Potensi Talas Beneng Banten Untuk Menjamin Ketahanan Pangan Nasional

Pangan lokal adalah pangan yang dihasilakan dari satu daerah. Potensi pangan lokal di Indonesia sangat beragam. Setiap daerah memiliki topografi, iklim serta budaya yang berbeda-beda sehingga tanaman yang tumbuhpun beragam. Tanaman yang tumbuh identik di daerah tersebut, jika berupa tanaman yang dapat diolah menjadi pangan dapat dikatakan sebagai pangan lokal.

Pangan lokal di setiap daerah memiliki karakter dan jenis yang berbeda-beda seperti  di daerah Banten. Potensi pangan lokal di Banten sangatlah tinggi dilihat dari keanekaragaman pangan lokal yang dihasilkan. Pangan lokal di Banten yang sedang digencarkan potensinya yaitu Talas Beneng.

Talas Beneng merupakan salah satu bio-diversitas lokal yang banyak tumbuh secara liar di sekitar kawasan Gunung Karang Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Talas Beneng mempunyai ukuran yang besar dengan kadar protein dan karbohidrat tinggi serta warna kuning yang menarik sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi aneka produk pangan dalam upaya menunjang  ketahanan pangan (BPTP Provinsi Banten, 2012).

Tanaman Talas Beneng atau yang lebih sering disebut sebagai talas besar dan koneng ini memiliki umbi yang bisa mencapai berat hingga 20 kg dalam kurun waktu 2 tahun penanaman. Umbi dengan nama lain xantoshoma undipes k. Koch, ini mempunyai kandungan nutrisi yang cukup bagus, meliputi kandungan protein 2,01%, karbohidrat 18,30%, lemak 0,27%, pati 15,21% dan kalori sebesar 83,7% kkal. Selain itu, umbi Talas beneng juga memiliki kandungan asam oksalat yang cukup tinggi.

Dengan kandungan gizi yang cukup tinggi ini, maka tak heran bila bahan pangan dari umbi-umbian ini memiliki potensi yang cukup besar untuk diangkat sebagai bahan lokal subtitusi beras dan tepung terigu. Potensi Talas Beneng yang dapat dijadikan sebagai subsitusi beras dengan tepung terigu karena kandungan kabohidrat pada Talas Beneng yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai subsitusi beras dan tepung terigu.

Cara mensubsitusi Talas Beneng salah satunya dengan menjadikannya sebagi tepung. Tepung Talas Beneng dapat dijadikan sebagai subsitusi dalam pembuatan makanan berbahan dasar tepung terigu, sehingga dapat mengurangi jumlah konsumsi tepung terigu di Indonesia.

Jumlah konsumsi tepung terigu di Indonesia saat ini sangat tinggi. Di tahun 2019 ini data konsumsi tepung terigu berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencapai 36.467 ton sepanjang Januari sampai Juni 2019. Angka tersebut mengalami kenaikan dari priode yang sama tahun lalu.

Sedangkan data impor tepung terigu pada priode Januari sampai Juni tahun 2018 hanya mencapai angka 31.905 ton. Hal ini telah diprediksi oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) Ratna Sari Loppies. Menurutnya pertumbuhan konsumsi pada tahun 2019, salah satunya akan didorong oleh momentum pemilihan umum presiden dan legislatif. Hal itu membuat pertumbuhan konsumsi tepung terigu dapat mencapai 6% pada 2019, atau naik dari proyeksi pertumbuhan tahun ini sebesar 5% (DP, 2018).

Hingga akhir tahun, konsumsi domestik komoditas itu akan menembus 8 juta metrik ton, atau naik dari dari capaian 2017 sebesar 7,9 juta metrik ton. (Dp, 2018), sehingga harus mengandalkan impor gandum dari negara Australia dan Ukraina. Tercatat pada tahun 2018 impor gandum dari Ukraina mengalami kenaikan dari 1,98 juta ton pada tahun 2017 menjadi 2,41 juta ton di tahun 2018.

Jika kita paham tentang potensi lokal seperti Talas Beneng ini tentu kita dapat mengurangi jumlah impor dan bergantung pada negara lain. Saat ini pemerintah Provinsi Banten sedang menggencarkan gerakan pangan lokal. Badan ketahanan pangan Kementrian Pertanian melalui kegiatan pengembangan pangan lokal (P3L) dapat mendukung pemantapan ketahanan pangan nasional. Gerakan ini akan efektif apabila ketersediaan keanekaragaman bahan pangan diikuti dengan pengembangan usaha pangan lokal.

Pangan lokal memegang peranan penting dalam ketahan pangan di setiap daerah di Indonesia, karena pangan lokal dapat tumbuh subur dan mudah dibudidayakan sehingga dapat dengan mudah ditemukan di wilayahanya.

 

Ahmad Mujaki Diwan – Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, UNTIRTA

You might also like
Comments
Loading...