Peringati HUT ke 74 RI, Mapala Krakatau Gelar Lomba Lintas Alam Dengan Pesan Bersihkan Laut dari Sampah Plastik

Serang (2/09/2019), Satubanten.com – Dalam rangka memperingati HUT Ke-74 kemerdekaan Indonesia, Mahasiswa Pencinta Alam Krakatau Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Malapa Krakatau) menggelar Lomba Lintas Alam Tingkat Nasional. Lomba Lintas Alam tesebut merupakan kerja sama antara Mapala Krakatau dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Banten.

Acara dengan tema “Gema Merah Putih VIII” tersebut diikuti oleh 17 tim dari berbagai kelompok pecinta alam dari berbagai daerah, seperti Pandeglang, Bandung, Depok, hingga Lampung. Perlombaan tesebut berlangsung pada Jumat 30 Agustus hingga Minggu 1 September 2019 di Pulau Kalih, Bojonegara Kabupaten Serang.

Dalam lomba tesebut peserta menempuh rute perjalanan sepanjang 20 km. Berawal dari Pulau Kalih, Pulau Jawa, Pemukiman Sumur Ranja, Gunung Gede Bojonegara, Desa Pakuncen, Tebing Bocah Desa Pakuncen, Perbukitan Batu Lawang, Perbukitan Palm, hingga berakhir di Kampus FT Untirta.

Selain Lomba Lintas Alam, Mapala Krakatau juga menyajikan kegiatan lainnya seperti donor darah, gerakan zero sampah, dan penanaman 500 pohon untuk mewarnai kegiatan tersebut.

Abdul Ajiz (Marimo) selaku ketua pelakasana mengatakan bahwa Pulau Kalih yang berada di wilayah Bojonegara Kabupaten Serang ini dipilih menjadi tempat perlombaan lantaran banyak sampah yang bertumpuk di pulau ini. Selain itu, Pulau Kalih belum menjadi destinasi wisata tujuan dibandingkan beberapa pulau di sekitarnya.

“Sampah yang bertumpuk dan belum dijadikannya Pulau Kalih sebagai tempat wisata menjadi pertimbangan kami. Padahal, lokasi ini cukup potensial (untuk tempat wisata),” katanya.

Ajiz juga menerangkan bahwa sampah yang menumpuk di Pulau Kalih merupakan sampah kiriman dari laut, bukan dari sampah warga sekitar pulau maupun aktivitas di Pulau. Ia juga merasa prihatin lantaran Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut nomor dua setelah China.

“Dengan acara ini, kami turun tangan untuk menyisir sampah di Pulau Kalih,” imbuhnya.

Lomba ini, menurut Ajiz menghadirkan tiga aspek yang dapat menanggulangi permasalahan yang berkelanjutan di antaranya lingkungan, sosial, pemuda dan olahraga.

Ia berharap dengan diadakannya lomba ini Pulau Kalih bisa berkembang dengan adanya perbaikan pulau, penanggulangan sampah, dan lokasi bisa dijadikan tempat wisata.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jon dari Mapala Universitas Lampung (Unila). Ia berharap agar alam Banten tetap lestari melalui pembersihan sampah plastik di Pulau Kalih.

Selain banyaknya sampah, ia juga melihat sepanjang perjalanan menyusuri rute, menemukan banyak aktivitas penambangan bukit maupun reklamasi di sekitaran Bojonegara.

“Sayang alamnya kalo diambil terus, buminya kalo dikeruk, banyak kan bumi yang digusur-gusur gunung-gunung, kasihan itu,” tutup Jon.  (IBC/SBS032/RLS)

You might also like
Comments
Loading...