Piknik Buku, Cara Seru Berinteraksi Dengan Buku

Cilegon (16/06/2019), Satubanten.com – Di salah satu saung wilayah Joging Track Krakatau Cilegon, sekelompok pemuda tampak berkerumun. Mereka menggelar banyak sekali buku dari buku cerita bergambar ala anak-anak sampai buku cerpen dan novel remaja. Genrenya bisa macam-macam, dari mulai roman, fiksi atau non fiksi, dari yang bermuatan humor hingga yang berbau politik dan filsafat.

Awalnya hanya mereka saja, semakin siang, semakin banyak orang yang mampir dengan anak-anak mereka. Memilih buku, lalu membacakannya untuk anak-anaknya. Ada juga beberapa pemuda yang mampir, melihat-lihat dan mengambil beberapa buku. Kebanyakn buku yang mereka pilih tak habis dibaca sekali duduk, oelh karena itu banyak yang hanya membaca sekilas lalu.

Piknik Buku yang dilakukan pada Minggu (16/06) tersebut tergolong ramai. Banyak yang hadir dan bergabung baik dari komunitas maupun pengunjung joging track. Magda, salah satu anggota komunitas membenarkan hal tersebut.

“Kayaknya ini Piknik Bukunya rame, nggak kayak biasanya. Apa karena lama nggak pada piknik jadi pada kangen kali ya?” tuturnya.

Agenda Piknik Buku yang sedianya dilakukan setiap Minggu pagi tersebut memang sempat vakum, terutama saat bulan puasa. Ditambah lagi beberapa anggota komunitas sudah beralih status dan mulai membangun keluarga. Sebagian ikut suami dan sebagian lagi pindah wilayah kerja, menjadikan komunitas ini kadang rela tidak melapak.

Piknik Buku memang suatu acara yang santai dan fun. Selain membaca, diskusi apa saja bisa dimulai dari pertemuan yang dilakukan saat melapak. Obrolannya bisa seputar buku baru apa yang bagu, siapa punya buku apa, sampai obrolan receh gosip siapa sedang mendekati siapa di komunitas. Intinya adalah mendekatkan buku kepada masyarakat terutama anak-anak.

Bagi pegiat piknik, Buku memang disikapi sebagai teman bermain dan bercengkerama. Bukan sebagaimana kita melihat buku di perpustakaan, yang megah tapi tak terjamah. Ia tak melulu produk intelektualitas yang rigid dan kaku, kadang berisi humor nan reflektif. Buku-buku cerita anak-anak justeru lebih sipel lagi, hanya berisi gambar dan minim teks.

Awalnya gerakan Piknik Buku ini dinisiasi oleh Rumah Buku Cilegon. Lambat laut, komunitas lain mulai terbentuk dan ikut bergabung meramaikan acara Piknik Buku ini. Sebut saja misalnya Komunitas Semestarian, Komunitas Hibah Buku. Bahkan dalam agenda piknik Buku Minggu (16/06) pagi tersebut beberapa pemilik Taman Baca Masyarakat juga ikut hadir. Misalnya Amar yang juga mengemnbangkan Taman Baca Al Hadi, Mardi dan Istrinya yang mengembangkan Taman Baca Lentera Surosowan, juga ada pegiat literasi lainnya seperti Kak Eli, Kak Anazkia dan Kak Tati.

Bagi masyarakat yang jenuh dengan rutinitas berbelanja di CFD, Piknik Buku bisa menjadi pilihan menarik untuk berinteraksi lebih dekat dengan dunia Literasi. Karena pada intinya, Piknik Buku adalah upaya untuk mendongkrak kedekatan masyarakat dengan buku-buku, dunia aksara dan dunia literasi.

Dulu Indonesia pernah berada di posisi kedua terakhir dari 63 negara dalam hal literasi. Sejak saat itu berbagai elemen masyarakat mulai tergerak untuk mengembangkan TBM. Kini Kemekdikbud mengatakan bahwa angka jumlah penduduk yang sudah berhasil diberaksarakan mencapai 97,932%. Artinya tinggal 2,068% (3,474 juta orang) lagi yang perlu diupayakan bebas dari buta aksara.

Angka Buta Huruf memang menjadi fikus utama kerja pemerintah. Pada tahun 2016 lalu, di Provinsi Banten sendiri ada 33.500 orang yang masih mengalami buta aksara. Angka tersebut berkurang berkat upaya dari pemerintah bersama komunitas dan pihak terkait. Saat diwawancarai dalam acara Akhmad Zubaidillah yang pada tahun 2018 masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa masih ada 500 orang yang mengalami buta huruf di Kota Serang.

Dengan adanya data-data tersebut, acara semacam Piknik Buku semestinya menjadi alternatif cara untuk memberantas angka buta huruf dan melek literasi. Jika kebiasaan membaca dan akrab dengan buku sudah dimulai sejak dini, di usia dewasa angka melek huruf dan literasi khususnya di Peovinsi Banten dapat meningkat dan angka buta huruf bisa teratasi.

Bagian menarik lain dari Piknik Buku adalah acara piknik itu sendiri, yakni dengan duduk santai dan ngobrol bersama ditemani makanan dari siapa saja. “Piknik Buku itu harus diakhiri dengan piknik beneran, kalau tidak demikian buat apa dinamai piknik?” kata Ijal salah satu pegiat Piknik Buku. Karena memang belajar harus tetap menyenangkan dan mencerdaskan. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...