Perubahan Lingkungan Akibat Covid-19

Oleh :

Nurhana Wiandini

Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

OPINI – Kehidupan bumi saat ini tidak lagi seperti biasanya. Hal-hal yang dianggap remeh menjadi krusial dilakukan untuk melindungi diri dari musuh tak kasatmata. Bukan lagi dijajah oleh musuh bernaluri serakah, melainkan sebuah virus yang mengacaukan sistem kehidupan manusia secara fisik dikenal dengan nama Covid-19. Virus ini merupakan virus baru yang ditemukan pertama kali di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Meskipun belum diketahui secara pasti asal dan perantara penularannya kepada manusia, proses transfer virus Covid-19 kepada sesama manusia ini sudah ditetapkan.

WHO (2020) mengonfirmasi bahwa proses penularan berlangsung cepat melalui droplet (tetesan) dari batuk, bersin, dan berbicara. Jalan masuknya virus ini melalui mulut, hidung, dan mata yang menyerang saluran pernafasan. Adapun gejala yang dirasakan mirip dengan gejala flu pada umumnya yaitu demam, menggigil, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, kelelahan, mual, muntah dan diare (Hwang et al., 2020). Gejala yang lebih berat seperti gagal napas, sindrom gangguan pernapasan akut, cedera jantung dan bahkan kematian (Holahue, 2020).

Upaya 3M seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan merupakan cara sederhana namun krusial dilakukan di tengah pandemi yang menyerang kehidupan manusia secara global. Belum ditemukannya vaksin yang efektif dalam menghadapi Covid-19, menyebabkan new normal diberlakukan sebagai kebiasaan baru dalam kehidupan manusia oleh WHO (2020) segera setelah Covid-19 dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. Selain itu, sempat lumpuhnya berbagai aspek kehidupan akibat pembatasan diberlakukan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Indonesia dan kebijakan karantina wilayah (lockdown) di seluruh negara. Work From Home dan Study From Home mau tidak mau dilakukan oleh seluruh masyarakat dunia. Pada 7 April 2020, World Economic Forum mengungkapkan bahwa kurang lebih 3 miliar orang dihadapkan oleh PSBB dan Lockdown (WEF, 2020).

Akibat pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembatasan berlaku bagi kehidupan fisik manusia menyebabkan terjadinya dampak positif maupun negatif pada lingkungan. Perubahan kualitas udara, air dan kebisingan yang meningkat terjadi seiring pandemi melanda juga berkurangnya emisi gas rumah kaca global. Sebaliknya, dampak negatif yang ditimbulkan dari pandemi bagi lingkungan adalah meningkatnya limbah medis, penggunaan dan pembuangan desinfektan yang sembarangan serta beban limbah APD yang tidak diolah menyebabkan kerusakan dan membahayakan lingkungan.

Covid-19 adalah masalah baru yang menjadi awal perubahan kehidupan manusia. Pembatasan yang berlaku guna mencegah penularan virus ini berdampak bagi lingkungan. Fenomena-fenomena yang lama tak terlihat akhirnya dapat dirasakan sebagai dampak positif dari pandemi bagi lingkungan. Dampak positif yang diperoleh lingkungan secara global di beberapa negara akibat Covid-19 yaitu meningkatnya kualitas udara yang terlihat lebih bersih, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatnya kualitas air dan kebisingan serta perbaikan ekologis tempat wisata karena karantina yang dilakukan mengupayakan agar masyarakat tetap berada dalam rumah guna mencegah penularan virus corona. Hal ini tentu menjadi kabar baik di kala pandemi karena bumi memiliki lebih banyak kesempatan untuk pulih dari hiruk pikuk kegiatan manusia yang merusak. Dibalik kata positif selalu ada kata negatif yang mengiringi. Selain dampak positif terdapat pula dampak negatif yang terjadi akibat pandemi yaitu meningkatnya limbah biomedis yang merusak lingkungan, penggunaan desinfektan yang berlebihan dan pembuangannya sembarangan, serta beban dari limbah tersebut yang tidak diolah dapat membahayakan lingkungan.

Perubahan positif lingkungan oleh Covid-19 salah satunya adalah kualitas udara yang membaik. Hal ini terjadi secara global hampir di seluruh negara di dunia. Pengurangan polusi udara dan emisi gas rumah kaca terjadi akibat aspek kegiatan kehidupan manusia dibatasi seperti industri, transportasi, dan perusahaan ditutup. Berlakunya WFH (Work From Home) menjadikan sebagian besar masyarakat tetap berada di rumah sehingga kendaraan bermotor tidak digunakan. Akibatnya tingkat konsumsi bahan bakar seperti batu bara juga menurun sebanyak 36% di China yang merupakan konsumen batubara tertinggi di dunia. Hal ini berdampak pada kualitas udara karena polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan bermotor menjadi berkurang. Pada hari sebelum pandemi melanda, sebanyak 80% gas NO diemisikan dari pembakaran bahan bakar fosil kendaraan bermotor (USEPA, 2016). New York mengalami pengurangan polusi udara sampai 50% selama pandemi (Henriques, 2020). China juga mengalami pengurangan emisi N2O dan CO sebanyak 50% akibat penutupan industri (Caine, 2020).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tim BMKG (2020), kualitas udara Jakarta pada tahun 2020 saat pandemi mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2019. Dalam metode grafik digambarkan tingkat konsentrasi polutan udara yang disebut PM10 menurun pada Maret 2020 dibandingkan dengan Maret 2019. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan WFH yang berlaku di Jakarta.

Selain memperbaiki kualitas udara dan berkurangnya emisi gas rumah kaca, perubahan yang dirasakan lingkungan akibat Covid-19 adalah kualitas air yang juga membaik. Diberlakukannya karantina wilayah menyebabkan tempat wisata perairan ditutup sehingga kualitas air disekitar nya menjadi lebih baik. Di India, selama pandemi kualitas sungai Gangga mengalami penurunan jumlah penduduk yang melakukan kegiatan di sungai tersebut sebesar 500% menyebabkan kualitas air sungai Gangga membaik. Grand Canal of Italy menjadi lebih bersih dan mulai muncul spesies-spesies air diperairan tersebut karena dilakukan penutupan tempat wisata (Clifford, 2020). Selain itu, berkurangnya kegiatan ekspor-impor dan PSBB menjadikan kegiatan pelayaran berkurang secara global sehingga mengurangi emisi dan pencemaran air laut akibat bahan bakar kapal. Oleh karenanya, ekosistem perairan menjadi lebih baik dan pulih.

Selain perubahan positif, terdapat perubahan negatif terhadap lingkungan selama pandemi yaitu meningkatnya limbah medis dan tidak mampunya pengelolaan terhadap limbah medis. Pandemi Covid-19 mengharuskan seluruh masyarakat dunia menerapkan protokol kesehatan meliputi mengenakan masker, desinfektan, sarung tangan dan keperluan medis lainnya dalam mengobati pasien Covid-19. Akibatnya, limbah medis terus meningkat dan tertimbun karena tidak adanya kemampuan dan kesadaran masyarakat untuk mengelola limbah tersebut. Sehingga rentan terhadap pencemaran lingkungan dan membahayakan masyarakat sendiri berupa penularan penyakit. Wuhan, China menyumbangkan lebih dari 240 metrik ton limbah medis tiap harinya. Ini 190 juta lebih tinggi dari sebelumnya (Saadat et al., 2020). Di ASEAN seperti Manila, Kuala Lumpur, Hanoi dan Bangkok mengalami peningkatan limbah medis sebesar 154 – 280 juta ton .

Akibat kegiatan terus berlangsung dari rumah, menyebabkan limbah sampah plastik rumah tangga pun meningkat. Daur ulang yang seharusnya menjadi langkah efektif dalam mengurangi limbah sampah menjadi tertunda selama pandemi. Hal ini dilakukan guna mencegah penularan virus Covid-19. Di Amerika Serikat, pembatasan langkah daur ulang sampah sebesar 46% menyebabkan limbah sampah plastik terus meningkat dan mencemari lingkungan (Somani, 2020). Penimbunan sampah dan pencemaran lingkungan meningkat secara global di seluruh dunia. Perlunya strategi dalam menangani permasalahan dampak negatif bagi lingkungan akibat pandemi. Pun dengan dampak positif yang dirasakan lingkungan juga manusia selama pandemi tidak akan bertahan lama jika kehidupan kembali normal dan pandemi usai. Program atau langkah yang tepat saat pandemi perlu dilakukan keberlanjutannya agar lingkungan tetap terjaga dan sehat.

Menurut Rume dan Islam (2020), strategi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan yaitu penggunaan energi terbarukan dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang merusak lingkungan. Dengan energi terbarukan seperti air, angin, panas bumi, dan matahari dapat menjadi langkah tepat mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu perlunya pengelolaan air limbah sebelum dibuang harus dilakukan agar tidak terjadi pencemaran air. kerja sama internasional perlu dilakukan agar tercapainya tujuan lingkungan berkelanjutan dan perlindungan sumber daya lingkungan secara global. Hal ini menuntut otoritas internasional seperti UN Environment menjadi pelopor penting menciptakan kebijakan global yang efektif untuk mengoordinasikan para pemimpin negara mengimplementasikan kebijakan terhadap lingkungan dengan tepat.

Sebagai manusia yang menginginkan hidup sehat dengan lingkungan yang sehat pula, maka perlu dilakukan upaya-upaya guna melestarikan lingkungan secara keberlanjutan. Hal ini sangat penting bagi anak cucu di kehidupan generasi selanjutnya. Tidak hanya saat pandemi keadaan

lingkungan seperti kualitas air dan udara membaik, namun setelah pandemi usai diharapkan keberlanjutannya tetap dirasakan. Mulai dari menggunakan kendaraan yang hijau atau ramah lingkungan juga menyehatkan seperti sepeda. Hal ini dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan beralih kepada transportasi massal dan berdampak kepada kualitas udara yang meningkat dan menyehatkan bagi tubuh. Sadar 3R (Recycle, Reduce, Reuse) terhadap penanggulangan sampah adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai upaya memperbaiki lingkungan. Daur ulang, pengurangan sampah plastik dan penggunaan kembali sampah yang masih dapat digunakan menjadi langkah dasar untuk memperbaiki lingkungan yang berdampak pada kualitas tanah. Langkah kecil dan awal terhadap perlakuan sampah yaitu dengan memilah sampah berdasarkan jenisnya organik atau anorganik. Kesadaran tersebut perlu ditekankan kepada masyarakat sampai menjadi kebiasaan hidup yang baik dan mendarah daging. Dengan begitu dapat terciptanya lingkungan yang sehat dan baik.

Permasalahan APD (Alat Pelindung Diri) selama pandemi sebagai limbah yang terus meningkat perlu edukasi lebih lanjut untuk menjelaskan bahwa sampah medis dan rumah tangga tidak boleh disatukan dan ditimbun karena membahayakan lingkungan dan manusia sebagai langkah penyebaran virus. Oleh karenanya, saat pandemi ini telah ditekankan bahwa masyarakat yang bukan tenaga medis sebaiknya menggunakan masker kain yang dapat dicuci dan digunakan kembali. Hal itu termasuk dalam langkah 3R (Reduce dan Reuse). Dampaknya limbah medis yang telah tinggi dari penggunaan tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19 tidak bertambah lebih tinggi lagi oleh penggunaan masker medis oleh masyarakat. Juga untuk menjaga keberlanjutan pelestarian lingkungan yaitu dengan memberlakukan kebiasaan keseharian menghemat energi seperti cabut perangkat listrik bila tidak digunakan, membuang limbah organik sebagai pupuk tanaman, gunakan sepeda atau berjalan kaki untuk jarak yang dekat dan transportasi umum untuk jarak yang jauh. Hal ini dilakukan guna membiasakan pemakaian energi atau sumber daya yang optimal.

Meskipun dunia dilanda pandemi yang menimbulkan banyak kekhawatiran, terdapat dampak positif yang baik lingkungan terhadap kehidupan manusia. Di tengah keterbatasan yang berlaku tetap tidak mengurangi semangat kita selaku penduduk bumi untuk melestarikan lingkungan dan menghentikan penularan virus Covid-19. Setelahnya pandemi usai, diharapkan keberlanjutan pelestarian lingkungan dilakukan dengan menerapkan kebiasaan hidup yang sehat dan manfaat seperti penjelasan paragraf sebelumnya. Memiliki dua sisi yaitu positif dan negatif menjadikan dampak perubahan lingkungan akibat Covid-19 perlu hadapi segan bijak. Pelestarian lingkungan sangat penting sebab dampaknya untuk diri pribadi karena yang merasakannya bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Kesimpulan
Perubahan keadaan lingkungan dirasakan bumi selama pandemi. Sisi positifnya yaitu meningkatnya kualitas udara, kualitas air, mengurangi emisi gas rumah kaca, mengurangi polusi suara dan mengembalikan keseimbangan ekologis karena karantina yang diberlakukan. Negatifnya adalah meningkatnya limbah medis seperti APD masker, sarung tangan, penggunaan dan pembuangan desinfektan sembarangan, tidak adanya pengelolaan limbah medis yang benar, dan pembatasan kegiatan daur ulang sampah sebagai pencegahan penularan virus corona yang menyebabkan timbunan sampah merusak lingkungan. Kedua sisinya perlu diperlakukan dengan bijak melalui strategi optimal agar pelestarian lingkungan tetap terjaga dan Covid-19 segera usai. (***)

You might also like
Comments
Loading...