Peristiwa Postkolonial Dan Perubahan Kehidupan Masyarakat Indonesia

Oleh :

Muhamad Fadli

Presiden Mahasiswa Untirta 2018

OPINI (27/01/2019) SatuBanten News – Pendidikan adalah modal awal seorang insan manusia untuk menjadikan dirinya bermartabat dan menjadi pencarian yang lebih mulia untuk kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT. Jika kita menarik latar belakang pendidikan di Indonesia ketika masa transisi sejak era revolusi dari penjajah. Pendidikan digunakan sebagai penanaman nilai nasionalisme dan menjadikan kehidupan bernegara sebagai tujuan utama dalam pendidikan. Dalam pemahaman yang diolah sedemikian rupa, pendidikan akan melahirkan manusia Indonesia yang cinta tanah air dan berkepribadian sesuai dengan identitas nasional yang sopan dan berbudi pekerti yang tinggi. Seiring berjalannya waktu, pendidikan mencari bentuk yang tepat sebagai pemahaman manusia Indonesia untuk terus menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pascakolonial, Indonesia membangun sendiri nasibnya dengan tidak berpangku tangan terhadap Belanda dan Jepang yang telah menjadikan Bangsa Indonesia “Inlander” oleh belanda dan perlakuan “Romusha”  oleh orang jepang.

Mengingat kembali sejarah pada masa revolusi Indonesia, kata “merdeka” telah membius para pejuang di medan pertempuaran. Air mata, darah bercucuran, cacat seumur hidup bahkan pekikan merdeka atau mati menghiasi perjuangan itu dan terdengar seantero Nusantara, mensugesti seluruh rakyat Indonesia. Senasib dan sependeritaan membuat pemuda-pemudi Indonesia bergerak, melawan penindasan dan mencoba mengusir Penjajah.

Pascakemerdekaan, setelah dibacakannya naskah proklamasi oleh bung karno, Indonesia memulai kembali harapan, memiliki cta-cita, membangun kembali nasibnya sendiri, merumuskan dasar negara dan memperbaiki taraf hidup rakyat Indonesia. Membangun ekonomi, aktif dalam forum-forum Internasional, Indonesia kini bukan lagi menjadi budak dari tuan penjajah. Membangun poros baru dan memperkenalkan pada dunia bahwa Indenesia memiliki wajah baru dan semangat baru.

Bung karno dalam bukunya “Penjambung Lidah Rakjat” yang ditulis oleh Cindy Adams menuturkan bahwa beliau keliling dunia untuk memperkenalkan Bangsa Indonesia, dan Indonesia bukan hanya tentang bung karno semata tapi lebih dari itu. Sikap ramah tamah, gigih, semangat perjuangan sikap itulah yang kini ada dalam kepribadian rakyat Indonesia. Dituliskannya juga, buta aksara yang ditinggalkan oleh jepang terhadap Indnoesia kini meluai menurun, pendidikan mulai digencarkan untuk memperkecil buta aksara, lebih jauh lagi pendidikan dijadikan untuk membangun bangsa Indonesia untuk melahirkan penerus bangsa yang berpengetahuan dan bermental kuat.

Mari Kita lihat sejenak perkembangan pendidikan pascakolonial sampai saat ini. Pendidikan mencari bentuk terbaik dari sebuah dinamisasi zaman. Adanya sebuah westernisasi membuat pendidikan Indonesia kembali ditantang untuk tetap menjadi jati dirinya ditengah arus globalisasi yang kian hari kian merenggut sikap dan pribadi Bangsa Indonesia yang terlihat pada sikap pribadi masyarakat Indonesia. Rasa kagum pada dunia barat membuat Indonesia mudah sekali terpengaruh oleh budaya yang masuk dan menegasikan (meniadakan) bentuk dari budaya dan karakter pada diri Indonesia itu sendiri.

Kekhawatiran yang timbul membuat para Descision Maker dan para ahli pendidikan kembali mengkampanyekan tentang pentingya budaya dan karakter Indonesia agar memegang sikap kebersamaan yang tertuang dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Pengaruh teknologi membuat orang tua tergantikan perannya oleh televisi dan media elektronik lainnya. Ini membuat perubahan masyarakat Indonesia yang pada awalnya bersifat gotong royong menjadi sifat individualisme. Koentjaraningrat dalam bukunya “kebudayaan, mentalitas dan pembangunan” menuturkan bahwa pada masa lampau sifat dan sikap kebersamaan telah melekat dalam diri masyarakat Indonesia dengan bergotong royong, mau menolong tanpa imbalan dan melakukan pekerjaan dengan timbal jasa membantu kembali pekerjaan yang diminta.

Kehidupan bernegara pada hari ini terlalu memandang stereotip seseorang. Adanya pelabelan dan perbedaan mendasar dari segi kelompok membuat Indonesia kini makin bertambah dewasa dengan segala perbedaan dari mulai, suku, ras, kelompok, etnis dan lain sebagainya. Disinilah peran serta pendidikan dicoba outputnya, adanya pribadi berintegritas yang dihasilkan bahkan menjadi pribadi yang berkarakter dan jujur serta memiliki empati yang tinggi.

Mengaitkan antara kejadian pascakolonial adalah sebuah bentuk kekhawatiran penulis bagaimana semangat kemandirian dan kemerdekaan akan jauh dari cita-cita kita bersama. kesenjangan makin jauh, ketimpangan si miskin dan si kaya. Kemerdekaan itu sebuah keniscayaan dan pemerataan taraf pendidikan semakin jauh.  Pascakolonial dijadikan perebutan pengaruh antar kelompok sampai pada indivudualnya karena memang kelompok-kelompok ingin memberikan yang terbaik untuk bangsanya.

Jika memang kemandirian dan kemerdekaan itu kita bebas mengelaborasi apa yang menjadi tujaun dan cita-cita bersama. Kita harus memiliki sikap dan tujuan bersama yang substansial, perbaikan ekonomi, politik, pendidikan dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang terciptanya kedamaian abadi dan keadilan sosial. Semangat revolusi itu harus kita perkuat hari ini, adanya reformasi memang menghentak kita semua. Kebebasan dan demokrasi menjadi produk yang lahir pada masa tersebut, tapi kebebasan ini belum kita optimalkan dan belum bisa merubah keadaan bangsa Indonesia.

Penulis ingin Indonesia bebas dari krisis eksistensial dimana krisis ini mencakup krisis dimensi intelektual, spiritual, dan sosial. Perbaikan mendasar  tentu di bidang pendidikan dan bekerja secara simultan oleh semua elemen pemegang kebijakan dan masyarakat agar Indonesia melahirkan pemimpin-pemimpin yang berintegritas dan  terhindar dari  krisis keteladanan yang membuat Indonesia akan mengalami krisis persatuan di tengah masyarakat. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...