Perseteruan Pilkada Tangsel Lanjut ke MK

Ciputat, satubanten.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan berujung sengketa ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sebab, salah satu pasangan sedang dalam proses menggugat seusai penghitungan rekapitulasi suara dirampungkan pada 16-17 Desember 2020 lalu.

Tim Pemenangan pasangan calon Muhamad-Saraswati mengambil sikap untuk tidak menandatangani hasil rekapitulasi perhitungan suara. Saat itu, hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa pasangan calon nomor urut 01 tersebut kalah, dengan selisih suara hingga 5,3 persen dari Benyamin-Pilar.

Gugatan sengketa pilkada tersebut telah dilayangkan oleh tim kuasa hukum Muhamad-Saras, Senin (21/12/2020) lalu.

Plt Ketua KPU Tangsel M Taufik MZ mengatakan, sebagai pihak termohon, tentu KPU sangat menghargai dan menghormati setiap langkah konstitusional yang ditempuh peserta. Seluruh keputusan pun akan diserahkan sepenuhnya ke MK. Namun yang jelas, hasil rekapitulasi yang telah dirampungkan tak akan berubah.

“Saya jamin untuk suara pasangan 01,02,03 dari dari mulai tingkat TPS sampai rekapitulasi di tingkat kota Tangsel tidak berubah satu suara pun, kami jamin,” ujar Taufik, Kamis (24/12/2020).

Sebab, gugatan yang dimohonkan oleh paslon Muhamad-Rahayu bukan perkara penghitungan suara.

“Mereka (penggugat) bukan memohonkan soal perselisihan suara atau perhitungan suara. Jadi apapun persoalan dan keputusan dari MK, kita akan hormati dan menghargai,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari laman mkri.id, permasalahan yang diajukan pemohon dalam permohonan sengketa Pilkada Kota Tangsel mayoritas adalah terkait terjadinya pelanggaran terstruktur, sistematis, dan massif (TSM), diantaranya :

1. Penyaluran dana Baznas digunakan sebagai alat untuk pemenangan Palson (petahana).
2. Pengerahan ASN dalam upaya memenangkan Paslon (petahana).
3. Termohon/Penyelenggara terlibat langsung dalam pemenangan Paslon (petahana).
4. Money politik yang dilakukan oleh tim kampanye/pendukung pasangan (petahana).

Atas dasar itu, dalam petitumnya, pemohon meminta membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang Selatan Nomor: 470/HK.03.1-Kpt/3674/KPU-Kot/XVII/2020 tentang penetapan rekapitulasi hasil penghitungan suara. (Ero/SBS)

You might also like
Comments
Loading...