut seraya membantu sektor keuangan perusahaan yang mengalami kerugian selama tujuh tahun berturut-turut. Dikutip dari Harian Neraca, Jumat (28/6/2019), gejala Krakatau Steel bermasalah sudah berlangsung selama tujuh tahun dengan membukukan rugi bersih berkepanjangan. Sampai kuartal I-2019 total kerugian Krakatau Steel mencapai USD62,32 juta atau ekuivalen dengan Rp878,74 miliar (kurs Rp14.100 per dolar AS).

Sampai Desember 2018 Krakatau Steel mencatat rugi bersih sebesasr US$4,85 juta atau ekuivalen dengan Rp68,45 miliar. Sementara sepanjang kuartal I-2019 pendapatan perseroan turun 13,87% menjadi USD418,98 juta atau sekitar Rp5,90 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD486,17 juta atau Rp6,85 triliun. Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai ada sejumlah faktor yang membuat Krakatau Steel sulit untung dalam tujuh tahun terakhir ini, di antaranya seperti biaya produksi baja perseroan masih mahal alias belum efisien.

Kondisi Krakatau Steel juga semakin sulit manakala impor besi dan baja leluasa masuk ke Indonesia. Menurut BPS, nilai impor besi dan baja pada Juli 2018 sudah tumbuh 56,55 persen menjadi US$996,2 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya. Selain biaya produksi yang belum efisien dan derasnya baja impor, kesulitan Krakatau Steel untuk untung juga dikarenakan beban keuangan yang besar, antara lain dari utang usaha Krakatau Steel, baik utang jangka pendek maupun panjang. Hingga 2018, total utang perusahaan mencapai US$2,49 miliar yang terdiri dari utang jangka pendek US$1,60 miliar dan jangka panjang US$899 juta.

Perusahaan yang merugi selama tujuh tahun berturut-turut, ditambah jumlah utang yang menggunung tentu berpotensi jadi masalah besar. Apalagi, kas dan setara kas perseroan juga tinggal US$173 juta. Sementara itu perusahaan asal China akan segera membangun pabrik baja di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi 2,54 miliar dolar AS. “Pabrik itu rencananya yang terbesar di Asia karena mampu menyerap 6.000 hingga 10.000 tenaga kerja, rencana beroperasi 2019 atau paling tidak 2020” kata Bupati Kendal Mirna Annisa kepada Antara di Beijing, Rabu dilansir Antara.

Menyikapi hal ini, seharusnya pemerintah tidak membuka keran impor maupun investasi bagi asing, terlebih dengan kondisi PT Krakatau Steel TBK yang berada diambang kebangkrutan. Impor maupun investasi hanya akan memperburuk industri baja di Indonesia. Industri baja merupakan bagian dari industri strategis, ia adalah prasyarat menjadi negara kuat. Dalam perspektif Islam industri baja adalah sektor yang merupakan kepemilikan umum. Negara sebagai pengelolanya yang akan menghimpun dana guna membangun teknologinya, eksplorasi sumber alamnya hingga distribusinya.

Bila Rasulullah menyebut “air, api dan padang gembalaan”, maka hal ini berarti termasuk seluruh industri pertambangan, pembangkit listrik dan industri pengolahan hasil hutan. Ia tidak boleh dikelola oleh individu baik lokal maupun asing. Sebab, industri baja merupakan industri strategis dimana negara tidak boleh tergantung kepada negara lain. Ketergantungannya terhadap negara lain bisa mengakibatkan negara akan dengan mudah dijajah dan dikuasai. Lantas, bagaimana perspektif Islam terkait industri strategis? Jawabannya adalah politik industri Islam yang di dasarkan pada industri pertahanan dan keamanan.

Dalam pandangan Islam sebuah negara harus mandiri di segala bidang termasuk dalam bidang industri. Karena itu, harus dilakukan revolusi industri, di mana kebijakan di bidang perindustrian yang selama ini bertumpu pada industri konsumtif, diubah menjadi industri strategis. Sekaligus menjadikan industri strategis ini sebagai basis perindustrian. Untuk mewujudkannya hanya ada satu cara, yaitu membangun industri peralatan atau membangun industri yang memproduksi alat-alat, yang biasanya dikenal dengan industri alat berat. Dari industri inilah kemudian industri-industri lain bisa dikembangkan.

Contoh menarik adalah Uni Soviet, ketika Lenin diminta untuk mereformasi industri pertanian dengan mendatangkan peralatan dari Barat, dengan tegas dia menyatakan,
“Kita tidak akan menggunakannya, sampai kita bisa memproduksi sendiri.” Sejak saat itu, Uni Soviet terus melakukan revolusi industri dan berhasil menjadi negara nomer satu di bidang industri kemiliteran sehingga tampil menjadi adidaya bersama Amerika, hal itu dari aspek politik industri negara. Adapun dari aspek revolusi industrinya, maka ini merupakan perubahan mendasar di bidang industri di dalam negeri dan seluruh level yang dibutuhkan oleh industri peralatan, pertahanan dan keamanan, elektronik, satelit dan lain-lain.

Industri berat ini harus segera itu juga dibangun, dan tidak boleh santai sebelum benar-benar menguasai hulu, bahkan kalau perlu hingga hilirnya. Semua potensi ekonomi harus diarahkan ke sana guna membangun industri peralatan, dengan tetap melanjutkan industri yang sudah ada, seperti industri konsumtif, meski dengan catatan tidak boleh ada penambahan, sebelum target industri berat ini tercapai. Karena seluruh industri, baik yang dimiliki oleh negara maupun individu, harus tunduk kepada politik industri negara, yaitu industri pertahanan dan keamanan.

Politik dan revolusi industri di atas tidak mungkin bisa diwujudkan oleh suatu negara, kecuali dengan sejumlah langkah, antara lain, negara harus membuka pusat-pusat kajian dan riset, pelatihan dan laboratorium untuk mengajarkan sains industrial enginering, baik teori maupun terapan, seperti industri eksplorasi, penambangan, pengolahan dan kimia. Semuanya ini digunakan untuk menopang industri berat serta industri pertahanan dan keamanan negara. Perlu dicatat, bahwa industri pertahanan dan keamanan ini sudah dikembangkan pada masa awal Islam.

Pada masa Nabi, pedang, tombak, panah, perisai, manjaniq (pelontar batu) dan dababah (sejenis tank yang terbuat dari kulit) adalah alutsista negara pada waktu itu. Alutsista ini sudah digunakan kaum Muslim pada jamannya, mereka bahkan bisa memproduksinya sendiri, dengan bahan baku yang tersedia. Pada jaman Harun ar-Rasyid, Khalifah Abbasiyyah, sudah diciptakan jam sebagai penunjuk waktu. Ketika Charlement, Raja Eropa saat itu, mendapat hadiah darinya, kemudian jam itu berdetak lalu mengeluarkan bunyi, permaisuri Raja saat itu mengira jam tersebut dihuni banyak jin Efrit.

Pada jaman Sultan Muhammad al-Fatih, Khilafah Utsmaniyyah, dia membiayai ilmuan penemu alutsista untuk mengembangkan penemuannya, yang semula diajukan kepada Raja Eropa, tetapi tidak direspons. Dia pun berhasil membuat meriam raksasa yang beratnya 700 ton, dengan berat mesiu 12.000 rithl, ditarik oleh 100 kerbau dan dibantu 100 orang yang gagah perkasa. Jauh lontarannya sejauh 1 mil, dengan kedalaman 6 kaki. Suara ledakannya terdengar dari jarak 13 mil. Meriam ini telah digunakan untuk menghancurkan tembok Konstantinopel, ketika ditaklukkan oleh sang Sultan. Ini merupakan gambaran nyata tentang bagaimana politik industri Islam. Politik yang didasarkan pada industri pertahanan dan keamanan (as-shinâ’ah al-harbiyyah). (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...